Beranda » Articles posted by prari007luck (Halaman 2)

Arsip Penulis: prari007luck

Berhitung

Ada orang yang beranggapan berhitung sama dengan Matematika. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya keliru karena hampir semua cabang matematika menggunakan berhitung. Cabang matematika berjumlah delapan puluh cabang besar dan selalu ada berhitung. Sebagai contoh dalam pelajaran geometri dan pengukuranpun diperlukan keterampilan tentang berhitung.

Munawir Yusuf, dkk, berhitung adalah salah satu cabang Matematika, ilmu hitung adalah suatu bahasa yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara berbagai proyek, kejadian, dan waktu. Sedangkan menurut Nurkhasanah dan Didik Turminto (2007:243), berhitung adalah mengerjakan hitungan (menjumlahkan, mengurangi, dan sebagainya). Menurut David Glover dalam Tatik Jarwani (2009:5)         In Aritmetic you add , subtract, multiply and divide numbers. You use arithmetic to find the ansers to problems and sums. See also addition ,and subtraction. Aritmatika atau berhitung berhubungan dengan menjumlah, mengurangi, mengali dan membagi bilangan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.

Pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa berhitung adalah salah satu cabang dari matematika yang mempelajari operasi penjumlahan, operasi pengurangan, operasi perkalian, dan operasi pembagian. Kemampuan berhitung adalah kemampuan yang memerlukan penalaran dan keterampilan aljabar termasuk operasi hitung. Kemampuan berhitung juga merupakan salah satu bagian dari kemampuan Matematika, sebab salah satu prasarat untuk belajar Metematika adalah belajar berhitung yang keduanya saling mendukung. Oleh karena itu, berhitung dan Matematika tidak dapat dipisahkan.

Kemampuan berhitung merupakan salah satu kemampuan yang penting dalam kehidupan sehari-hari, dapat dikatakan bahwa semua aktifitas kehidupan manusia memerlukan kemampuan ini. Kemampuan berhitung dapat diartikan pula sebagai kesanggupan untuk menguasai pengerjaan suatu hitungan baik berupa menjumlahkan, mengurangi, dan sebagainya. Kemampuan berhitung juga mengandung arti bahwa suatu hal yang dapat atau mencukupi untuk melakukan perhitungan. Kemampuan berhitung dapat dilihat secara langsung dalam pelaksanaan evaluasi yang dilaksanakan.

Menulis

Menulis dalam karya tulis ini sama dengan mengarang. Pernyataan ini sejalan dengan pendapat The Liang Gie bahwa, menulis merupakan padanan kata mengarang. Sinonim itu dipakai sebagai selang-seling untuk mencegah kesenadaan[1]. Menurut The Liang Gie menulis adalah keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang dalam mengungkapkan gagasan dan menyampaikan bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami dan dimengerti oleh orang lain.[2] Berdasarkan batasan itu dapat dipahami bahwa menulis merupakan rangkaian proses berupa kegiatan seseorang untuk mengungkapkan isi pikiran, perasaan, pendapat, sikap si penulis kepada siapa saja yang membaca tulisan itu, agar pembaca dapat memahami, mengerti apa yang dimaksud oleh penulis. Karena pembaca umumnya tidak langsung berhadapan dengan penulis, maka karangan itu haruslah ditata dengan baik, maksudnya bahwa gagasan itu diatur secara tertib, disusun secara rapi, diurutkan secara runtut, dan disajikan secara jelas. Suatu tulisan/karangan dapat dipahami oleh para pembaca dan gagasannya dapat dimengerti secara benar setelah mengikuti urutan tersebut.

Heaton (1989) mengungkapkan bahwa menulis adalah suatu kegiatan yang kompleks dan kadang-kadang sulit diajarkan. Menulis bukan hanya sekedar menguasai gramatikal dan retorika bahasa, akan tetapi juga harus menguasai unsur-unsur yang bersifat konseptual, dalam hal ini, ada lima kemampuan yang menentukan kualitas hasil tulisan, yaitu :

1)  Penggunaan bahasa (language use); yaitu kemampuan menulis kalimat dengan benar dan tepat.

2)  Kemampuan mekanik (mechanical skills); yaitu kemampuan menulis secara benar, ejaan dan tanda-tanda baca, seperti pungtuasi dan lain-lain

3)  Penetapan isi (treatment of content); yaitu kemampuan berpikir dan mengembangkan pola pikir secara kreatif.

4)  Kemampuan stilistik atau gaya bahasa (stylistic skills), yaitu kemampuan menyusun kalimat dan paragraf serta dapat menggunakan bahasa secara efektif.

5)  Kemampuan menetapkan atau menilai (judgement skills), yaitu kemampuan menulis sesuai tujuan, kondisi dan situasi.[3]

 

Lima kemampuan di atas dapat dijadikan pedoman atau acuan dalam menilai kemampuan menulis karangan.

Uraian di atas terlihat Heaton memperjelas pendapatnya bahwa menulis merupakan kegiatan yang sangat kompleks. Menulis bukan sekadar mengungkapkan ide dan perasaan dengan menggunakan kata-kata yang tepat serta susunan kalimat yang efektif, tetapi menulis membutuhkan berbagai kemampuan yang dapat menunjang keberhasilannya.

Berbeda dengan Heaton, Haffernan and Lincoln mengatakan, bahwa “Menulis adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan sendiri tanpa didukung oleh tekanan suara, nada, mimik, gerak-gerik komunikasi lisan.[4] Penulis bermain dengan kata-kata, kalimat, serta menggunakan pungtuasi untuk menyampaikan, melukiskan dan menyarankan sesuatu kepada orang lain. Penulis harus dapat memilih kata-kata yang tepat, menyusun kalimat yang benar dan logis serta runtut, sehingga maksud dan tujuannya benar-benar dapat dipahami pembaca.

H.G. Tarigan menyatakan bahwa menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dan merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif dengan menggunakan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata.[5] Dari keterangan ini ditekankan bahwa, menulis merupakan kegiatan yang produktif, sama dengan berbicara. Tetapi menulis merupakan komunikasi yang tidak langsung dengan menggunakan lambang-lambang bunyi atau grafologi. Penggunaan lambang-lambang bunyi atau tulisan ini harus mengikuti tatanan yang betul atau mengindahkan berbagai asas, aturan dan teknik yang berlaku. Selain itu penulis juga perlu memiliki perbendaharaan kata yang memadai dan memiliki keterampilan dalam menyusun kata-kata itu menjadi kalimat yang jelas. Jadi, dalam hal ini penulis perlu menguasai diksi, dan tata bahasa. Kemampuan ini dapat diperoleh melalui kegiatan membaca.

MC Crimmon menyatakan bahwa menulis adalah pekerjaan yang sukar, namun dalam menulis, penulis mempunyai kesempatan untuk menyampaikan sesuatu tentang dirinya, mengkomunikasikan ide-ide, bahkan dapat belajar sesuatu yang belum diketahuinya.[6] Pendapat ini sejalan dengan pendapat Cere, bahwa menulis merupakan bentuk ungkapan diri sendiri, apa yang ada dalam pikiran dituangkan dalam tulisan.[7] Kedua pendapat ini lebih menekankan pada ide atau gagasan yang muncul dari diri seseorang ketika akan menulis.

Pendapat-pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa menulis adalah kegiatan yang menbutuhkan proses yang cukup panjang untuk membinanya. Menulis merupakan suatu kemampuan yang harus dibina, dilatih secara serius baik oleh pengajar maupun oleh pembelajar.

Teori-teori tentang menulis yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa menulis adalah rangkaian kegiatan seseorang yang merupakan pengungkapan ide/gagasan, buah pikiran, pendapat, pengalaman, dengan menggunakan kata-kata yang tepat, disusun menjadi kalimat-kalimat yang jelas,dan paragraf yang padu dan ditulis dengan menggunakan ejaan yang disempurnakan (EYD) yang benar, sehingga dapat dipahami oleh orang lain/pembaca.


[1] The Liang Gie, Pengantar Dunia Karang-Mengarang, (Yogyakarta: Liberty, 1992), p.17

[2] Ibid.,p.18.

[3] J.B. Heaton, Writing English Language Test (London: Longman, 1989), p.135.

[4] James A. W. Hafferman and John E. Lincoln, Writing, a College Handbook, (New York: W. Norton and Company, Inc., 1990), p.37.

[5] H.G. Tarigan, Menulis sebagai Suatu Keterampilan

Berbahasa, (Bandung: Angkasa, 1986), pp.3-4.

[6] McCrimmon, Writing with a Purpose, (Boston: Houghton

Mifflin Company, 1984), p.6.

[7] Anne Roggles Cere, Writing and Learning (New York: Macmilan Publishing Company, 1985), p.4.

Membaca

Membaca merupakan proses memahami dan merekontruksikan makna yang terkandung dalam bahan bacaan. Pesan atau makna yang terkandung dalam teks bacaan merupakan interaksi timbal balik, interaksi aktif, dan interaksi dinamis antara pengetahuan dasar yang dimiliki pembaca dengan kalimat – kalimat, fakta, dan informasi yang tertuang dalam teks bacaan. Informasi yang terdapat dalam bacaan merupakan informasi yang kasat mata atau dapat disebut dengan sumber informasi visual. Pengetahuan dasar yang sebelumnya telah dimiliki pembaca merupakan informasi yang tersimpan dalam memori otak/pikiran pembaca atau dapat disebut dengan sumber informasi non visual. Kedua macam sumber informasi tersebut perlu dimiliki secara berimbang oleh pembaca. Artinya kemampuan mengenal informasi visual perlu diikuti dengan pengetahuan dasar yang diperlukan untuk memahami suatu teks bacaan. Demikian pula sebaliknya, pengetahuan dasar yang telah dimiliki perlu dilanjutkan dengan kemampuan memahami informasi visual yang ada pada teks bacaan. Kemampuan penunjang lain yang perlu dimiliki pembaca yaitu kemampuan menghubungkan gagasan yang dimiliki dengan materi bacaan. Kaitannya dengan pemahaman dan perekontruksian pesan atau makna yang terkandung dalam teks bacaan.

Membaca adalah proses aktif dari pikiran yang dilakukan melalui mata terhadap bacaan. Pembaca memproses informasi dari teks yang dibaca untuk memperoleh makna dalam kegiatan membaca. Bowman and Bowman, membaca merupakan sarana yang tepat untuk mempromosikan suatu pembelajaran sepanjang hayat (life-long learning).[1] Pemaknaan pendapat dari Bowman dan Bowman adalah membaca dikatagorikan sebagai sarana untuk mempromosikan pembelajaran sepanjang hayat yang memang sesuai dengan pembelajaran keaksaraan fungsional lanjutan. Prinsipnya adalah untuk membaca itu sendiri tidak terdapat batasan karena membaca merupakan suatu pembelajaran sepanjang hayat untuk memperoleh informasi.

Brougthon dalam Henri Guntur Tarigan berpendapat bahwa secara garis besar terdapat dua aspek penting dalam membaca, yaitu:

  1. Keterampilan yang bersifat mekanis yang dianggap berbeda pada urutan yang lebih rendah, yaitu yang mencakup pengenalan bentuk huruf, pengenalan unsur-unsur linguistik (fonem/grafem, kata, frase, pola klausa, kalimat dan lain-lain), pengenalan hubungan pola ejaan dan bunyi, serta kecepatan membaca yang bertaraf rendah.
  2. Keterampilan yang bersifat pemahaman yang dianggap pada urutan yang lebih tinggi, yaitu yang mencakup memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal), memahami signifikasi atau makna, evaluasi atau penilaian, dan kecepatan membaca yang fleksibel, yang disesuaikan dengan keadaan.

Keterampilan membaca memiliki beberapa kegiatan, diantaranya kegiatan membaca intensif dan kegiatan membaca ekstensif. Membaca intensif adalah kegiatan membaca yang memusatkan perhatian pada aspek bahasa seperti struktur, kosa kata, hubungan antara kata dalam konteks, ungkapan-ungkapan dan sebagainya.

Membaca ekstensif diartikan sebagai membaca secara individu yang dilakukan oleh warga belajar secara terpimpin, pelaksanaannya oleh tutor. Kegiatan warga belajar hanya dituntut untuk memahami isi bacaan secara garis besarnya secara cepat tanpa harus memperhatikan aspek-aspek bahasa secara rinci dalam bacaan.

Membaca merupakan suatu kegiatan berkomunikasi yang melibatkan dua orang, yakni penulis teks dan pembaca. Penulis teks dalam berkomunikasi diwakili oleh teks yang ditulisnya, yang berupa gagasan, ide, dan pesan yang ada pada benak penulis. Pembaca sebagai penerima pesan mencoba menginterpretasikan kembali ide-ide dalam teks. Sebab itu, pembaca bisa dikatakan sebagai upaya rekonstruksi makna pesan, ide, gagasan penulis oleh pembaca.

Membaca untuk memahami bacaan (reading comprehention) adalah suatu proses intelektual yang kompleks dan melibatkan sejumlah kemampuan, untuk mengolah tuturan tertulis atau bacaan yang dibacanya dalam rangka memahami bacaan itu. Definisi ini dapat dilihat bahwa pemahaman suatu bacaan melibatkan komponen-komponen kemampuan berpikir atau kegiatan intelektual dan sejumlah keterampilan. Kegiatan berpikir atau kegiatan intelektual dapat dikatakan bahwa ketepatan pemahaman yang diperoleh banyak sekali ditentukan oleh kemampuan mental atau intelegensi dalam berpikir untuk memahami. Disimpulkan bahwa makin tinggi intelegensi, makin tepat pemahamannya.

Keterampilan membaca dapat dijelaskan teorinya di bawah ini. Sejumlah keterampilan diterapkan untuk memahami suatu bacaan. Tokoh yang gigih mempertahankan ini ialah Wilian S. Gray. Beliau menekankan bahwa membaca tidak lain adalah kegiatan pembaca dalam menerapkan daya intelektualnya untuk sejumlah keterampilan mengolah tuturan tertulis itu. Beliau menjelaskan bahwa jenis-jenis keterampilan yang mendasar ialah keterampilan mengenal kata, keterampilan memahami isi tersurat, tersirat, dan tersurat. Isi tersurat antara lain mencakup apa yang tertulis dalam tuturan tertulis. Isi tersirat mencakup antara lain menangkap ide pokok paragraf atau bacaan, dan isi tersurat mencakup antara lain menilai dan menentukan isi bacaan.

Banyak ahli menjelaskan hal yang berbeda-beda tentang keterampilan dasar yang perlu dikuasai untuk memahami bacaan. Smith membagi keterampilan-keterampilan pemahaman bacaan atas empat kategori, yaitu:

1)         Keterampilan memahami secara literal.

2)         Keterampilan menginterpretasi.

3)         Keterampilan menilai secara kritis.

4)         Keterampilan memahami secara kreatif

Keterampilan memahami bacaan secara literal mengandung keterampilan menggunakan informasi secara eksplisit yang dipakai pada tingkat proses berpikir yang rendah. Jawaban-jawaban atas pertanyaan literal merupakan jawaban berdasarkan apa yang diingat dari teks bacaan.

Kategori interpretatif mengandung keterampilan memecahkan masalah (problem-solvingability) dan keterampilan berpikir abstrak atau keterampilan bernalar. Penggunaan keterampilan-keterampilan interpretatif ini dipakai proses berpikir yang lebih tinggi daripada proses berpikir dalam kategori literal. Beberapa keterampilan  membaca yang sering dijumpai dalam kategori ini ialah menemukan ide-ide pokok, menemukan ide sentral, manarik kesimpulan atau konklusi, membuat generalisasi, menyatakan hubungan sebab akibat serta menyatakan analogi.

Keterampilan menemukan ide pokok atau ide utama ini sangat berguna untuk mengerti dan mengingat apa yang telah dibaca dari sebuah paragraf. Ide pokok suatu paragraf merupakan pikiran sentral atau pikiran pokok suatu paragraf. Ide pokok suatu paragraf dapat dinyatakan secara tersurat juga secara tersirat. Prosedur yang dapat menolong untuk dapat menemukan ide pokok ialah dengan cara mengajukan pertanyaan, misalnya “Isi paragraf ini tentang apa atau siapa?” Jawaban merupakan topik atau tema paragraf. Lalu pertanyaan berikutnya, “Apa yang dikatakan pengarang tentang topik atau tema paragraf tersebut?”

Ide sentral yang ditemukan dalam bacaan merupakan pikiran sentral atau pikiran pokok suatu bacaan. Ide sentral itupun dapat dikatakan secara tersurat, dapat juga secara tersirat dan prosedur yang dipakai untuk menemukan ide pokok dapat juga dipakai untuk menemukan ide sentral.

Keterampilan menarik kesimpulan penalaran dari bacaan merupakan kecakapan menemukan atau manarik ide-ide pengarang yang dijelaskan secara tak langsung, sebab sering pengarang menjelaskan ide-idenya secara tak langsung. Keterampilan menemukan atau menarik ide itu disebut keterampilan menarik inferen atau juga yang sering disebut keterampilan membaca informasi yang tersimpul. Supaya kesimpulan inferen ini dapat ditarik, maka informasi harus cukup dicantumkan dalam karangan itu.

Keterampilan menarik kesimpulan atau konklusi itu merupakan kegiatan membuat kesimpulan yang berupa ringkasan isi bacaan dan sering disertai dengan pendapat. Keterampilan membuat generalisasi yaitu kecakapan untuk menarik kesimpulan umum dari peristiwa-peristiwa khusus. Keterampilan menyatakan hubungan sebab akibat dapat dilakukan dengan menghubungkan beberapa fakta.         Keterampilan menyatakan analogi yaitu kecakapan untuk membandingkan dua hal yang memiliki persamaan.

Kategori menilai secara kritis mengandung keterampilan-keterampilan komprehensi yang dapat mengevaluasi ketelitian, nilai, kebenaran, kelogisan bacaan, dan yang dapat membedakan fakta dan opini. Penggunaan keterampilan-keterampilan kritis ini dipakai untuk proses berpikir yang lebih tinggi, bukan proses berpikir dalam kategori interpretatif. Kategori memahami secara kreatif mengandung keterampilan-keterampilan berpikir divergen dan keterampilan untuk memberi pemecahan baru atau alternatif lain yang disajikan pengarang. Penggunakan keterampilan-keterampilan komprehensi kreatif ini dipakai proses berpikir divergen yang mengatasi proses berpikir sebelumnya.

Berpikir divergen dilakukan dengan memberikan beberapa jawaban. Misalnya, untuk apa batu bata dipakai? Batu bata dipakai untuk dinding, sebagai senjata, sebagai tungku darurat, sebagai alat menulis, sebagai tempat abu rokok dan sebagainya.

Uraian di atas jumlah dan jenis keterampilan yang pasti dalam proses membaca sangat banyak. Penentuan jumlah dan jenis keterampilan tertentu yang dianggap penting, lebih banyak didasarkan pada selera penentunya, waktu yang tersedia, tujuan pengajaran membaca untuk pemahaman bacaan, dan warga belajar yang dibina.

Membaca merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari–hari, karena membaca tidak hanya untuk memperoleh informasi, tetapi berfungsi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan bahasa seseorang.

Membaca memiliki beberapa tujuan. Nurhadi berpendapat bahwa tujuan membaca adalah sebagai berikut:

  1. Memahami secara detail dan menyeluruh isi buku
  2. Menangkap ide pokok atau gagasan utama secara tepat
  3. Mendapatkan informasi tentang sesuatu
  4. Mengenali makna kata-kata
  5. Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di masyarakat sekitar
  6. Ingin memperoleh kenikmatan dari karya sastra
  7. Ingin mengetahui peristiwa penting yang terjadi di seluruh dunia
  8. Ingin mencari merk barang yang cocok untuk dibeli
  9. Ingin menilai kebenaran gagasan pengarang

10. Ingin memperoleh informasi tentang lowongan pekerjaan

11. Ingin mendapatkan keterangan tentang pendapat seseorang (ahli) tentang definisi suatu istilah[2]

Kutipan tersebut menjelaskan bahwa tujuan seseorang membaca diantaranya adalah ingin mengungkap kebenaran, mencari informasi mengenai pengetahuan yang terdapat pada teks yang sedang dibaca. Membaca, pada kutipan di atas juga memaparkan bahwa terdapat tujuan untuk memenuhi kebutuhan dari pembaca seperti mencari lowongan kerja, melihat merk dagang sebuah barang, dan mendapatkan keterangan mengenai definisi atau suatu istilah.


[2] Nurhadi, Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca (Bandung: CV. Sinar Baru 1989) hlm. 14

Media dengan Keaksaraan Fungsional di Sukapura

Keaksaraan fungsional merupakan sebuah pendekatan melalui program pendidikan non formal untuk mengatasi jumlah masyarakat yang menyandang buta aksara. Keaksaraan fungsional diartikan secara sederhana sebagai kemampuan untuk membaca, menulis dan berhitung serta berorientasi pada kehidupan sehari-hari dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di lingkungan sekitar untuk meningkatkan mutu dan taraf hidup.

“Keaksaraan fungsional memiliki beberapa tujuan 1. memberikan pengetahuan untuk sumber penghidupan; 2. melaksanakan kehidupan sehari-hari secara efisien dan efektif; 3. memecahkan masalah keaksaraan yang terkait dalam kehidupan sehari-hari; 4. mengali dan memahami, keterampilan dan sikap untuk meningkatkan mutu dan taraf hidup serta ikut berpartisipasi dalam rangka pembangunan nasional.”[1]

Pelaksanakan program keaksaraan fungsional yang sesuai dengan jenis-jenis program pendidikan luar sekolah memiliki peranan penting dalam hal mengatasi dan menggurangi jumlah penyandang buta aksara yang berusia umur 15 tahun ke atas sampai dengan usia 50 tahun. Keaksaraan fungsional memberikan peran tersendiri bagi masyarakat khususnya pada peningkatan mutu dan kualitas hidup sehingga lebih berdaya dan memiliki posisi tawar yang sama dengan masyarakat lainnya yang tidak menyandang buta aksara.

Keaksaraan fungsional membantu masyarakat lebih berdaya bagi mereka yang menyandang buta aksara dengan cara belajar untuk menambah kemampuan dan pengetahuan. Penyandang buta aksara dalam kehidupan sehari-hari dihadapkan pada dilema yang sangat komplek. Seperti, kesulitan mendampingi dan membantu dalam menyelesaikan tugas sekolah anaknya dirumah. Penyandang buta aksara (buta huruf) dianggap negatif di lingkungan sekitar yang berdampak pada psikologisnya karena adanya status sosial dalam baca, tulis dan berhitung mengenai angka bukan pada menghitung uang.

Penyandang buta aksara memiliki keterbatasan tidak dapat membaca dan menulis untuk mengurus administrasi kependudukan, seperti pembuatan KTP (Kartu Tanda Penduduk). Proses mendapatkan akses pengurusan jaminan kesehatan masyarakat dengan prosedur membuat keterangan keluarga miskin kepada aparatur pemerintah terendah yaitu Rukun Tetangga (RT) sampai dengan tingkatan teratas juga termasuk keterbatasan penyandang buta aksara. Proses tersebut dapat dilihat ketika mereka harus mengisi absensi pertemuan atau kegiatan dilingkunngan. Proses semua itu adalah termasuk dalam hak dasar manusia yang memang lebih cenderung ke bidang pelayanan publik. Fakta tersebut, terlihat bahwa penyandang buta aksara kurang memiliki kesempatan dengan kata lain mereka haruslah bergantung kepada orang lain. Adanya program keaksaraan fungsional, penyandang buta aksara memiliki kekuatan untuk meningkatkan mutu dan kualitas hidupnya dalam kehidupan sehari-hari.

Peningkatan keberdayaan penyandang buta aksara akan nampak pada kemampuan mereka dalam menghadapi dilema-dilema pengurusan administrasi kependudukan, mendampingi pengerjaan tugas sekolah anak, dan lain sebagainya yang telah tertulis di  atas. Mereka mengikuti kegiatan keaksaraan fungsional, mereka akan mampu untuk mendampingi dan membantu dalam menyelesaikan tugas sekolah anak mereka dan secara mandiri mereka dapat mengurus administrasi kependudukan yang memang menjadi kebutuhan personal.

Jumlah penyandang buta aksara di Indonesia memang dapat dikatakan masih besar, hal ini dapat dilihat dari data Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) tahun 2009 mengenai penduduk Indonesia yang buta huruf (penyandang buta aksara usia 15 tahun ke atas sebanyak 9,76 juta orang. Sebanyak 64% atau 6,3 juta dari data Kemendiknas adalah perempuan masih menyandang buta aksara yang berusia 15 tahun ke atas.

Kemampuan baca tulis pada kenyataannya masih menjadi permasalahan bagi sebagian rakyat Indonesia khususnya perempuan miskin. Di kota Jakarta sendiri tercatat 72.553 penyandang buta aksara. Data Diknas tahun 2009, penduduk Indonesia yang buta huruf (penyandang buta aksara) usia 15 tahun ke atas sebanyak 9,76 juta orang.[2]

Provinsi DKI Jakarta sendiri tercatat 72.553 orang masih terdapat penyandang buta aksara menurut kutipan di atas. Jumlah penyandang  buta aksara di Jakarta tersebar di beberapa wilayah. Data penyandang buta aksara Kota Jakarta sendiri dapat diartikan masih memerlukan kegiatan keaksaraan fungsional dan dapat dikatakan bahwa kondisi tersebut telah menunjukan bahwa masih terdapat perempuan yang belum berdaya. Sehingga, program atau kegiatan penuntasan buta aksara masih diperlukan di Kota Jakarta.

Kegiatan keaksaraan fungsional sebagai upaya penuntasan buta aksara telah dilakukan sebelumnya oleh pemerintah dengan maksud untuk menurunkan jumlah penyandang buta aksara. Partisipasi masyarakat secara swadaya pun berperan aktif untuk membantu menggurangi jumlah penyandang buta aksara melalui penyelenggaraan kegiatan keaksaraan fungsional oleh pusat kegiatan belajar masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat yang turut berkontribusi dalam menuntaskan buta aksara.

Sejarah ketertarikan Yappika dalam penyelenggaraan keaksaraan fungsional, yaitu, Yappika adalah sebagai lembaga swadaya masyarakat yang memiliki fokus pada mengkampanyekan pemenuhan hak pelayanan publik sebagai salah satu bagian dari pemenuhan hak dasar, diantaranya melakukan advokasi RUU Pelayanan Publik di DPR bersama organisasi lainnya yang kini telah disahkan serta tengah memulai kampanye hak pelayanan publik dibidang kesehatan, pendidikan, dan administrasi kependudukan melalui keaksaraan fungsional. Yappika sebagai lembaga swadaya masyarakat turut berperan aktif dalam mengurangi dan menuntaskan buta aksara di Kota Jakarta melalui (tahun) ”Gerakan 5,3 Juta Ibu Belajar Membaca. Donasi untuk penguatan perempuan agar mereka berdaya”.Penguatan Kemampuan Perempuan (Ibu) dan Penyadaran Hak Pelayanan Publik melalui Keaksaraan Fungsional dan Kerelawanan” adalah nama program keaksaraan fungsional yang dilaksanakan oleh Yappika. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman masyarakat tentang prosedur pelayanan publik dibidang kesehatan, pendidikan, administrasi kependudukan dan hak pemenuhan pelayanan publik.

Kegiatan keaksaraan fungsional dasar Yappika memberikan muatan materi hak dasar dengan sub materi penyadaran hak pelayanan publik sebagai bentuk penerapan fungsional kepada warga belajar dengan memasukan unsur critical literacy sebagai bentuk upaya memenuhi Standar Kompetensi Keaksaraan Dasar (SKKD) dalam hal berbicara. Ruang lingkup SKKD sesuai dengan ketentuan Kemendiknas itu sendiri terdapat 5 pokok, yaitu, 1) Mendengar; 2) Berbicara; 3) Membaca; 4) Menulis; dan 5) Berhitung. Materi hak dasar ini sendiri adalah sebagai inti dari kegiatan fungsional dari keaksaraan fungsional dasar. Materi hak dasar menjadi hal yang memiliki karakteristik dan berbeda dengan keaksaraan fungsional dasar lainnya yang memberikan pelatihan kecakapan hidup atau keterampilan. Namun, kedua lembaga ini memiliki kesamaan dalam substansi kegiatan fungsionalnya, yaitu sama-sama untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari penyandang buta aksara dalam bentuk pengetahuan dan informasi.

Program Keaksaraan fungsional yang dilaksanakan oleh Yappika dilaksanakan pada periode pertama adalah selama delapan bulan dimulai dari bulan Januari 2010 – Agustus 2010 dengan enam bulan sebagai waktu pembelajaran utamanya. Sasaran untuk kegiatan keaksaraan fungsional dilaksanakan pada 20 kelompok belajar dengan 10 warga belajar (penyandang buta aksara yang mengikuti keaksaraan fungsional untuk belajar) setiap kelompoknya. Sebagai pilot project Yappika untuk pembelajaran keaksaraan fungsional di wilayah kelurahan Marunda dilaksanakan pada 2 kelompok belajar, yaitu di RW 02 Kelurahan Marunda Kecamatan Cilincing.

Kelurahan Sukapura pun memiliki kegiatan belajar keaksaraan yang diselenggarakan oleh Yappika. Kelurahan Sukapura memiliki 3 kelompok belajar sebagai pelaksanaan pada periode berikutnya untuk mencapai 20 kelompok belajar. Kelompok belajar keaksaraan fungsional yang direncanakan oleh Yapppika akan terdapat program lanjutan yang dimaksudkan untuk menjaga kemampuan baca, tulis dan berhitung (calistung) warga belajar agar tidak buta huruf kembali. Kegiatan pembelajaran lanjutan ini direncanakan akan membuka pembelajaan keaksaraan fungsional lanjutan.

Perencanaan pembelajaran keaksaraan fungsional lanjutan dari keaksaraan fungsional lanjutan mengalami kekosongan pembelajaran selama 2 bulan. Kekosongan pembelajaran memerlukan sebuah aktifitas atau kegiatan untuk warga belajar mempersiapkan proses pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh mereka. Peneliti sebagai salah satu mahasiswa pendidikan luar sekolah bermaksud untuk melakukan penilitian pada tiga kelompok belajar di Kelurahan Sukapura. Penelitian akan dilaksanakan  melalui proses pembelajaran dengan maksud untuk melakukan kegiatan penguatan pembelajaran keaksaraan fungsional berupa  penggunaan media DVD Re-Iliterate. Kegiatan pembelajaran ini hanya melibatkan 20 orang sebagai warga belajarnya.

Data di bawah berdasarkan hasil evaluasi akhir belajar oleh Yappika menunjukan kompetensi dasar warga belajar pada 3 kelompok belajar di Kelurahan Sukapura. Data menunjukan bahwa kompetensi dasar warga belajar memiliki perbedaan yang bervariatif. Seperti kompetensi dasar pada kejar  pandai memiliki nilai rata-rata minimum 60.5 dan rata-rata maksimum 92, kompetensi dasar kejar poncol memiliki nilai rata-rata minimum 53.4 dan nilai rata-rata maksimum 84.6, dan kompetensi dasar kejar IA memiliki nilai rata-rata minimum 51 dan nilai rata-rata maksimum 70.84.

Tabel 1.1 : Penilaian Akhir Kelompok Belajar Pandai

No

Nama

Kompetensi Dasar

Jumlah

Rata-Rata

Nilai

Nilai Akhir

Membaca

Menulis

Berhitung

Mendengarkan

Berbicara

1

Arpah

80

85

100

80

80

425

85

B

2

Bariyah

80

90

95

80

75

420

84

B

3

Patimah

95

87

100

85

85

452

90.4

A

4

Maryam

70

60

45

62.5

65

302.5

60.5

C

5

Samah

100

95

95

85

85

460

92

A

6

Saidah

100

90

90

85

80

445

89

B

7

Khodijah

80

75

85

70

75

385

77

B

8

Tini

80

80

80

80

80

400

80

B

9

Dahlia

85

85

90

85

85

430

86

B

10

Endang

80

75

90

60

60

365

73

C

Data penilaian akhir Kelompok Belajar Pandai menunjukan bahwa terdapat 10 warga belajar dengan 2 warga belajar yang memiliki nilai akhir A, 6 warga belajar yang memiliki nilai akhir B dan 2 warga belajar yang memiliki nilai akhir C. Nilai rata-rata dari 5 kompetensi dasar warga belajar kelompok belajar pandai adalah 81.69.

Tabel 1.2 : Penilaian Akhir Kelompok Belajar Poncol

No

Nama

Kompetensi Dasar

Jumlah

Rata-Rata

Nilai

Nilai

Akhir

Membaca

Menulis

Berhitung

Mendengarkan

Berbicara

1

Ani Maryani

93

100

80

70

80

423

84.6

B

2

Jaronah

63

66

100

97.5

60

386.5

77.3

B

3

Naseroh

82

50

70

65

91

358

71.6

C

4

Inah

91

100

80

70

80

421

84.2

B

5

Mursani

70

65

60

62.5

65

322.5

64.5

C

6

Maseni

57

37.5

50

67.5

55

267

53.4

D

Data penilaian akhir Kelompok Belajar Poncol menunjukan bahwa terdapat 6 warga belajar dengan 3 warga belajar yang memiliki nilai akhir B, 2 warga belajar yang memiliki nilai akhir C dan 1 warga belajar yang memiliki nilai akhir D. Nilai rata-rata dari 5 kompetensi dasar warga belajar kelompok belajar pandai adalah 72.6.

Tabel 1.3 : Penilaian Akhir Kelompok Belajar IA

No

Nama

Kompetensi Dasar

Jumlah

Rata-Rata

Nilai

Nilai

Akhir

Membaca

Menulis

Berhitung

Mendengarkan

Berbicara

1

Robuna

56.7

70

0

72.5

65

264.2

52.84

D

2

Limah

61.7

70

0

90

80

301.7

60.34

C

3

Wati

50

45

40

60

60

255

51

D

4

Jahuroh

52.7

65

90

60

70

337.7

67.54

C

5

Masuroh

53.3

55

98

65

70

341.3

68.26

C

6

Juminah

51.7

80

90

62.5

70

354.2

70.84

C

Data penilaian akhir Kelompok Belajar Poncol menunjukan bahwa terdapat 6 warga belajar dengan 4 warga belajar yang memiliki nilai akhir C, dan 2 warga belajar yang memiliki nilai akhir D. Nilai rata-rata dari 5 kompetensi dasar warga belajar kelompok belajar pandai adalah 72.6.

Tabel 1.4: Rata-rata Penilaian Akhir pada 3 Kelompok Belajar

Kelompok Belajar

Kompetensi Dasar

Jumlah

Rata-rata

Membaca

Menulis

Berhitung

Mendengar

Berbicara

Pandai

85.00

82.20

87.00

77.25

77.00

408.45

81.69

Poncol

76.00

69.75

73.33

72.08

71.83

363.00

72.60

IA

54.35

64.17

53.00

68.33

69.17

309.02

61.80

Rata-rata

71.78

72.04

71.11

72.56

72.67

360.16

72.03

Hasil evaluasi akhir pembelajaran keaksaraan fungsional dasar pada 3 kelompok belajar di Kelurahan Sukapura diatas tercatat kemampuan mendengar, berbicara, baca, tulis dan berhitung dengan rata-rata hasil yang baik. Data hasil evaluasi ini akan dapat menurun kalau saja keberlanjutan pembelajaran mengalami masa vacuum (kekosongan). Kemampuan membaca warga belajar pada 3 kelompok belajar memiliki rata-rata 71,78. Kemampuan menulis memiliki rata-rata 72,04. Kemampuan berhitung memiliki rata-rata 71,11. Kemampuan mendengar memiliki rata-rata 72,56. kemampuan berbicara memiliki rata-rata 72,67. Hasil rata-rata penilaian akhir pada 3 kelompok belajar di Kelurahan Sukapura mengenai kompetensi dasar membaca, menulis, berhitung, mendengar dan berbicara adalah dengan jumlah 72,03.

Kegiatan penyelenggaraan keaksaraan fungsional ini diharapkan dapat lebih meningkatkan mutu dan kualitas hidup masyarakat yang dikhususkan kepada penyandang buta aksara perempuan sesuai dengan tujuan yang termuat dalam Deklarasi Dakar yang pada isi pokok poin 4 yang menjelaskan bahwa

“mencapai perbaikan tingkat keaksaraan orang dewasa sebesar 50% pada tahun 2015, khususnya wanita, dan kesamaan akses pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa”.[3]

Keaksaraan fungsional yang diselenggarakan oleh YAPPIKA diharapkan memberikan hasil berupa penyandang buta aksara perempuan dapat memahami hak pelayanan publik dibidang administrasi kependudukan, pendidikan dan kesehatan. Sehingga mereka lebih berdaya dan mandiri seperti dalam mengurus administrasi kependudukan dan sebagainya. Kemudian, tidak  bergantung kepada orang lain. Pernyataan tersebut dapat diperkuat dengan kebutuhan penyandang buta aksara dalam pemenuhan hak pelayanan publik dibidang administrasi kependudukan dan pelayanan kesehatan seperti prosedur pengurusan KTP, Jamkesmas, dan Gakin. Penyandang buta aksara perempuan haruslah mempunyai KTP sebagai identitas mereka. Mereka juga akan membutuhkan pemahaman mengenai Jamkesmas untuk mengklaim jaminan kesehatan sebagai pemenuhan hak pelayanan publik dan kebutuhan untuk pemenuhan kartu gakin (keluarga miskin) sebagai prasyarat untuk mengurus klaim Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat). Maka keaksaraan fungsional ini memang dibutuhkan karena sesuai dengan peranan pendidikan luar sekolah sebagai penambah.

Warga belajar dalam Kelompok Belajar Keaksaraan Fungsional (Kejar KF) adalah orang dewasa, maka pendidikan keaksaraan fungsional ini menerapkan pendidikan orang dewasa sebagai pendekatan yang dapat memudahkan warga belajar untuk dapat mempelajari dan memahami substansi materi yang disampaikan. Warga belajar dalam kelompok belajar keaksaraan fungsional sesuai dengan karakteristik orang dewasa yang memang sulit untuk belajar. Apabila pendekatan pembelajaran yang diberikan kepada warga belajar tidak sesuai dengan warga belajar maka akan terdapat konsekuensi yaitu tidak tercapainya indikator keberhasilan dari program keaksaraan fungsional.

Program keaksaraan fungsional dasar di beberapa kelompok belajar telah selesai. Kegiatan keaksaraan fungsional memiliki kegiatan lanjutan sebagai bentuk penguatan mengenai hak dasar sebagai isu dari materi yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Kegiatan ini mengalami kekosongan pembelajaran selama 2 bulan dan dikhawatirkan warga belajar akan menjadi buta huruf kembali. Kekosongan pembelajaran ini membuat ketertarikan peneliti untuk mengkaji  proses pembelajaran sebagai bentuk upaya penguatan kemampuan warga belajar setelah mengikuti kegiatan keaksaraan dasar. Maka, peneliti mendesain dan menguji coba kegiatan pembelajaran untuk memberikan solusi dalam bentuk media DVD Re-Iliterate. Media ini digunakan sebagai bentuk media pendukung dalam melaksanakan kegiatan penguatan kembali kemampuan membaca, menulis, berhitung dan materi hak dasar. Rancangan kegiatan pembelajaran dirancang sesuai identifikasi dari kemampuan 20 warga belajar. Identifikasi dilakukan dengan melihat sumber hasil evaluasi kegiatan pembelajaran keaksaraan dasar di 3 kelompok belajar Kelurahan Sukapura. Kegiatan pembelajaran ini dapat dikatakan sesuai dengan kegiatan pembelajaran pendidikan luar sekolah karena keaksaraan fungsional adalah termasuk satuan program pendidikan luar sekolah dan menerapkan konsep pendidikan orang dewasa dalam proses pembelajaran.


[1] Standar Kompetensi Keberaksaraan, (Jakarta: Direktorat Pendidikan Masyarakat, Departemen Pendidikan Nasional), 2006

[3]  Kusnadi, Keaksaraan Fungsional di Indonesia Konsep, strategi dan Implementasi, (Jakarta: Mustika Akasara, 2003), h. 9

JUMARAMA (Jumpa Ramah Tamah)

JUMARAMA (Jumpa Ramah Tamah) adalah wadah untuk mempererat ikatan kekeluargaan dan kemitraan antara dosen, mahasiswa-mahasiswi dan alumni bagi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP/UNJ. Kegiatan JUMARAMA akan dihadiri oleh dosen, alumni, dan keseluruhan mahasiswa dan dikhususnya bagi mahasiswa-mahasiswi PLS angkatan 2010 dan 2011.

Jumarama diadakan sebagai satu kebutuhan bagi mahasiswa-mahasiswi untuk dapat memahami dunia akademis ke-PLS-an. Selain itu, Jumarama juga sebagai tempat bagi alumni dan dosen untuk mempererat ikatan kekeluargaan dengan capaian jejaring sosial yang meranah pada kemitraan antara mahasiswa-mahasiswi, dosen dan alumni sehingga dapat membangun sebuah sistem community development sebagai sebuah pondasi dasar aktifitas akademik yang terkait dengan lingkup PLS atau setara dengan pendidikan non formal maupun informal sehingga terdapat keluaran demand minded dalam prinsip link and match Jurusan PLS FIP UNJ. Proses pencapaian yang dimaksudkan dapat dikaji pada pola-pola belajar mahasiswa-mahasiswi dengan difasilitasi jurusan dan alumni.

Kegiatan JUMARAMA akan dilakukan dengan beberapa metode, yaitu, sharing pengalaman atau diskusi santai, games, ice breaking untuk mencapai output kegiatan. Dalam hal ini, mahasiswa akan mengenal dan mengkaji proses pembelajaran yang akan dibantu oleh jurusan dan alumni yang hadir sebagai pengembangan kemampuan dan keahlian, meningkatkan pengalaman untuk menjadi bekal ilmu, membuka wawasan pengetahuan tentang ke-PLS-an untuk ikut dalam kegiatan ke-PLS-an dan terbukanya jaringan serta memperkuat eksistensi PLS FIP IKIP/UNJ secara keseluruhan.

Kewirausahaan

Kewirausahaan atau disebut juga dengan entrepreneurship adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya. Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasila akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.

Kata wirausaha atau “pengusaha” diambil dari bahasa Perancis “entrepreneur” yang pada mulanya berarti pemimpin musik atau pertunjukan. Wirausaha adalah seseorang pembuat keputusan yang membantu terbentuknya sistem ekonomi perusahaaan yang bebas.

Pebisnis diambil dari kata bisnis, dalam kamus kecil bahasa indonesia bisnis diartikan sebagai usaha dagang. Jadi, pebisnis adalah orang yang menjalankan usaha dagang. Perbedaan • Kewirausahaan atau entrepreneurship dengan wirausaha atau entrepreneur adalah terletak pada objek dan subjeknya. Maksudnya adalah kewirausahaan lebih menekankan pada keilmuannya sedangkan wirausaha adalah orang yang melakukan kegiatan usaha.

Pebisnis dengan pengusaha adalah dimana kedua-duanya memiliki penempatan yang berbeda. Pebisnis biasanya diterjemahkan sebagai orang yang menjalankan bisnis dan bukan sebagai pemilik usaha atau owner. Sedangkan pengusaha adalah orang yang menjalankan bisnis sekaligus sebagai pemilik usaha.

Tugas Psikologi sosial (Kohesivitas)

PENDAHULUAN

Pada tanggal 21-27 oktober 2006, Tim Mahasiswa Indonesia terbang ke negeri tirai bambu (China) tepatnya di Tianjin. Mereka, terdiri dari Mario Mambu dengan pasangannya Cliff Tangkuman, Suci Amita Dewi dengan Christina Wahyu, dan Arie Maramis dengan Steward Bayung yang didampingi kapten Parpar Pryatna bergabung dengan dua puluh enam tim lainnya dari dua puluh dua negara yang dipastikan bakal mengikuti turnamen tahunan ini.

Mahasiswa Indonesia mempunyai target untuk membawa pulang hasil dengan masuk sepuluh besar. Target mereka tidak terlalu tinggi karena minimnya persiapan mereka untuk menghadapi pertandingan tahun ini. Akan tetapi, semangat mereka tidaklah surut untuk melawan Kanada atau untuk bertanding dalam 27 ronde.

Mereka mempunyai target yang disampaikan oleh pelatih Indonesia FerdyWaluyan menjadi sepuluh besar. Hal itu dikarenakan persiapan mereka yang kurang matang. Akan tetapi, Ketua Umum Pengurus Besar GABSI berharap besar kepada mereka untuk selalu kompak untuk mendapatkan hasil yang maksimal, bertanding dengan kondisi prima, dan lain-lainnya.

TOPSKOR. 18 Oktober 2006.

PEMBAHASAN

1. Kohesivitas.

Kohesivitas merupakan kekuatan interaksi dari anggota suatu kelompok. Kohesivitas ditunjukkan dalam bentuk keramahtamahan antar anggota kelompok, mereka biasanya senang untuk bersama-sama. Masing-masing anggota merasa bebas untuk mengemukakan pendapat dan sarannya. Anggota kelompok biasanya juga antusias terhadap apa yang ia kerjakan dan mau mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan kelompoknya. Merasa rela menerima tanggung jawab atas aktivitas yang dilakukan untuk memenuhi kewajibannya. Semua itu menunjukan adanya kesatuan, kereratan, dan saling menarik dari anggota kelompok.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kohesivitas/kepaduan.

Ø Kesamaan nilai dan tujuan.

Kohesivitas akan terjadi bila anggota kelompok memiliki sikap, nilai dan tujuan yang sama.

Ø Keberhasilan dalam mencapai tujuan.

Keberhasilan dalam mencapai tujuan yang penting dapat meningkatkan kesatuan kelompok, kepuasan antar anggota kelompok dan membuat kelompok menjadi lebih menarik bagi anggotanya.

Ø Status kelompok.

Kelompok yang memiliki status atau kedudukan yang lebih tinggi lebih menarik bagi para anggotanya.

Ø Penyelesaian perbedaan.

Jika terjadi perbedaan tentang suatu masalah penting yang terjadi dalam kelompok, maka diperlukan penyelesaian yang dapat memuaskan semua anggota.

Ø Kecocokan terhadap norma-norma.

Norma membantu dan mempermudah dalam meramalkan dan mengendalikan perilaku yang terjadi dalam kelompok.

Ø Daya tarik pribadi.

Kohesivitas atau kepaduan akan meningkat jika terdapat adanya daya tarik dari para anggota yaitu adanya kepercayaan timbal balik dan saling memberikan dukungan. Daya tarik ini berfungsi untuk mengatasi hambatan dalam mencapai tujuan.

Ø Persaingan antar kelompok.

Persaingan antar kelompok yang terjadi dapat menyebabkan anggota kelompok lebih erat dan bersatu dalam melakukan aktivitasnya.

Ø Pengakuan dan penghargaan.

Jika suatu kelompok berprestasi dengan baik kemudian mendapat pengakuan dan penghargaan dari pimpinan, maka dapat meningkatkan kebanggaan dan kesetian dari anggota kelompok.

Ø Pengalaman yang tidak menyenangkan dengan kelompok.

Ketika anggota kelompok tidak menarik antara satu sama lainnya atau kurang kepercayaan di antara mereka atau adanya pengalaman yang tidak menyenangkan dapat menurunkan adanya tingkat kepaduan.

Ø Persaingan intern antar anggota kelompok.

Persaingan intern anggota kelompok menyebabkan adanya konflik, permusuhan dan mendorong adanya perpecahan di antara anggota kelompok.

Ø Dominasi.

Jika satu atau lebih anggota kelompok mendominasi kelompok atau karena sifat kepribadian tertentu yang cenderung tidak senang berinteraksi dengan anggota kelompok maka kepaduan atau kohesivitas tidak akan berkembang. Prilaku seperti itu akan menimbulkan terjadinya klik-klikdalam kelompok yang dapat menurunkan tingkat kepaduan.

Faktor-faktor yang dapat menurunkan tingkat kohesivitas/kepaduan.

Adanya sejumlah faktor yang dapat menurunkan adanya kohesivitas, seperti adanya ketidaksamaan tentang tujuan, besarnya kelompok, pengalaman yang tidak menyenangkan dengan kelompok dan dominasi.

Ø Ketidaksamaan tentang tujuan.

Ketidaksamaan pandangan tentang tujuan dari para anggota kelompok dapat menimbulkan adanya konflik. Bila konflik yang terjadi tuidak dapat dikendalikan dapat menyebabkan adanya penurunan tingkat kepaduan.

Ø Besarnya anggota kelompok.

Sejalan dengan bertambah besarnya kelompok, maka frekuensi interaksi di antara anggota kelompok akan menurun. Dengan demikian dapat menurunkan tingkat kepaduan.

2. Alasan-alasan terbentuknya kelompok.

Terbentuknya berbagai kelompok dalam kehidupan manusia merupakan wujud dari hakikat manusia, khususnya dari dimensi kesosialannya. Manusia adalah makhluk sosial tang tak mungkin dapat hidup berkembang secara layak apabila ia hidup sendiri dan menyendiri. Oleh akrna itulah, manusia berkelompok atau membentuk sebuah kelompok untuk hidup bersama dan berkumpul.

Kelompok pada dasarnya dimuali dari berkumpulnya sejumlah orang. Orang-orang ini menjunjung suatu atau beberapa kualitas tertentu sehingga dengan demikian kumpulan tersebut menjadi sebuah kelompok. Tetapi perlu diingat bahwa orang yang berkumpul dalam sebuah ruangan dan berjumlah besar tidak dapat dikatakan sebagai kelompok dikarenakan tidak adanya kesepakatan atau konsensus dalam mencapai sebuah tujuan atau tepatnya menjunjung suatu atau beberapa kualitas.

Adanya suatu kelompok tidak harus diawali dengan adanya kerumunan. Suatu kelompok dapat segera terjadi, yaitu apabila sebelum orang-orang yang bersangkutan berkumpul terlebih dahulu kepada mereka diberitahukan tujuan yang akan dicapai.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kelompok, antara lain :

v Adanya interaksi antar orang-orang yang ada di dalam kumpulan atau suatu kerumunan.

v Ikatan emosional sebagai pernyataan kebersamaan.

v Tujuan atau kepentingan bersama yang ingin dicapai.

v Kepemimpinan yang dipatuhi dalam rangka mencapai tujuan atau kepentingan bersama.

v Norma yang diakui dan diikuti oleh mereka yang terlibat di dalamnya.

Akan tetapi, tidak semua kelompok harus dilatar belakangi oleh faktor-faktor diatas. Walaupun sebagian besar dipengaruhinya karena bisa saja ada beberapa faktor lainnya yang berbeda.

Selain faktor di atas ada juga beberapa alasan mengapa orang mau memasuki suatu kelompok secara sukarela, yaitu :

v Dalam kelompok dapat dicapai tujuan atau kepentingan pribadi yang penting, misalnya kedudukan dan penghargaan.

v Kelompok menyajikan kegitan yang menarik, misalnya diskusi, menjelajah alam, olahraga, dan lain-lainnya.

v Dapat memenuhi kebutuhan pribadi dalam kelompok, misalnya kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki.

Terjadinya kelompok menurut orientasi psikologi.

1. Teori perkembangan.

Bennis dan Sheppard (dipengaruhi oleh psikoanalisis), 1956, pencarian otoritas seseorang masuk kedalam suatu kelompok dengan keraguan siapa di dalam kelompok itu yang menjadi tokoh otoritas dan ingin melepaskan diri dari otoritas tersebut.

Tahap-tahap perkembangan kelompok.

a. Tahap otoritas.

· Tahap ketergantungan terhadap otoritas (tahap awal).

· Pemberontakan (tahap yang dicerminkan dengan kesesuaian para anggota).

· Pencairan (pengakuan anggota terhadap tokoh otoritas yang dianggap pantas atau sesuai).

b. Tahap pribadi.

· Tahap harmoni (sesuai dengan harapan anggota karena produktivitas tinggi).

· Tahap identitas pribadi (tekanan terhadap identitas diri anggota kelompok).

· Tahap pencairan masalah pribadi (sesama anggota saling menerima segala bentuk hal dengan anggota kelompok).

2. Teori hubungan pribadi atau FIRO-B (Fundamental Interpersonal Relation Orientation Behavior).

Schutz (dipengaruhi oleh teori psikoanalisis), 1958, kebutuhan dasar dalam hubungan antar individu dengan individu lainnya. Ada tiga macam kebutuhan dasar pada manusia mengenai kelompok, yaitu : (1) Inklusif, (2) kontrol, (3) afeksi.

Inklusif, kebutuhan untuk terlibat dan termasuk dalam kelompok. Kontrol, kebutuhan akan arahan, petunjuk, dan pedoman berperilaku dalam kelompok. Afeksi, kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian dalam kelompok.

3. Teori sintalitas kelompok.

Cattell (1948-1951), sintalitas adalah kepribadian yang khusus digunakan untuk mempelajaricara menguraikan dan mengukur sifat-sifat dan perilaku kelompok. Cattell mengemukakan bahwa eksistensi suatu kelompok dapat memenuhi kebutuhan individu jika sebuah kelompok tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan anggota-anggotanya.

3. Sikap

Diwakili oleh Chave. Bogardus, La Pierre, Mead dan Gordon W. Allport (Ahli bidang psikologi sosial dan psikologi kepribadian), sikap adalah suatu pola perilaku, tendensi atau persiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan.

Komponen Dasar Sikap :

1. Kognitif, terdiri dari seluruh kognisi yang dimiliki seseorang mengenai objek sikap tertentu, fakta, pengetahuan dan keyakinan tentang objek.

2. Afektif, terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap objek terutama penilaian.

3. Konatif (perilaku), terdiri dari persiapan seseorang untuk bereaksi atau kecenderungan untuk bertindak terhadap objek.

Fungsi Sikap :

Menurut Katz, sikap mempunyai 4 fungsi, yaitu :

1. Fungsi Instrumental atau fungsi penyesuaian atau fungsi manfaat.

2. Fungsi Pertahanan Ego.

3. Fungsi Ekspresi Nilai.

4. Fungsi Pengetahuan

Ciri Sikap :

1. Sikap tidak dibawa sejak lahir.

2. Sikap selalu berhubungan dengan objek sikap.

3. sikap dapat bertuju pada satu objek saja atau pada sekumpulan objek-objek.

4. sikap dapat berlangsung lama atau sebentar.

5. sikap mengandung faktor perasaan dan motivasi.

Determinan Sikap :

1. Faktor fisiologis.

2. Faktor pengalaman langsung terhadap objek sikap.

3. Faktor kerangka acuan.

4. Faktor komunikasi sosial.

Analisis.

Pada contoh kasus di atas yang diambil dari TOPSKOR tertanggal 18 Oktober 2006 dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai teori kohesivitas/kepaduan, teori pembentukan kelompok, dan juga teori sikap.

Pada kohesivitas dapat dilihat pada beberapa tutur kata dari Ketua Umum Pengurus Besar GABSI, ”harus tampil prima menghadapi setiap lawan. Jangan lengah, jangan emosi dan jagalah selalu kekompakan agar meraih hasil maksimal.”(TOPSKOR, 18 Oktober 2006). Dari situ sudah nampak sedikit gejala-gejala kohesivitas/kepaduan. Tidak hanya itu saja, pada teori kohesivitas khususnya pada faktor-faktor yang meningkatkan kohesivitas dikatakan bahwa kesamaan nilai dan tujuan dan juga pada keberhasilan mencapai tujuan dapat dilihat dari pernyataan bahwa mereka akan masuk sepuluh besar walaupun tujuan itu belum ditangan mereka. Selain itu juga, ada beberapa kesimpulan lain yang dapat diambil diantaranya mengenai persaingan antar kelompok yang tersirat dalam pertandingan melawan Kanada atau dalam 27 ronde melawan tim atau kelompok lain. Setelah mereka berhasil kemungkinan mereka akan mendapatkan pengakuan dan juga penghargaan dai masyarakat indonesia GABSI khususnya.

Pada kasus di atas juga ditemukan mengenai pembentukan kelompok. Tim yang disebutkan di contoh kasus ini dinyatakan sebagai kelompok. Karena sesuai dengan mengapa orang mau memasuki suatu kelompok secara sukarela. Pada tim ini dapat dicapai pengakuan dan penghargaan pada setiap anggota tim, kegiatan kelompok ini berupa olahraga berbentuk permainan kartu, dan kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki dengan sesama anggota tim. Pada teori FIRO-B juga terdapat pada kasus ini tepatnya pada kebutuhan Inklusif (anggota tim selalu ingin terlibat dalam setiap kegiatan yang dibuat oleh tim), kebutuhan kontrol (pada setiap anggota tim memerlukan arahan dari seorang kapten, Parpar Pryatna, dan juga seorang pelatih, Ferdy Waluyan), dan Afeksi (anggota kelompok selalu saling memperhatikan satu sama lainnya).

Penutup

Saran

Sebaiknya sebelum bertanding dipersiapkan semua aspek sehingga mencapai keberhasilan agar tingkat kohesivitasnya semakin meningkat.

Rekomendasi

Diberikan penyuluhan terlebih dahulu tentang motivasi untuk meningkatkan kohesivitas/kepaduan agar semuanya membuahkan hasil yang maksimal.

GALAKSI

GALAKSI

Galaksi adalah kepulauan bintang yang terbentuk atas bintang-bintang membentuk pulau di ruang angkasa. Galaksi memiliki bentuk dan ukuran berbeda. Beberapa diantaranya di sebut galaksi palang spiral. Galaksi ini mempunyai lengan melengkung yang terbentuk dari palang yang melewati pusatnya. Galaksi spiral biasa tidak mempunyai palang. Galaksi elips mempunyai bentuk oval. Galaksi dengan bentuk tak tentu di sebut galaksi tak beraturan (irregular). Galaksi sendiri terbentuk dalam awan gas raksasa yang gelap, sehingga cahaya pun butuh waktu ratusan ribu tahun untuk menembusnya. Seiring waktu, gaya gravitasi mulai mengumpulkan partikel-partikel gas, secara bertahap awan gas menyusut dan menjadi lebih padat. Ketika di sana-sini menjadi cukup padat untuk membentuk bintang dan pada saat yang sama, awan gas mulai berputar dan menipis.

Kluster adalah kelompok ribuan galaksi terdapat ruang angkasa. Sedangkan galaksi dimana tempat kita hidup disebut milky way/ bima sakti, galaksi terbesar kedua setelah andromeda.

TATA SURYA

Matahari seolah mengelilingi bumi, tapi yang benar adalah kebalikannya. Bumi merupakan bagian dari keluarga matahari atau tata surya. Dan bumi adalah salah satu planet yang mengelilingi matahari. Jarak bumi ke matahari mendekati 150 juta kilometer.

Lalu bagaimana dengan keadaan saat tata surya lahir :

  1. sekitar 5 miliar tahun lalu, tata surya terlahir sebagai awan gas dan debu yang besar. Awan yang disebut nebula ini, banyak tersebar di ruang angkasa, di antaranya bintang-bintang.
  2. Sebagian dari awan itu mejadi sangat padat. Gas dan debu di wilayah itu mulai berkumpul di bawah tarikan gravitasinya. Akhirnya, terbentuklah gumpalan bola.
  3. Bola itu membesar dan semakin hangat. Perlahan, bola itu mulai bersinar dan membentuk “bayi” matahari saat umurnya sekitar 100.000 tahun.
  4. Bayi matahari berputar cepat dan melemparkan gumpalan material ke angkasa. Pada saat yang sama, material itu menyusut dan menjadi semakin panas.
  5. Pada waktunya, bayi matahari menjadi cukup panas untuk menghasilkan reaksi nuklir. Reaksi itu menghasilkan energi yang sangat besar untuk bersinar saat “tumbuh” menjadi bintang.
  6. Pusaran materi yang sebelumnya terlempar dari matahari mulai menggumpal. Gumpalan itu semakin besar dengan lintasan yang berbeda dengan matahari.
  7. Gumpalan yang besar tumbuh menjadi planet yang dikenal sekarang. Gumpalan yang lebih kecil membentuk bulan dari planet-planet itu dan yang paling kecil membentuk asteroid.

MATAHARI

Matahari adalah bintang, seperti bintang lainnya. Matahari adalah bola gas yang sangat panas, memiliki diameter 1,4 juta kilometer berada sejauh 150 juta kilometer dari bumi. Sinar panas yang sampai ke bumi memungkinkan terjadinya kehidupan. Permukaan matahari menggelegak, merebus gumpalan gas yang sangat panas dan terus bergolak seperti badai di lautan. Sumber gas yang berkobar memancar sampai ketinggian ribuan kilometer disebut dengan proyeksi atau prominensa. Akhirnya, proyeksi itu melengkung dan jatuh. Ledakan sangat besar yang sering terjadi disebut lidah api (flare). Lidah api menyemburkan partikel-partikel ke ruang angkasa dan bisa menyebabkan badai magnetik di bumi. Matahari memiliki energi yang membuat matahari tetap bersinar berada di pusat atau intinya. Tekanan pada inti matahari sangat besar, dan mencapai temperaturnya mencapai 15.000.000 C. Pada kondisi itu, atom gas hidrogen berubah menjadi helium. Proses ini disebut fusi (peleburan) nuklir dan menghasilkan jumlah energi yang sangat besar.

Matahari tersusun dari banyak lapisan. Dipusatnya adalah inti yang sangat panas, tempat menghasilkan energi. Energi ini keluar melalui radiasi dan mencapai lapisan lebih luar yang disebut daerah konveksi. Arus gas panas membawa energi ke permukaan (fotosfer), tempat energi itu terlepas dalam wujud sinar dan panas. Temperatur di permukaannya sekitar 1.000 C lebih dingin. Beberapa bintik matahari berkembang sampai lebih besar dari bumi.

PLANET

Kesembilan planet adalah anggota terpenting keluarga matahari. Berdasarkan dari jarak matahari urutan planet tersebut adalah merkurius, venus, bumi, mars, jupiter, saturnus, uranus, neptunus, dan pluto. Namun semenjak tahun 2006 pluto dianggap bukan anggota keluarga matahari lagi. Empat planet pertama adalah planet kecil berbatu. Empat planet berikutnya adalah planet raksasa yang sebagian besar terbentuk dari gas. Pluto adalah bola batu dan es yang kecil.

MERKURIUS

Merkurius adalah planet yang terdekat dengan matahari. Planet ini bergerak paling cepat karena mampu mengelilingi matahari hanya dalam waktu 88 hari. Karena demikian dekat dengan matahari, merkurius menjadi sangat panas. Permukaannya ditutupi ribuan kawah, sehingga lebih terlihat seperti bulan. Merkurius adalah planet berbatu paling kecil seperti bumi. Dengan diameter hanya 4.880 kilometer, ukurannya kurang dari setengah ukuran bumi. Planet pluto yang merupakan bola batu dan es yang sangat beku, ukurannya masih lebih kecil lagi.

Orbit merkurius memiliki orbit berbentuk oval. Kadang-kadang planet ini bergerak sejauh 70 juta kilometer dari matahari. Di lain waktu planet ini bergerak sejauh 46 juta kilometer. Merkurius sangat panas karena selama bergerak mengelilingi matahari, merkurius berputar sangat lambat pada porosnya, sehingga satu titik dipermukaannya bisa menghadap matahari membuat merkurius disinari matahari dalam waktu lama, sehingga temperatur permukaannya melonjak sampai 430 C. temperatur ini cukup panas untuk melelehkan timah.

Pembentuk permukaan merkurius terdiri dari lapisan yang berbeda-beda. Di bawah kerak berbatu terdapat selimut batuan, dan di pusatnya terdapat inti besi raksasa. Menyusutnya inti menyebabkan terbentuknya pegunungan besar setinggi tiga kilometer dipermukaan planet. Semua planet dihujani meteorit-meteoritraksasa. Di bumi, kawah-kawah akibat tumbukan meteorit sudah hilang karena kekuatan cuaca. Merkurius tidak mempunyai cuaca karena disana hampir tidak ada atmosfer. Jadi, kawah yang terbentuk pada zaman dulu masih tetap ada dan memenuhi seluruh planet. Satu kawah raksasa yang bernama Caloris Basin, terbentuk oleh meteor raksasa yang mengakibatkan gelombang kejut ke seluruh planet.

VENUS

Venus adalah planet yang orbitnya paling dekat dengan bumi. Venus sering terlihat dari bumi di langit barat setelah matahari terbenam. Oleh karena itu, planet ini disebut dengan bintang kejora. Ukuran venus hampir menyerupai bumi dengan diameter 12.100 km, tapi venus adalah dunia tanpa air dengan iklim yang membakar.

Venus memiliki permukaan ditutupi oleh daratan luas dilihat dari satelit angkasa. Ada dua pegunungan besar yang bisa dianggap sebagai benua. Satu berada di bagian utara dan disebut Aphrodite Terra. Dari bumi venus tampak berubah bentuk dan ukuran seiring dengan berjalannya waktu. Ini karena orbit venus lebih dekat dengan matahari dibandingkan dengan orbit bumi. Saat berada pada jarak terjauh dari matahari, venus hanya berupa bulatan kecil. Saat lebih dekat ke bumi, venus hanya berupa bulatan kecil. Saat lebih dekat ke bumi venus tampak semakin besar.

Venus tidak dapat dilihat permukaannya dari bumi. Hal itu, dikarenakan awan tebal di atmosfernya. Awan ini tidak seperti awan yang ada dibumi yang terbentuk dati tetes-tetes kecil air. Awan venus terbentuk dari tetes kecil asam sulfur, salah satu asam terkuat yang dikenal. Sulfur yang ada di atmosfernya berasal dari banyak gunung berapi yang meletus setipa tahun di venus. Melalui penyidikan ruang angkasa permukaan venus dapat dilihat setelah terhalangi oleh awan venus. Penyelidikan ruang angkasa melihatnya dengan sinar radar karena hanya sinar radar yang bisa menembus awan. Magellan adalah penyelidik ruang angkasa beradar yang berhasil memetakan seluruh planet antara tahun 1990 dan 1992.

BUMI

Bumi sebagian besar tampak berwarna biru. Warna ini disebabkan oleh lautan yang menutupi lebih dari duapertiga permukaan bumi. Wilayah daratan atau benua menutupi kurang dari sepertiga. Lapisan udara di atas permukaan bumi memang tipis, tapi memungkinkan kehidupan di bumi.

Bumi terbentuk sekitar 4.6 miliar tahun yang lalu, saat material-material di angkasa menyatu (1). Awalnya, bumi adalah bola besar cair (2). Secara bertahap, bumi menjadi dingin, sampai akhirnya terbentuk atmosfer dan lautan (3). Lambat laun, bumi menjadi dunia kita sekarang ini (4 dan 5), yang tersusun atas lapisan batuan dengan inti besi. Bumi masih terus berubah karena gelombang pada batuan di bawah kerak bumi bergerak memperlebar samudera dan memisahkan benua.

Ada perbedaan antara planet bumi dengan planet lainnya. Banyak hal yang membuat bumi berbeda dengan planet lain. Bumi diselimuti air laut yang sangat luas, dan atmosfernya mengandung banyak mengandung oksigen. Atmosfernya juga berfungsi seperti selimut yang menahan cukup panas, sehingga temperature bumi tetap nyaman. Karena air, oksigen, dan temperaturnya, bumi menjadi tempat yang cocok bagi makhluk hidup paling tidak, ada 1.5 juta jenis tanaman dan binatang yang hidup disini.

BULAN

Setiap objek atau satelit yang mengorbit sebuah planet disebut bulan. Bulan membutuhkan waktu 27,3 hari untuk sekali mengelilingi bumi. Bulan adalah tetangga terdekat bumi di ruang angkasa. Melalui teleskop, bulan dapat dilihat dengan jelas. Para astrounot juga sudah menjejakan kakinya untuk meneliti bulan. Ukuran bulan cukup kecil, sekitar seperempat diameter bumi. Bulan tidak mempunyai atmosfer, cuacu, dan kehidupan.

Ahli astronomi umumnya berpendapat bahwa bulan terbentuk setelah terjadi tumbukan benda besar lain ke bumi miliaran tahun lalu (1). Material dari bumi dan benda lain itu terlontar ke angkasa. Lambat laun, material ini menyatu membentuk buan (2). Inilah sebabnya mengapa bebatuan bulan berbeda dengan bebatuan bumi.

Permukaan bulan tertutup oleh ribuan lubang atau kawah. Kawah tersebut terbentuk akibat meteor dari ruang angkasa yang menghujaninya. Kawah yang besar kebanyakan mempunyai undakan atau teras, dinding, dan puncak gunung di tengahnya. Kawah terbesar diameternya lebih dari 200 kilometer. Beberapa kawah yang baru mempunyai guratan terang atau cahaya yang memancar dari kawah, sementara pada kawah “hantu” hanya terlihat tepiannya yang tipis.

MARS

Planet mars mudah kita kenali di langit malam, karena warnanya yang kemerah-merahan akibat oksidasi besi di daerah dekat permukaannya. Mars adalah nama dewa perang Yunani, planet ini diberi nama demikian karena warna merah Mars mengingatkan pada warna merah darah. Jaraknya dari Matahari sejauh 227,9 km.

Mars mempunyai bentuk yang lebih kecil dari Bumi. Garis tengahnya 6.800 km atau setengah diameter Bumi dan Venus. Waktu edar Mars mengelilingi Matahari adalah 1,88 tahun dan berotasi sekali dalam 24 jam 37 menit. Mars memiliki atmosfer tipis. Warna permukaannya berubah menurut warna-warni yang bersesuaian dengan musim menimbulkan dugaan adanya kehidupan tingkat rendah, seperti halnya tetumbuhan sederhana. Mars mempunyai dua satelit alam yaitu Phobos dan Deimos yang bentuknya tidak beraturan dan tidak bulan seperti halnya Bulan.

JUPITER

Jupiter adalah planet terbesar di dalam tata surya kita. Planet ini mempunyai 16 satelit. Empat yang terbesar adalah Io, Europa, Callisto, dan Ganymede. Keempat satelit ini diberi nama bulan Galilean karena ditemukan oleh Galileo Galilei, seorang astronom Italia. Jarak dari Matahari kita adalah 778,3 juta km.

Bagian terbesar materi Jupiter berupa gas, bukan padat seperti Bumi. Jupiter hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 jam untuk berotasi, jauh lebih cepat daripada rotasi planet yang kita huni. Noda merah besar Jupiter di sekitar ekuator merupakan corak paling mencolok pada planet itu. Diduga di bawah lapisan angkasan Jupiter yang tebal terdapat gunung api yang menimbul­kan noda merah tersebut.

SATURNUS

Di luar lintasan Jupiter kita akan menemukan planet yang paling indah, yaitu Saturnus. Jaraknya dari Matahari adalah 1427,0 juta km. Planet ini memiliki sistem cincin yang simetris, yang memperlihatkan keagungan tak tertandingi. Ada tiga lapisan cincin pada planet ini yang dipisahkan oleh garis batas Cassini. Cincin ini terbentuk dari jutaan partikel lembut yang saling terpisah.

Cincin cemerlang ini diduga berasal dari satelit yang tidak pernah terbentuk, karena letaknya yang terlalu dekat dengan Sa­turnus. Gaya ganggu Saturnus membuat calon satelit itu tidak stabil.

Dalam banyak hal Saturnus mirip dengan Jupiter. Angkasa planet ini terdiri dari gas metan (CH4). Saturnus memiliki ba­nyak satelit, yakni 14 buah. Karena jaraknya yang jauh dari Matahari, atmosfer Saturnus sangat dingin, hanya bisa mencapai 100 derajat Kelvin.

URANUS

KIRA-KIRA dua abad setelah ditemukannya teleskop oleh Galileo tahun 1609, Sir William Herschel dari Inggris secara kebetulan mene­mukan suatu bulatan redup kecil di antara titik-titik bintang. Pada mulanya benda redup itu diduga sebuah komet tetapi kenyataannya planet. Planet ini diberi nama Uranus. Jarak rata-ratanya dari Matahari kita adalah 2871,0 juta km.

Uranus juga memiliki cincin, bahkan sampai 5 lapis. Tetapi cincin-cincin itu tipis sekali dan sulit diamati. Planet yang terdiri atas gas metan ini memiliki 15 satelit. Waktu rotasinya sangat pendek, yaitu hampir 11 jam saja. Suhu angkasanya sangat rendah, yaitu 90 de­rajat Kelvin.

NEPTUNUS

Planet pada urutan kedelapan dari tata surya kita ini tergolong planet raksasa bersama Jupiter, Saturnus, dan Uranus. Garis tengah Neptunus 52.290 km, atau kira-kira empat kali garis tengah Bumi. Jarak rata-ratanya dari Matahari adalah 4497,0 juta km dengan periode rotasi 22 jam. Untuk sekali mengitari Matahari, Neptunus memerlukan waktu 165 tahun. Planet gas ini hanya memiliki dua buah satelit, yaitu Triton dan Neroid.

Para astronom kemudian menemukan sekitar 1000 obyek kecil lain di belakang Neptunus (disebut obyek Trans-Neptunus) yang juga menge­lilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 obyek serupa yang dikenal sebagai obyek Sabuk Kuiper. Belasan benda langit termasuk da­lam obyek sabuk Kuiper di antaranya Quasar (1250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 ELGI (1500 km pada Maret 2004). Penemuan 2003 ELGI cukup menghebohkan karena obyek sabuk Kuiper ini diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan UB 313 (2700 km pada Oktober 2003) yang diberi nama oleh penemunya Xena. Selain lebih besar dari Pluto, obyek ini juga memiliki satelit.

ASTEROID

Benda langit ini merupakan anggota tata surya yang menempati orbit antara orbit Mars dengan orbit Jupiter (Sabuk Utama Aste­roid). Asteroid atau planet minor ini berukuran sangat kecil dengan diameter berkisar antara 200 – 800 km. Sampai sekarang telah di­temukan sekitar 3.000 buah asteroid.

Asteroid pertama yang ditemukan diberi nama Ceres oleh penemunya, Piazzi, seorang astronom Italia pada tahun 1801. Ceres juga merupakan asteroid yang paling besar, yakni diameternya mencapai 770 km. Diduga asteroid berasal dari sebuah planet yang mungkin telah terbentuk antara Mars dan Jupiter, tetapi kemudian terpecah belah oleh efek gaya ganggu Jupiter.

KOMET

Benda langit yang satu ini menarik perhatian orang Bumi karena menampakkan ekor yang panjang ketika melintas di dekat Bumi dengan cepat, lalu le­nyap dan kerap kali tak terlihat lagi. Pada saat jauh dari Matahari, komet bergerak lambat. Makin cepat geraknya ketika komet mendekati Matahari. Pada saat itu, gas pada inti komet yang dinamakan nukleus mulai menguap, sehingga inti itu menjadi besar. Sebuah ekor cemerlang akibat debu dan gas yang terhembus dari inti mulai menjulur pada arah yang berlawanan dengan Matahari. Makin dekat sebuah komet dengan Matahari, semakin panjang ekor tersebut, dan akibat angin Matahari arah komet menjauhi Matahari. Bersamaan dengan geraknya menjauhi Matahari, ekor komet mengecil lagi, sampai akhirnya tidak terlihat.

Salah satu komet yang terkenal adalah Komet Halley yang ditemukan oleh seorang astronom Inggris, Sir Edmund Halley. Komet Halley ini mengor­bit Matahari dan Jupiter dengan periode 76 tahun. Ada juga komet yang berperiode pendek, sekitar 3 tahun seperti Komet Encke.

Komet adalah anggota terkecil dalam tatasurya. Komet merupakan bongkahan es dan debu. Kebanyakan komet ditemukan di bagian paling luar tata surya, tempat yang sukar diamati. Komet hanya bias dilihatsaat mendekati matahari dan mulai mencair, sampai cukup terang untuk bersinar seperti lentera di langit. Dari semua komet, komet Halley lah yang paling terkenal, komet ini ditemukan oleh Edmond Halley. Komet halley bisa dilihat dengan mata telanjang.

Ketika komet jauh dari matahari kita tidak dapat melihatnya karena padat membeku. Saat mendekati matahari permukaannya menjadi hangat dan sebagian permukaan yang merupakan es meleleh menjadi gas. Gas ini kemudian bercampur debu yang terlepas dan membentuk awan. Awan akan berpendar ketika terkena sinar matahari sehingga komet dapat terlihat. Saat melintas di langit, komet bisa merentang sampai ratusan ribu kilometer. Itulah ukuran awan gas dan debu yang menggelembung, yang membentuk kepala dan ekor komet. Di bagian yang padat, inti komet berukuran jauh lebih kecil dan diameternya hanya beberapa kilometer..

Dalam perjalanannya kearah matahari, komet bisa melintas dekat dengan salah satu planet. Saat itu gravitasi planet menarik komet dari jalur normalnya. Jika terlalu dekat, komet akan menabrak planet. Tahun 1994, pecahan komet Shoemaker Levy 9 menabrak planet Jupiter. Stiap pecahan yang menabrak atmosfer jupiter akan membentuk bola api besar yang meledakkan awan gas yang besar.

METEOR

Pada malam hari sering tampak kilatan cahaya terang berkelebat di langit. Orang menyebutnya ’’bintang jatuh’’. Sebetulnya itu adalah benda langit yang masuk ke dalam atmosfer Bumi. Karena bergesekan dengan udara, maka suhu meteor naik dan benda itu akan memijar lalu menguap. Peristiwa pijaran itulah yang disebut meteor. Sedangkan benda langit yang memasuki atmosfer Bumi dinamakan meteorid. Biasanya meteorid akan habis terbakar di at­mosfer sebelum mencapai permukaan Bumi. Tetapi ada juga yang tidak habis terbakar hingga jatuh ke permukaan Bumi. Benda itulah yang disebut me­teorit.

Ruang di antara benda-benda langit tersebut bukan ruang kosong, melainkan ruang yang diisi oleh partikel debu antarplanet, sisa pembentukan planet.

Meteorid yang masuk ke atmosfer bumi kebanyakan berupa bongkahan kecil. Namun kebanyakan ada yang sebesar kerikil. Meteorid yang lebih besar ini terbakar lebih lama dan lebih terang, sehingga membentuk objek yang bersinar yang kita sebut bola api. Meteorid ruang angkasa menghujani bumi sepanjang waktu. Saat ketinggiannya sekitar 120 kilometer dari tanah, udara bergesekan dengannya, sehingga berpijar putih membara. Saat itulah kita melihat lintasan cahaya yang kita sebut meteor.

Ceres adalah asteroid terbesar dengan diameter sekitar 1.000 km yang ditemukan pada tahun 1891. Diameter Pallas dan Vesta sekitar 550 km. Kebanyakan asteroid berdiameter hanya puluhan kilometer. Sampai beberapa waktu lalu, ahli astronomi masih yakin jika asteroid adalah sisa-sisa dari planet lain. Mereka yakin bahwa planet ini bergerak terlalu dekat dengan jupiter dan hancur karena tertarik gravitasinya. Tapi sekarang, ahli astronomi menganggap asteroid sebagai kumpulan bongkahan yang tak pernah menyatu membentuk planet atau bulan.

Kurikulum

KURIKULUM

Secara Etimologis :

  • Curriculum berasal dari kata currere (latin) yang berlari cepat.
  • Curriculum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai dengan finish.

Ø Menurut kamus webster’s (1857), sejumlah mata pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa untuk mendapatkan ijazah atau naik kelas.

Ø Menurut William B. Ragan, semuya pengalaman yang diperoleh anak dibawah tanggung jawab sekolah.

Ø J. Gallen Saylor dan M. Alexander, segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, baik dilaksanakan di dalam ruangan.

Ø Soedijarto, segala pengalaman dan kegiatan belajar yang direncanakan untuk diatasi oleh siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Ø UU No. 20 tahun 2003, seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran.

Kurikulum sebagai satu system memiliki komponen-komponen pokok:

1. Tujuan

2. Isi/materi

3. Organisasi dan strategi/ kegiatan belajar dan pembelajaran.

4. Evaluasi

Landasan Kurikulum

Ø Filosofis/yuridis

  • System nilai/pandangan hidup yang dianut oleh suatu masyarakat.
  • Peraturan perundang-undangan.

Ø Psikologis, karakteristik peserta didik.

Ø Sosiologis, karakteristik masyarakat.

Ø Organisatoris, desain yang tepat dan fungsional.

Prinsip-prinsip Pengembangan Purikulum.

1. Relevansi kurikulum harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik

2. Tuntutan dunia kerja.

3. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Ø Efisiensi, dalam hal waktu; tenaga; dan biaya.

Ø Efektifitas, dalam mencapai tujuan pembelajaran baik oleh guru dalam melaksanakan program pembelajaran maupun siswa.

Ø Kontinuitas, adanya kesinambungan dalam isi dan program, antara satu kelas ke kelas berikutnya, antara satu sekolah ke sekolah di atasnya

Ø Fleksibelitas, memiliki keluwesan dalam pemilihan program-program oleh siswa dan pengembangan program oleh guru.

Desain Organisasi Kurikulum

1. Separte Subject Curriculum,

2. Broadfild Curriculum, dan

3. Integrated curriculum.

Pendekatan Pengembangan Kurikulum

1. Berorientasi pada bahan

2. Berorientasi pada tujuan

3. Berorientasi pada kompetensi.

Kurikulum berbasis kompetensi, yaitu, kurikulum yang ditujukan untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya dan bangsanya. Kompetensi yang dikembangkan berupa keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidak-tentuan. Ketida-pastian, kerumitan-kerumitan dalam hidup.

Prinsip-prinsip Pengembangan KBK.

Ø Keseimbangan etika, logika, kinestetik.

Ø Kesamaan memperoleh kesempatan.

Ø Memperkuat identitas nasional.

Ø Menghadapi abad pengetahuan.

Ø Menyongsong tantangan teknologi informasi dan komunikasi

Ø Mengembangkan keterampilan hidup.

Ø Mengintegrasikan unsure-unsur penting dalam kurikuler.

Ø Pendidikan alternatif.

Ø Berpusat pada anak sebagai pusat pengetahuan.

Ø Pendidikan multikultural dan multi bahasa.

Ø Penilaian berkelanjutan dan komprehensif.

KEGIATAN RELAWAN SEBAGAI AKTIVITAS BELAJAR MENYENANGKAN

KEGIATAN RELAWAN SEBAGAI AKTIVITAS BELAJAR MENYENANGKAN

Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa. Contoh, seseorang yang tidak tahu apa arti dari kata teman setelah melalui belajar akan ada perubahan mengenai pemaknaan teman itu sendiri; dan seseorang yang tidak memiliki kemampuan komunikasi massa setelah belajar menjadi pandai berbicara di khalayak umum.

Belajar pada dasarnya dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja, dan dengan berbagai cara untuk belajar. Tentunya, hal tersebut selaras dengan pendidikan yang saat ini saya sedang menimba ilmu Pendidikan Luar Sekolah pada universitas berstatus negeri di Jakarta. Lalu hal yang dipelajari pun sangat bebas tergantung bagaimana seseorang itu memiliki minat untuk belajar. Karena hal tersebut adalah sebuah jawaban dari pertanyaan mengapa harus belajar. Tidak itu saja, satu hal terpenting dalam belajar adalah ”dalam belajar harusnya diimbangi dengan perasaan senang tanpa ada paksaan”. Mengapa? Karena dengan rasa senang, segala hal yang dipelajarai dapat dengan mudah untuk dipahami dan dimengerti. Sebaliknya, jika belajar di dampingi dengan rasa terpaksa, alhasil semua yang dipelajari juga akan berantakan dan sulit dilakukan.

Seperti halnya kegiatan Relawan yang menyenangkan merupakan sebuah cara belajar. Mengapa dikatakan demikian? Karena secara tidak disadari dari setiap kegiatan yang dilakukan relawan menjadi sebuah bahan belajar, saya contohnya. Saya beruntung menjadi relawan. Karena dengan menjadi relawan, saya telah mengembangkan diri. Hal ini jarang sekali didapatkan di kampus. Singkatnya, menjadi relawan sangat membantu dalam kegiatan belajar secara formal di institusi dengan sistem yang formal juga. Menjadi relawan juga dapat dikatakan sebagai subtitusi dan komplementar belajar.

Saat ini saya sebagai Relawan Yappika telah banyak belajar dari kegiatan-kegiatan Yappika. Kegiatan-kegiatan yang telah saya ikuti, yaitu :

1. Penggalangan Petisi untuk RUU Pelayanan Publik.

Dari di kegiatan ini saya belajar mengenai cara pengumpulan data dari sebuah instrumen yang berbentuk petisi. Hal ini telah melatih untuk belajar dimana nantinya saya akan diketemukan dengan pengumpulan data untuk skripsi yang sebagai proses akhir belajar di perguruan tinggi. Tidak itu saja, dari kegiatan ini terdapat juga belajar persuasi secara partisipatif dimana orang lain diminta keikut sertaanya.

2. Gahtering

Dari kegiatan ini ini banyak sekali makna yang dapat diambil manfaatnya. Gahtering sendiri menurut pandangan saya merupakan sebuah evaluasi belajar relawan selama beberapa waktu. Selai itu, capacity building pada relawan pun turut di tingkatkan. Tidak hanya itu saja, kegiatan ini juga merupakan pertemuan untuk lebih saling mengenal diantara relawan dan juga tercipta hubungan keluarga sesama relawan.

3. lain-lain

Masih banyak sekali kegiatan lainnya yang mungkin jika dituliskan tidak akan terasa dapat menghabis ratusan lembar halaman untuk diungkapkan.

Jelasnya, kegiatan relawan sangat mengasyikan dan membuat hati senang dan nyaman. Serta, kegiatan relawan bagi saya adalah sebagai wadah untuk mengekspresikan diri yang mungkin bisa dibilang ”narzis” seperti hal-hal berikut ini :

Created by : Sir Hanmetan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.