My Weblog

Just another WordPress.com weblog

Tugas Psikologi sosial (Kohesivitas)

PENDAHULUAN

Pada tanggal 21-27 oktober 2006, Tim Mahasiswa Indonesia terbang ke negeri tirai bambu (China) tepatnya di Tianjin. Mereka, terdiri dari Mario Mambu dengan pasangannya Cliff Tangkuman, Suci Amita Dewi dengan Christina Wahyu, dan Arie Maramis dengan Steward Bayung yang didampingi kapten Parpar Pryatna bergabung dengan dua puluh enam tim lainnya dari dua puluh dua negara yang dipastikan bakal mengikuti turnamen tahunan ini.

Mahasiswa Indonesia mempunyai target untuk membawa pulang hasil dengan masuk sepuluh besar. Target mereka tidak terlalu tinggi karena minimnya persiapan mereka untuk menghadapi pertandingan tahun ini. Akan tetapi, semangat mereka tidaklah surut untuk melawan Kanada atau untuk bertanding dalam 27 ronde.

Mereka mempunyai target yang disampaikan oleh pelatih Indonesia FerdyWaluyan menjadi sepuluh besar. Hal itu dikarenakan persiapan mereka yang kurang matang. Akan tetapi, Ketua Umum Pengurus Besar GABSI berharap besar kepada mereka untuk selalu kompak untuk mendapatkan hasil yang maksimal, bertanding dengan kondisi prima, dan lain-lainnya.

TOPSKOR. 18 Oktober 2006.

PEMBAHASAN

1. Kohesivitas.

Kohesivitas merupakan kekuatan interaksi dari anggota suatu kelompok. Kohesivitas ditunjukkan dalam bentuk keramahtamahan antar anggota kelompok, mereka biasanya senang untuk bersama-sama. Masing-masing anggota merasa bebas untuk mengemukakan pendapat dan sarannya. Anggota kelompok biasanya juga antusias terhadap apa yang ia kerjakan dan mau mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan kelompoknya. Merasa rela menerima tanggung jawab atas aktivitas yang dilakukan untuk memenuhi kewajibannya. Semua itu menunjukan adanya kesatuan, kereratan, dan saling menarik dari anggota kelompok.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kohesivitas/kepaduan.

Ø Kesamaan nilai dan tujuan.

Kohesivitas akan terjadi bila anggota kelompok memiliki sikap, nilai dan tujuan yang sama.

Ø Keberhasilan dalam mencapai tujuan.

Keberhasilan dalam mencapai tujuan yang penting dapat meningkatkan kesatuan kelompok, kepuasan antar anggota kelompok dan membuat kelompok menjadi lebih menarik bagi anggotanya.

Ø Status kelompok.

Kelompok yang memiliki status atau kedudukan yang lebih tinggi lebih menarik bagi para anggotanya.

Ø Penyelesaian perbedaan.

Jika terjadi perbedaan tentang suatu masalah penting yang terjadi dalam kelompok, maka diperlukan penyelesaian yang dapat memuaskan semua anggota.

Ø Kecocokan terhadap norma-norma.

Norma membantu dan mempermudah dalam meramalkan dan mengendalikan perilaku yang terjadi dalam kelompok.

Ø Daya tarik pribadi.

Kohesivitas atau kepaduan akan meningkat jika terdapat adanya daya tarik dari para anggota yaitu adanya kepercayaan timbal balik dan saling memberikan dukungan. Daya tarik ini berfungsi untuk mengatasi hambatan dalam mencapai tujuan.

Ø Persaingan antar kelompok.

Persaingan antar kelompok yang terjadi dapat menyebabkan anggota kelompok lebih erat dan bersatu dalam melakukan aktivitasnya.

Ø Pengakuan dan penghargaan.

Jika suatu kelompok berprestasi dengan baik kemudian mendapat pengakuan dan penghargaan dari pimpinan, maka dapat meningkatkan kebanggaan dan kesetian dari anggota kelompok.

Ø Pengalaman yang tidak menyenangkan dengan kelompok.

Ketika anggota kelompok tidak menarik antara satu sama lainnya atau kurang kepercayaan di antara mereka atau adanya pengalaman yang tidak menyenangkan dapat menurunkan adanya tingkat kepaduan.

Ø Persaingan intern antar anggota kelompok.

Persaingan intern anggota kelompok menyebabkan adanya konflik, permusuhan dan mendorong adanya perpecahan di antara anggota kelompok.

Ø Dominasi.

Jika satu atau lebih anggota kelompok mendominasi kelompok atau karena sifat kepribadian tertentu yang cenderung tidak senang berinteraksi dengan anggota kelompok maka kepaduan atau kohesivitas tidak akan berkembang. Prilaku seperti itu akan menimbulkan terjadinya klik-klikdalam kelompok yang dapat menurunkan tingkat kepaduan.

Faktor-faktor yang dapat menurunkan tingkat kohesivitas/kepaduan.

Adanya sejumlah faktor yang dapat menurunkan adanya kohesivitas, seperti adanya ketidaksamaan tentang tujuan, besarnya kelompok, pengalaman yang tidak menyenangkan dengan kelompok dan dominasi.

Ø Ketidaksamaan tentang tujuan.

Ketidaksamaan pandangan tentang tujuan dari para anggota kelompok dapat menimbulkan adanya konflik. Bila konflik yang terjadi tuidak dapat dikendalikan dapat menyebabkan adanya penurunan tingkat kepaduan.

Ø Besarnya anggota kelompok.

Sejalan dengan bertambah besarnya kelompok, maka frekuensi interaksi di antara anggota kelompok akan menurun. Dengan demikian dapat menurunkan tingkat kepaduan.

2. Alasan-alasan terbentuknya kelompok.

Terbentuknya berbagai kelompok dalam kehidupan manusia merupakan wujud dari hakikat manusia, khususnya dari dimensi kesosialannya. Manusia adalah makhluk sosial tang tak mungkin dapat hidup berkembang secara layak apabila ia hidup sendiri dan menyendiri. Oleh akrna itulah, manusia berkelompok atau membentuk sebuah kelompok untuk hidup bersama dan berkumpul.

Kelompok pada dasarnya dimuali dari berkumpulnya sejumlah orang. Orang-orang ini menjunjung suatu atau beberapa kualitas tertentu sehingga dengan demikian kumpulan tersebut menjadi sebuah kelompok. Tetapi perlu diingat bahwa orang yang berkumpul dalam sebuah ruangan dan berjumlah besar tidak dapat dikatakan sebagai kelompok dikarenakan tidak adanya kesepakatan atau konsensus dalam mencapai sebuah tujuan atau tepatnya menjunjung suatu atau beberapa kualitas.

Adanya suatu kelompok tidak harus diawali dengan adanya kerumunan. Suatu kelompok dapat segera terjadi, yaitu apabila sebelum orang-orang yang bersangkutan berkumpul terlebih dahulu kepada mereka diberitahukan tujuan yang akan dicapai.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kelompok, antara lain :

v Adanya interaksi antar orang-orang yang ada di dalam kumpulan atau suatu kerumunan.

v Ikatan emosional sebagai pernyataan kebersamaan.

v Tujuan atau kepentingan bersama yang ingin dicapai.

v Kepemimpinan yang dipatuhi dalam rangka mencapai tujuan atau kepentingan bersama.

v Norma yang diakui dan diikuti oleh mereka yang terlibat di dalamnya.

Akan tetapi, tidak semua kelompok harus dilatar belakangi oleh faktor-faktor diatas. Walaupun sebagian besar dipengaruhinya karena bisa saja ada beberapa faktor lainnya yang berbeda.

Selain faktor di atas ada juga beberapa alasan mengapa orang mau memasuki suatu kelompok secara sukarela, yaitu :

v Dalam kelompok dapat dicapai tujuan atau kepentingan pribadi yang penting, misalnya kedudukan dan penghargaan.

v Kelompok menyajikan kegitan yang menarik, misalnya diskusi, menjelajah alam, olahraga, dan lain-lainnya.

v Dapat memenuhi kebutuhan pribadi dalam kelompok, misalnya kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki.

Terjadinya kelompok menurut orientasi psikologi.

1. Teori perkembangan.

Bennis dan Sheppard (dipengaruhi oleh psikoanalisis), 1956, pencarian otoritas seseorang masuk kedalam suatu kelompok dengan keraguan siapa di dalam kelompok itu yang menjadi tokoh otoritas dan ingin melepaskan diri dari otoritas tersebut.

Tahap-tahap perkembangan kelompok.

a. Tahap otoritas.

· Tahap ketergantungan terhadap otoritas (tahap awal).

· Pemberontakan (tahap yang dicerminkan dengan kesesuaian para anggota).

· Pencairan (pengakuan anggota terhadap tokoh otoritas yang dianggap pantas atau sesuai).

b. Tahap pribadi.

· Tahap harmoni (sesuai dengan harapan anggota karena produktivitas tinggi).

· Tahap identitas pribadi (tekanan terhadap identitas diri anggota kelompok).

· Tahap pencairan masalah pribadi (sesama anggota saling menerima segala bentuk hal dengan anggota kelompok).

2. Teori hubungan pribadi atau FIRO-B (Fundamental Interpersonal Relation Orientation Behavior).

Schutz (dipengaruhi oleh teori psikoanalisis), 1958, kebutuhan dasar dalam hubungan antar individu dengan individu lainnya. Ada tiga macam kebutuhan dasar pada manusia mengenai kelompok, yaitu : (1) Inklusif, (2) kontrol, (3) afeksi.

Inklusif, kebutuhan untuk terlibat dan termasuk dalam kelompok. Kontrol, kebutuhan akan arahan, petunjuk, dan pedoman berperilaku dalam kelompok. Afeksi, kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian dalam kelompok.

3. Teori sintalitas kelompok.

Cattell (1948-1951), sintalitas adalah kepribadian yang khusus digunakan untuk mempelajaricara menguraikan dan mengukur sifat-sifat dan perilaku kelompok. Cattell mengemukakan bahwa eksistensi suatu kelompok dapat memenuhi kebutuhan individu jika sebuah kelompok tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan anggota-anggotanya.

3. Sikap

Diwakili oleh Chave. Bogardus, La Pierre, Mead dan Gordon W. Allport (Ahli bidang psikologi sosial dan psikologi kepribadian), sikap adalah suatu pola perilaku, tendensi atau persiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan.

Komponen Dasar Sikap :

1. Kognitif, terdiri dari seluruh kognisi yang dimiliki seseorang mengenai objek sikap tertentu, fakta, pengetahuan dan keyakinan tentang objek.

2. Afektif, terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap objek terutama penilaian.

3. Konatif (perilaku), terdiri dari persiapan seseorang untuk bereaksi atau kecenderungan untuk bertindak terhadap objek.

Fungsi Sikap :

Menurut Katz, sikap mempunyai 4 fungsi, yaitu :

1. Fungsi Instrumental atau fungsi penyesuaian atau fungsi manfaat.

2. Fungsi Pertahanan Ego.

3. Fungsi Ekspresi Nilai.

4. Fungsi Pengetahuan

Ciri Sikap :

1. Sikap tidak dibawa sejak lahir.

2. Sikap selalu berhubungan dengan objek sikap.

3. sikap dapat bertuju pada satu objek saja atau pada sekumpulan objek-objek.

4. sikap dapat berlangsung lama atau sebentar.

5. sikap mengandung faktor perasaan dan motivasi.

Determinan Sikap :

1. Faktor fisiologis.

2. Faktor pengalaman langsung terhadap objek sikap.

3. Faktor kerangka acuan.

4. Faktor komunikasi sosial.

Analisis.

Pada contoh kasus di atas yang diambil dari TOPSKOR tertanggal 18 Oktober 2006 dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai teori kohesivitas/kepaduan, teori pembentukan kelompok, dan juga teori sikap.

Pada kohesivitas dapat dilihat pada beberapa tutur kata dari Ketua Umum Pengurus Besar GABSI, ”harus tampil prima menghadapi setiap lawan. Jangan lengah, jangan emosi dan jagalah selalu kekompakan agar meraih hasil maksimal.”(TOPSKOR, 18 Oktober 2006). Dari situ sudah nampak sedikit gejala-gejala kohesivitas/kepaduan. Tidak hanya itu saja, pada teori kohesivitas khususnya pada faktor-faktor yang meningkatkan kohesivitas dikatakan bahwa kesamaan nilai dan tujuan dan juga pada keberhasilan mencapai tujuan dapat dilihat dari pernyataan bahwa mereka akan masuk sepuluh besar walaupun tujuan itu belum ditangan mereka. Selain itu juga, ada beberapa kesimpulan lain yang dapat diambil diantaranya mengenai persaingan antar kelompok yang tersirat dalam pertandingan melawan Kanada atau dalam 27 ronde melawan tim atau kelompok lain. Setelah mereka berhasil kemungkinan mereka akan mendapatkan pengakuan dan juga penghargaan dai masyarakat indonesia GABSI khususnya.

Pada kasus di atas juga ditemukan mengenai pembentukan kelompok. Tim yang disebutkan di contoh kasus ini dinyatakan sebagai kelompok. Karena sesuai dengan mengapa orang mau memasuki suatu kelompok secara sukarela. Pada tim ini dapat dicapai pengakuan dan penghargaan pada setiap anggota tim, kegiatan kelompok ini berupa olahraga berbentuk permainan kartu, dan kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki dengan sesama anggota tim. Pada teori FIRO-B juga terdapat pada kasus ini tepatnya pada kebutuhan Inklusif (anggota tim selalu ingin terlibat dalam setiap kegiatan yang dibuat oleh tim), kebutuhan kontrol (pada setiap anggota tim memerlukan arahan dari seorang kapten, Parpar Pryatna, dan juga seorang pelatih, Ferdy Waluyan), dan Afeksi (anggota kelompok selalu saling memperhatikan satu sama lainnya).

Penutup

Saran

Sebaiknya sebelum bertanding dipersiapkan semua aspek sehingga mencapai keberhasilan agar tingkat kohesivitasnya semakin meningkat.

Rekomendasi

Diberikan penyuluhan terlebih dahulu tentang motivasi untuk meningkatkan kohesivitas/kepaduan agar semuanya membuahkan hasil yang maksimal.

April 8, 2009 Ditulis oleh prari007luck | Artikel | , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

GALAKSI

GALAKSI

Galaksi adalah kepulauan bintang yang terbentuk atas bintang-bintang membentuk pulau di ruang angkasa. Galaksi memiliki bentuk dan ukuran berbeda. Beberapa diantaranya di sebut galaksi palang spiral. Galaksi ini mempunyai lengan melengkung yang terbentuk dari palang yang melewati pusatnya. Galaksi spiral biasa tidak mempunyai palang. Galaksi elips mempunyai bentuk oval. Galaksi dengan bentuk tak tentu di sebut galaksi tak beraturan (irregular). Galaksi sendiri terbentuk dalam awan gas raksasa yang gelap, sehingga cahaya pun butuh waktu ratusan ribu tahun untuk menembusnya. Seiring waktu, gaya gravitasi mulai mengumpulkan partikel-partikel gas, secara bertahap awan gas menyusut dan menjadi lebih padat. Ketika di sana-sini menjadi cukup padat untuk membentuk bintang dan pada saat yang sama, awan gas mulai berputar dan menipis.

Kluster adalah kelompok ribuan galaksi terdapat ruang angkasa. Sedangkan galaksi dimana tempat kita hidup disebut milky way/ bima sakti, galaksi terbesar kedua setelah andromeda.

TATA SURYA

Matahari seolah mengelilingi bumi, tapi yang benar adalah kebalikannya. Bumi merupakan bagian dari keluarga matahari atau tata surya. Dan bumi adalah salah satu planet yang mengelilingi matahari. Jarak bumi ke matahari mendekati 150 juta kilometer.

Lalu bagaimana dengan keadaan saat tata surya lahir :

  1. sekitar 5 miliar tahun lalu, tata surya terlahir sebagai awan gas dan debu yang besar. Awan yang disebut nebula ini, banyak tersebar di ruang angkasa, di antaranya bintang-bintang.
  2. Sebagian dari awan itu mejadi sangat padat. Gas dan debu di wilayah itu mulai berkumpul di bawah tarikan gravitasinya. Akhirnya, terbentuklah gumpalan bola.
  3. Bola itu membesar dan semakin hangat. Perlahan, bola itu mulai bersinar dan membentuk “bayi” matahari saat umurnya sekitar 100.000 tahun.
  4. Bayi matahari berputar cepat dan melemparkan gumpalan material ke angkasa. Pada saat yang sama, material itu menyusut dan menjadi semakin panas.
  5. Pada waktunya, bayi matahari menjadi cukup panas untuk menghasilkan reaksi nuklir. Reaksi itu menghasilkan energi yang sangat besar untuk bersinar saat “tumbuh” menjadi bintang.
  6. Pusaran materi yang sebelumnya terlempar dari matahari mulai menggumpal. Gumpalan itu semakin besar dengan lintasan yang berbeda dengan matahari.
  7. Gumpalan yang besar tumbuh menjadi planet yang dikenal sekarang. Gumpalan yang lebih kecil membentuk bulan dari planet-planet itu dan yang paling kecil membentuk asteroid.

MATAHARI

Matahari adalah bintang, seperti bintang lainnya. Matahari adalah bola gas yang sangat panas, memiliki diameter 1,4 juta kilometer berada sejauh 150 juta kilometer dari bumi. Sinar panas yang sampai ke bumi memungkinkan terjadinya kehidupan. Permukaan matahari menggelegak, merebus gumpalan gas yang sangat panas dan terus bergolak seperti badai di lautan. Sumber gas yang berkobar memancar sampai ketinggian ribuan kilometer disebut dengan proyeksi atau prominensa. Akhirnya, proyeksi itu melengkung dan jatuh. Ledakan sangat besar yang sering terjadi disebut lidah api (flare). Lidah api menyemburkan partikel-partikel ke ruang angkasa dan bisa menyebabkan badai magnetik di bumi. Matahari memiliki energi yang membuat matahari tetap bersinar berada di pusat atau intinya. Tekanan pada inti matahari sangat besar, dan mencapai temperaturnya mencapai 15.000.000 C. Pada kondisi itu, atom gas hidrogen berubah menjadi helium. Proses ini disebut fusi (peleburan) nuklir dan menghasilkan jumlah energi yang sangat besar.

Matahari tersusun dari banyak lapisan. Dipusatnya adalah inti yang sangat panas, tempat menghasilkan energi. Energi ini keluar melalui radiasi dan mencapai lapisan lebih luar yang disebut daerah konveksi. Arus gas panas membawa energi ke permukaan (fotosfer), tempat energi itu terlepas dalam wujud sinar dan panas. Temperatur di permukaannya sekitar 1.000 C lebih dingin. Beberapa bintik matahari berkembang sampai lebih besar dari bumi.

PLANET

Kesembilan planet adalah anggota terpenting keluarga matahari. Berdasarkan dari jarak matahari urutan planet tersebut adalah merkurius, venus, bumi, mars, jupiter, saturnus, uranus, neptunus, dan pluto. Namun semenjak tahun 2006 pluto dianggap bukan anggota keluarga matahari lagi. Empat planet pertama adalah planet kecil berbatu. Empat planet berikutnya adalah planet raksasa yang sebagian besar terbentuk dari gas. Pluto adalah bola batu dan es yang kecil.

MERKURIUS

Merkurius adalah planet yang terdekat dengan matahari. Planet ini bergerak paling cepat karena mampu mengelilingi matahari hanya dalam waktu 88 hari. Karena demikian dekat dengan matahari, merkurius menjadi sangat panas. Permukaannya ditutupi ribuan kawah, sehingga lebih terlihat seperti bulan. Merkurius adalah planet berbatu paling kecil seperti bumi. Dengan diameter hanya 4.880 kilometer, ukurannya kurang dari setengah ukuran bumi. Planet pluto yang merupakan bola batu dan es yang sangat beku, ukurannya masih lebih kecil lagi.

Orbit merkurius memiliki orbit berbentuk oval. Kadang-kadang planet ini bergerak sejauh 70 juta kilometer dari matahari. Di lain waktu planet ini bergerak sejauh 46 juta kilometer. Merkurius sangat panas karena selama bergerak mengelilingi matahari, merkurius berputar sangat lambat pada porosnya, sehingga satu titik dipermukaannya bisa menghadap matahari membuat merkurius disinari matahari dalam waktu lama, sehingga temperatur permukaannya melonjak sampai 430 C. temperatur ini cukup panas untuk melelehkan timah.

Pembentuk permukaan merkurius terdiri dari lapisan yang berbeda-beda. Di bawah kerak berbatu terdapat selimut batuan, dan di pusatnya terdapat inti besi raksasa. Menyusutnya inti menyebabkan terbentuknya pegunungan besar setinggi tiga kilometer dipermukaan planet. Semua planet dihujani meteorit-meteoritraksasa. Di bumi, kawah-kawah akibat tumbukan meteorit sudah hilang karena kekuatan cuaca. Merkurius tidak mempunyai cuaca karena disana hampir tidak ada atmosfer. Jadi, kawah yang terbentuk pada zaman dulu masih tetap ada dan memenuhi seluruh planet. Satu kawah raksasa yang bernama Caloris Basin, terbentuk oleh meteor raksasa yang mengakibatkan gelombang kejut ke seluruh planet.

VENUS

Venus adalah planet yang orbitnya paling dekat dengan bumi. Venus sering terlihat dari bumi di langit barat setelah matahari terbenam. Oleh karena itu, planet ini disebut dengan bintang kejora. Ukuran venus hampir menyerupai bumi dengan diameter 12.100 km, tapi venus adalah dunia tanpa air dengan iklim yang membakar.

Venus memiliki permukaan ditutupi oleh daratan luas dilihat dari satelit angkasa. Ada dua pegunungan besar yang bisa dianggap sebagai benua. Satu berada di bagian utara dan disebut Aphrodite Terra. Dari bumi venus tampak berubah bentuk dan ukuran seiring dengan berjalannya waktu. Ini karena orbit venus lebih dekat dengan matahari dibandingkan dengan orbit bumi. Saat berada pada jarak terjauh dari matahari, venus hanya berupa bulatan kecil. Saat lebih dekat ke bumi, venus hanya berupa bulatan kecil. Saat lebih dekat ke bumi venus tampak semakin besar.

Venus tidak dapat dilihat permukaannya dari bumi. Hal itu, dikarenakan awan tebal di atmosfernya. Awan ini tidak seperti awan yang ada dibumi yang terbentuk dati tetes-tetes kecil air. Awan venus terbentuk dari tetes kecil asam sulfur, salah satu asam terkuat yang dikenal. Sulfur yang ada di atmosfernya berasal dari banyak gunung berapi yang meletus setipa tahun di venus. Melalui penyidikan ruang angkasa permukaan venus dapat dilihat setelah terhalangi oleh awan venus. Penyelidikan ruang angkasa melihatnya dengan sinar radar karena hanya sinar radar yang bisa menembus awan. Magellan adalah penyelidik ruang angkasa beradar yang berhasil memetakan seluruh planet antara tahun 1990 dan 1992.

BUMI

Bumi sebagian besar tampak berwarna biru. Warna ini disebabkan oleh lautan yang menutupi lebih dari duapertiga permukaan bumi. Wilayah daratan atau benua menutupi kurang dari sepertiga. Lapisan udara di atas permukaan bumi memang tipis, tapi memungkinkan kehidupan di bumi.

Bumi terbentuk sekitar 4.6 miliar tahun yang lalu, saat material-material di angkasa menyatu (1). Awalnya, bumi adalah bola besar cair (2). Secara bertahap, bumi menjadi dingin, sampai akhirnya terbentuk atmosfer dan lautan (3). Lambat laun, bumi menjadi dunia kita sekarang ini (4 dan 5), yang tersusun atas lapisan batuan dengan inti besi. Bumi masih terus berubah karena gelombang pada batuan di bawah kerak bumi bergerak memperlebar samudera dan memisahkan benua.

Ada perbedaan antara planet bumi dengan planet lainnya. Banyak hal yang membuat bumi berbeda dengan planet lain. Bumi diselimuti air laut yang sangat luas, dan atmosfernya mengandung banyak mengandung oksigen. Atmosfernya juga berfungsi seperti selimut yang menahan cukup panas, sehingga temperature bumi tetap nyaman. Karena air, oksigen, dan temperaturnya, bumi menjadi tempat yang cocok bagi makhluk hidup paling tidak, ada 1.5 juta jenis tanaman dan binatang yang hidup disini.

BULAN

Setiap objek atau satelit yang mengorbit sebuah planet disebut bulan. Bulan membutuhkan waktu 27,3 hari untuk sekali mengelilingi bumi. Bulan adalah tetangga terdekat bumi di ruang angkasa. Melalui teleskop, bulan dapat dilihat dengan jelas. Para astrounot juga sudah menjejakan kakinya untuk meneliti bulan. Ukuran bulan cukup kecil, sekitar seperempat diameter bumi. Bulan tidak mempunyai atmosfer, cuacu, dan kehidupan.

Ahli astronomi umumnya berpendapat bahwa bulan terbentuk setelah terjadi tumbukan benda besar lain ke bumi miliaran tahun lalu (1). Material dari bumi dan benda lain itu terlontar ke angkasa. Lambat laun, material ini menyatu membentuk buan (2). Inilah sebabnya mengapa bebatuan bulan berbeda dengan bebatuan bumi.

Permukaan bulan tertutup oleh ribuan lubang atau kawah. Kawah tersebut terbentuk akibat meteor dari ruang angkasa yang menghujaninya. Kawah yang besar kebanyakan mempunyai undakan atau teras, dinding, dan puncak gunung di tengahnya. Kawah terbesar diameternya lebih dari 200 kilometer. Beberapa kawah yang baru mempunyai guratan terang atau cahaya yang memancar dari kawah, sementara pada kawah “hantu” hanya terlihat tepiannya yang tipis.

MARS

Planet mars mudah kita kenali di langit malam, karena warnanya yang kemerah-merahan akibat oksidasi besi di daerah dekat permukaannya. Mars adalah nama dewa perang Yunani, planet ini diberi nama demikian karena warna merah Mars mengingatkan pada warna merah darah. Jaraknya dari Matahari sejauh 227,9 km.

Mars mempunyai bentuk yang lebih kecil dari Bumi. Garis tengahnya 6.800 km atau setengah diameter Bumi dan Venus. Waktu edar Mars mengelilingi Matahari adalah 1,88 tahun dan berotasi sekali dalam 24 jam 37 menit. Mars memiliki atmosfer tipis. Warna permukaannya berubah menurut warna-warni yang bersesuaian dengan musim menimbulkan dugaan adanya kehidupan tingkat rendah, seperti halnya tetumbuhan sederhana. Mars mempunyai dua satelit alam yaitu Phobos dan Deimos yang bentuknya tidak beraturan dan tidak bulan seperti halnya Bulan.

JUPITER

Jupiter adalah planet terbesar di dalam tata surya kita. Planet ini mempunyai 16 satelit. Empat yang terbesar adalah Io, Europa, Callisto, dan Ganymede. Keempat satelit ini diberi nama bulan Galilean karena ditemukan oleh Galileo Galilei, seorang astronom Italia. Jarak dari Matahari kita adalah 778,3 juta km.

Bagian terbesar materi Jupiter berupa gas, bukan padat seperti Bumi. Jupiter hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 jam untuk berotasi, jauh lebih cepat daripada rotasi planet yang kita huni. Noda merah besar Jupiter di sekitar ekuator merupakan corak paling mencolok pada planet itu. Diduga di bawah lapisan angkasan Jupiter yang tebal terdapat gunung api yang menimbul­kan noda merah tersebut.

SATURNUS

Di luar lintasan Jupiter kita akan menemukan planet yang paling indah, yaitu Saturnus. Jaraknya dari Matahari adalah 1427,0 juta km. Planet ini memiliki sistem cincin yang simetris, yang memperlihatkan keagungan tak tertandingi. Ada tiga lapisan cincin pada planet ini yang dipisahkan oleh garis batas Cassini. Cincin ini terbentuk dari jutaan partikel lembut yang saling terpisah.

Cincin cemerlang ini diduga berasal dari satelit yang tidak pernah terbentuk, karena letaknya yang terlalu dekat dengan Sa­turnus. Gaya ganggu Saturnus membuat calon satelit itu tidak stabil.

Dalam banyak hal Saturnus mirip dengan Jupiter. Angkasa planet ini terdiri dari gas metan (CH4). Saturnus memiliki ba­nyak satelit, yakni 14 buah. Karena jaraknya yang jauh dari Matahari, atmosfer Saturnus sangat dingin, hanya bisa mencapai 100 derajat Kelvin.

URANUS

KIRA-KIRA dua abad setelah ditemukannya teleskop oleh Galileo tahun 1609, Sir William Herschel dari Inggris secara kebetulan mene­mukan suatu bulatan redup kecil di antara titik-titik bintang. Pada mulanya benda redup itu diduga sebuah komet tetapi kenyataannya planet. Planet ini diberi nama Uranus. Jarak rata-ratanya dari Matahari kita adalah 2871,0 juta km.

Uranus juga memiliki cincin, bahkan sampai 5 lapis. Tetapi cincin-cincin itu tipis sekali dan sulit diamati. Planet yang terdiri atas gas metan ini memiliki 15 satelit. Waktu rotasinya sangat pendek, yaitu hampir 11 jam saja. Suhu angkasanya sangat rendah, yaitu 90 de­rajat Kelvin.

NEPTUNUS

Planet pada urutan kedelapan dari tata surya kita ini tergolong planet raksasa bersama Jupiter, Saturnus, dan Uranus. Garis tengah Neptunus 52.290 km, atau kira-kira empat kali garis tengah Bumi. Jarak rata-ratanya dari Matahari adalah 4497,0 juta km dengan periode rotasi 22 jam. Untuk sekali mengitari Matahari, Neptunus memerlukan waktu 165 tahun. Planet gas ini hanya memiliki dua buah satelit, yaitu Triton dan Neroid.

Para astronom kemudian menemukan sekitar 1000 obyek kecil lain di belakang Neptunus (disebut obyek Trans-Neptunus) yang juga menge­lilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 obyek serupa yang dikenal sebagai obyek Sabuk Kuiper. Belasan benda langit termasuk da­lam obyek sabuk Kuiper di antaranya Quasar (1250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 ELGI (1500 km pada Maret 2004). Penemuan 2003 ELGI cukup menghebohkan karena obyek sabuk Kuiper ini diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan UB 313 (2700 km pada Oktober 2003) yang diberi nama oleh penemunya Xena. Selain lebih besar dari Pluto, obyek ini juga memiliki satelit.

ASTEROID

Benda langit ini merupakan anggota tata surya yang menempati orbit antara orbit Mars dengan orbit Jupiter (Sabuk Utama Aste­roid). Asteroid atau planet minor ini berukuran sangat kecil dengan diameter berkisar antara 200 – 800 km. Sampai sekarang telah di­temukan sekitar 3.000 buah asteroid.

Asteroid pertama yang ditemukan diberi nama Ceres oleh penemunya, Piazzi, seorang astronom Italia pada tahun 1801. Ceres juga merupakan asteroid yang paling besar, yakni diameternya mencapai 770 km. Diduga asteroid berasal dari sebuah planet yang mungkin telah terbentuk antara Mars dan Jupiter, tetapi kemudian terpecah belah oleh efek gaya ganggu Jupiter.

KOMET

Benda langit yang satu ini menarik perhatian orang Bumi karena menampakkan ekor yang panjang ketika melintas di dekat Bumi dengan cepat, lalu le­nyap dan kerap kali tak terlihat lagi. Pada saat jauh dari Matahari, komet bergerak lambat. Makin cepat geraknya ketika komet mendekati Matahari. Pada saat itu, gas pada inti komet yang dinamakan nukleus mulai menguap, sehingga inti itu menjadi besar. Sebuah ekor cemerlang akibat debu dan gas yang terhembus dari inti mulai menjulur pada arah yang berlawanan dengan Matahari. Makin dekat sebuah komet dengan Matahari, semakin panjang ekor tersebut, dan akibat angin Matahari arah komet menjauhi Matahari. Bersamaan dengan geraknya menjauhi Matahari, ekor komet mengecil lagi, sampai akhirnya tidak terlihat.

Salah satu komet yang terkenal adalah Komet Halley yang ditemukan oleh seorang astronom Inggris, Sir Edmund Halley. Komet Halley ini mengor­bit Matahari dan Jupiter dengan periode 76 tahun. Ada juga komet yang berperiode pendek, sekitar 3 tahun seperti Komet Encke.

Komet adalah anggota terkecil dalam tatasurya. Komet merupakan bongkahan es dan debu. Kebanyakan komet ditemukan di bagian paling luar tata surya, tempat yang sukar diamati. Komet hanya bias dilihatsaat mendekati matahari dan mulai mencair, sampai cukup terang untuk bersinar seperti lentera di langit. Dari semua komet, komet Halley lah yang paling terkenal, komet ini ditemukan oleh Edmond Halley. Komet halley bisa dilihat dengan mata telanjang.

Ketika komet jauh dari matahari kita tidak dapat melihatnya karena padat membeku. Saat mendekati matahari permukaannya menjadi hangat dan sebagian permukaan yang merupakan es meleleh menjadi gas. Gas ini kemudian bercampur debu yang terlepas dan membentuk awan. Awan akan berpendar ketika terkena sinar matahari sehingga komet dapat terlihat. Saat melintas di langit, komet bisa merentang sampai ratusan ribu kilometer. Itulah ukuran awan gas dan debu yang menggelembung, yang membentuk kepala dan ekor komet. Di bagian yang padat, inti komet berukuran jauh lebih kecil dan diameternya hanya beberapa kilometer..

Dalam perjalanannya kearah matahari, komet bisa melintas dekat dengan salah satu planet. Saat itu gravitasi planet menarik komet dari jalur normalnya. Jika terlalu dekat, komet akan menabrak planet. Tahun 1994, pecahan komet Shoemaker Levy 9 menabrak planet Jupiter. Stiap pecahan yang menabrak atmosfer jupiter akan membentuk bola api besar yang meledakkan awan gas yang besar.

METEOR

Pada malam hari sering tampak kilatan cahaya terang berkelebat di langit. Orang menyebutnya ’’bintang jatuh’’. Sebetulnya itu adalah benda langit yang masuk ke dalam atmosfer Bumi. Karena bergesekan dengan udara, maka suhu meteor naik dan benda itu akan memijar lalu menguap. Peristiwa pijaran itulah yang disebut meteor. Sedangkan benda langit yang memasuki atmosfer Bumi dinamakan meteorid. Biasanya meteorid akan habis terbakar di at­mosfer sebelum mencapai permukaan Bumi. Tetapi ada juga yang tidak habis terbakar hingga jatuh ke permukaan Bumi. Benda itulah yang disebut me­teorit.

Ruang di antara benda-benda langit tersebut bukan ruang kosong, melainkan ruang yang diisi oleh partikel debu antarplanet, sisa pembentukan planet.

Meteorid yang masuk ke atmosfer bumi kebanyakan berupa bongkahan kecil. Namun kebanyakan ada yang sebesar kerikil. Meteorid yang lebih besar ini terbakar lebih lama dan lebih terang, sehingga membentuk objek yang bersinar yang kita sebut bola api. Meteorid ruang angkasa menghujani bumi sepanjang waktu. Saat ketinggiannya sekitar 120 kilometer dari tanah, udara bergesekan dengannya, sehingga berpijar putih membara. Saat itulah kita melihat lintasan cahaya yang kita sebut meteor.

Ceres adalah asteroid terbesar dengan diameter sekitar 1.000 km yang ditemukan pada tahun 1891. Diameter Pallas dan Vesta sekitar 550 km. Kebanyakan asteroid berdiameter hanya puluhan kilometer. Sampai beberapa waktu lalu, ahli astronomi masih yakin jika asteroid adalah sisa-sisa dari planet lain. Mereka yakin bahwa planet ini bergerak terlalu dekat dengan jupiter dan hancur karena tertarik gravitasinya. Tapi sekarang, ahli astronomi menganggap asteroid sebagai kumpulan bongkahan yang tak pernah menyatu membentuk planet atau bulan.

April 8, 2009 Ditulis oleh prari007luck | Artikel | , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Kurikulum

KURIKULUM

Secara Etimologis :

  • Curriculum berasal dari kata currere (latin) yang berlari cepat.
  • Curriculum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai dengan finish.

Ø Menurut kamus webster’s (1857), sejumlah mata pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa untuk mendapatkan ijazah atau naik kelas.

Ø Menurut William B. Ragan, semuya pengalaman yang diperoleh anak dibawah tanggung jawab sekolah.

Ø J. Gallen Saylor dan M. Alexander, segala usaha sekolah untuk mempengaruhi anak belajar, baik dilaksanakan di dalam ruangan.

Ø Soedijarto, segala pengalaman dan kegiatan belajar yang direncanakan untuk diatasi oleh siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Ø UU No. 20 tahun 2003, seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran.

Kurikulum sebagai satu system memiliki komponen-komponen pokok:

1. Tujuan

2. Isi/materi

3. Organisasi dan strategi/ kegiatan belajar dan pembelajaran.

4. Evaluasi

Landasan Kurikulum

Ø Filosofis/yuridis

  • System nilai/pandangan hidup yang dianut oleh suatu masyarakat.
  • Peraturan perundang-undangan.

Ø Psikologis, karakteristik peserta didik.

Ø Sosiologis, karakteristik masyarakat.

Ø Organisatoris, desain yang tepat dan fungsional.

Prinsip-prinsip Pengembangan Purikulum.

1. Relevansi kurikulum harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik

2. Tuntutan dunia kerja.

3. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Ø Efisiensi, dalam hal waktu; tenaga; dan biaya.

Ø Efektifitas, dalam mencapai tujuan pembelajaran baik oleh guru dalam melaksanakan program pembelajaran maupun siswa.

Ø Kontinuitas, adanya kesinambungan dalam isi dan program, antara satu kelas ke kelas berikutnya, antara satu sekolah ke sekolah di atasnya

Ø Fleksibelitas, memiliki keluwesan dalam pemilihan program-program oleh siswa dan pengembangan program oleh guru.

Desain Organisasi Kurikulum

1. Separte Subject Curriculum,

2. Broadfild Curriculum, dan

3. Integrated curriculum.

Pendekatan Pengembangan Kurikulum

1. Berorientasi pada bahan

2. Berorientasi pada tujuan

3. Berorientasi pada kompetensi.

Kurikulum berbasis kompetensi, yaitu, kurikulum yang ditujukan untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya dan bangsanya. Kompetensi yang dikembangkan berupa keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidak-tentuan. Ketida-pastian, kerumitan-kerumitan dalam hidup.

Prinsip-prinsip Pengembangan KBK.

Ø Keseimbangan etika, logika, kinestetik.

Ø Kesamaan memperoleh kesempatan.

Ø Memperkuat identitas nasional.

Ø Menghadapi abad pengetahuan.

Ø Menyongsong tantangan teknologi informasi dan komunikasi

Ø Mengembangkan keterampilan hidup.

Ø Mengintegrasikan unsure-unsur penting dalam kurikuler.

Ø Pendidikan alternatif.

Ø Berpusat pada anak sebagai pusat pengetahuan.

Ø Pendidikan multikultural dan multi bahasa.

Ø Penilaian berkelanjutan dan komprehensif.

April 8, 2009 Ditulis oleh prari007luck | Artikel | , , , , , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

KEGIATAN RELAWAN SEBAGAI AKTIVITAS BELAJAR MENYENANGKAN

KEGIATAN RELAWAN SEBAGAI AKTIVITAS BELAJAR MENYENANGKAN

Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa. Contoh, seseorang yang tidak tahu apa arti dari kata teman setelah melalui belajar akan ada perubahan mengenai pemaknaan teman itu sendiri; dan seseorang yang tidak memiliki kemampuan komunikasi massa setelah belajar menjadi pandai berbicara di khalayak umum.

Belajar pada dasarnya dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja, dan dengan berbagai cara untuk belajar. Tentunya, hal tersebut selaras dengan pendidikan yang saat ini saya sedang menimba ilmu Pendidikan Luar Sekolah pada universitas berstatus negeri di Jakarta. Lalu hal yang dipelajari pun sangat bebas tergantung bagaimana seseorang itu memiliki minat untuk belajar. Karena hal tersebut adalah sebuah jawaban dari pertanyaan mengapa harus belajar. Tidak itu saja, satu hal terpenting dalam belajar adalah ”dalam belajar harusnya diimbangi dengan perasaan senang tanpa ada paksaan”. Mengapa? Karena dengan rasa senang, segala hal yang dipelajarai dapat dengan mudah untuk dipahami dan dimengerti. Sebaliknya, jika belajar di dampingi dengan rasa terpaksa, alhasil semua yang dipelajari juga akan berantakan dan sulit dilakukan.

Seperti halnya kegiatan Relawan yang menyenangkan merupakan sebuah cara belajar. Mengapa dikatakan demikian? Karena secara tidak disadari dari setiap kegiatan yang dilakukan relawan menjadi sebuah bahan belajar, saya contohnya. Saya beruntung menjadi relawan. Karena dengan menjadi relawan, saya telah mengembangkan diri. Hal ini jarang sekali didapatkan di kampus. Singkatnya, menjadi relawan sangat membantu dalam kegiatan belajar secara formal di institusi dengan sistem yang formal juga. Menjadi relawan juga dapat dikatakan sebagai subtitusi dan komplementar belajar.

Saat ini saya sebagai Relawan Yappika telah banyak belajar dari kegiatan-kegiatan Yappika. Kegiatan-kegiatan yang telah saya ikuti, yaitu :

1. Penggalangan Petisi untuk RUU Pelayanan Publik.

Dari di kegiatan ini saya belajar mengenai cara pengumpulan data dari sebuah instrumen yang berbentuk petisi. Hal ini telah melatih untuk belajar dimana nantinya saya akan diketemukan dengan pengumpulan data untuk skripsi yang sebagai proses akhir belajar di perguruan tinggi. Tidak itu saja, dari kegiatan ini terdapat juga belajar persuasi secara partisipatif dimana orang lain diminta keikut sertaanya.

2. Gahtering

Dari kegiatan ini ini banyak sekali makna yang dapat diambil manfaatnya. Gahtering sendiri menurut pandangan saya merupakan sebuah evaluasi belajar relawan selama beberapa waktu. Selai itu, capacity building pada relawan pun turut di tingkatkan. Tidak hanya itu saja, kegiatan ini juga merupakan pertemuan untuk lebih saling mengenal diantara relawan dan juga tercipta hubungan keluarga sesama relawan.

3. lain-lain

Masih banyak sekali kegiatan lainnya yang mungkin jika dituliskan tidak akan terasa dapat menghabis ratusan lembar halaman untuk diungkapkan.

Jelasnya, kegiatan relawan sangat mengasyikan dan membuat hati senang dan nyaman. Serta, kegiatan relawan bagi saya adalah sebagai wadah untuk mengekspresikan diri yang mungkin bisa dibilang ”narzis” seperti hal-hal berikut ini :

Created by : Sir Hanmetan

April 8, 2009 Ditulis oleh prari007luck | Artikel | , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Fungsi Keluarga

BAB II

Kajian Teori

2.1. Keluarga dan Fungsi Keluarga.

Keluarga merupakan institusi dasar yang sangat besar perannya dalam membentuk karakter anggota keluarga terutama anak sejak dini melalui proses pengasuhan serta contoh teladan sehingga terjadi kontrol sosial dalam sistem sosial dimana keluarga berada sebagai bentuk ketahanan keluarga. Oleh karena itu pemberdayaan keluarga dan peningkatan ketahanan keluarga di masa datang mempunyai peranan ganda yaitu :

1. Setiap keluarga harus mengadakan penyesuaian fisik agar keluarga tersebut tetap mampu melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan dasar dan sebagai pengayom seluruh anggota keluarga serta menjadi wahana persemaian nilai-nilai luhur, mampu meningkatkan kesejahteraannya, dan membangun potensi keluarganya.

2. Keluarga harus meningkatkan kemampuannya untuk siap melakukan penyesuaian terhadap lingkungan baru dan perubahannya. Pada proses sosialisasi tersebut dimulainya penanaman nilai-nilai dan norma-norma yang dianut dalam masyarakat ke dalam kepribadian seseorang yang selanjutnya akan dimanifestasikan dalam pola perilaku di dalam proses interaksi sosial, baik di dalam keluarga maupun masyarakat luas.

Pembicaraan mengenai keluarga akan dibatasi pada keluarga batih. Keluarga batih terdiri dari suami/ayah, ibu/istri, dan anak-anaknya yang belum menikah. Lazimnya dikatakan, bahwa keluarga batih merupakan unit pergaulan hidup yang terkecil dalam masyarakat. Sebab, disamping keluarga batih terdapat unit-unit pergaulan hidup lainnya, misalnya keluarga luas (extended familiy), komunitas (community) dan lain sebagainya.

Sebagai unit pergaulan hidup terkecil dalam masyarakat, keluarga batih mempunyai peranan-peranan tertentu. Peranan-peranan itu adalah, sebagai berikut:

1. Keluarga batih berperan sebagai pelindung bagi pribadi-pribadi yang menjadi aggota, dimana ketentraman dan ketertiban diperoleh dalam wadah tersebut.

2. Keluarga batih merupakan unit sosial-ekonomis yang secara materil memenuhi kebutuhan anggota-anggotanya.

3. Keluarga batih menumbuhkan dasar-dasar bagi kaidah-kaidah pergaulan hidup.

4. Keluarga batih merupakan wadah dimana manusia mengalami proses sosialisasi awal, yakni suatu proses dimana manusia mempelajari dan mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Dalam penyajian beberapa peranan tersebut diatas, nyatalah betapa pentingnya keluarga batih terutama bagi perkembangan kepribadian seseorang. Gangguan pada pertumbuhan kepribadian seseorang mungkin disebabkan pecahnya kehidupan keluarga batih secra fisik maupun mental.

Di Indonesia peranan keluarga batih semakin penting, teruatama dikota-kota. Di wilayah pedesaan yang sulit menutup diri terhadap pengaruh kota, peranan keluarga batih juga semakin penting. Semula keluarga luas (extended familiy) memang lebih berperan; kelompok-kelompok kekerabatan, misalnya lebih berperan karena tradisional memang demikian halnya. Secara tradisional hubungan darh lebih penting dari pada hubungan karena perkawinan, walaupun perkawinan merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan hubungan darah tersebut.

Meningkatnya peranan keluarga batih disebabkan oleh faktor-faktor, sebagai berikut:

1. Hubungan darah yang semula mendapat tekanan yang sangat kuat kemudian didampingi dengan faktor hubungan karena tempat tinggal yang sama.

2. Pembagian kerja dalam masyarakat yang semakin berkembang arah keterampilan individual menyebabkan bahwa kemampuan individual lebih dipentingkan daripada kemampuan kolektif atau kelompok.

3. Pusat kehidupan yang semula ada dikelompok-kelompok kekerabatan semakin beralih ke keluarga batih.

4. Pelaksanaan program keluarga berencana yang menekankan pada pengaturan kehamilan dan pembatasan kehamilan, hal mana mangaibatkan semakin eratnya hubungan antara anggota-anggota suatu keluarga batih yang secara relatif kecil jumlahnya.

2.2. Demokrasi dalam Keluarga.

Demokrasi merupakan kata yang mempunyai konotasi istilah yang khas, yang sengaja di pergunakan oleh pencetusnya untuk menyebut sistem pemerintahan tertentu, yang di bangun berdasarkan asas rakyat sebagai sumber kekuasaan, yang antara lain rakyat di beri hak membuat undang-undang dan sistem atau yang lazim dipahami dengan istilah kedaulatan rakyat. Kedaulatan rakyat ini eksis bilamana rakyat berkuasa –bila individu memiliki kesamaan hak berpartisipasi dalam proses politik dan bila satu-satunya tujuan pemerintah adalah menjamin kepentingan seluruh rakyat, dan bukan orang-orang dari lapisan atau kelompok kepentingan tertentu.

Dalam sistem demokrasi, kebebasan harus di wujudkan bagi setiap individu rakyat. Dengan itu, mereka dapat melaksanakan kedaulatannya dan menjalankannya sendiri, sekaligus dapat melaksanakan haknya untuk berpartisipasi dalam pemilihan para penguasa dan anggota lembaga perwakilan dengan sebebas-bebasnya tanpa ada tekanan atau paksaan. Ada 4 macam kebebasan yang dianut, yaitu :

1. kebebasan beragama (freedom of religion).

2. kebebasan berpendapat (freedom of expreession).

3. kebebasan kepemilikan (freedom of ownership).

4. kebebasan berperilaku (personal freedom).

Dari inti-inti yang telah dikemukakan sebelumnya dijelaskan bahwa demokrasi memberikan seseorang dalam berpendapat, berperilaku, memiliki kedaulatan dalam pemerintahan, diartikan dalam keluarga kedaulatan setiap individu yang berada di dalamnya, dan lain hal sebagainya. Kebebasan dimaksudkan di atas masih harus melaksanakan satu hal, yaitu, kebebasan bertanggung jawab. Artinya setiap tindakan atau perilaku yang dilakukan harus memiliki pertangunggan jawab. Hal ini, dimaksudkan adalah sebagai sebuah tahap pembelajaran pada setiap individu. Sehingga individu dapat mengembangkan diri dalam berperan di keluarga, masyarakat, dann Negara.

2.3. Penerapan Teori Pembelajaran dalam Pembelajaran Keluarga.

2.3.1.Teori Maslow.

Teori Maslow didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal:

1. suatu usaha yang positif untuk berkembang.

2. kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.

Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hierarkis.

Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya tetapi di sisin lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, kearah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri (self).

Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hierarki. bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan rasa aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar tidak mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.

2.3.2. Teori Thorndike.

Menurut Thorndlike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). Stimulus adalah suatu lperubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang.

Ia mengadakan percobaan dengan seekor kucing yang dikurung dalam sangkar yang tertutup dengan pintu kecil yang secara otomatis kalau disentuh dapat terbuka. Kalau diluar sangkar diletakkan makanan, maka kucing tersebut akan berusaha keluar dengan cara trial and error, yang mula-mula dilaksanakan dengan cara membabi buta. Tetapi karena dilakukan berulang-ulang maka akhirnya ia akan sukses. Trial-error-trial-error-success diistilahkan dengan kata “t e t e s”.

Obyek psikologi adalah tingkah laku manusia secara keseluruhan terhadap rangsang dari luar, yang berupa gerakan-gerakan tertentu yang dapat diterangkan dengan Stimulus-Respons-Bond, yang berarti Rangsang-Reaksi-Digabung menjadi satu ikatan sensomotoris. Teori ini dinamakan “Sarbon Teori”, singkatan dari: S=stimulus, ar (r bahasa Inggris)=response, bon(d)=ikatan.

Thorndlike mengemukakan bahwa terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut:

1. Hukum kesiapan (law of readliness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.

2. Hukum latihan (law of exercise), yaitu semakin sering suatu tingkah laku diulang/dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.

3. Hukum akibat (law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan.

Selanjutnya Thorndlike menambahkan hukum tambahan sebagai berikut:

1. Hukum Reaksi Bervariasi (Multiple Response). Hukum ini mengatakan bahwa individu diawali oleh proses trial and error yang menunjukkan adanya bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

2. Hukum Sikap (Set/Attitude). Hukum ini menjelaskan bahwa perilaku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri rndividu baik kognitif, emosi, sosial, maupun psikomotornya.

3. Hukum Aktivitas Berat Sebelah (Prepotency of Element). Hukum ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon hanya pada stimulus tertentu sajua sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi (respon selektif).

4. Hukum Respon by Analogy. Hukum ini mengatakan bahwa individu dapat melakukan respon pada situasi yang belum pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama/identik, maka transfer akan makin mudah.

5. Hukum perpindahan asosiasi (Associative Shifting). Hukum ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.

2.3.3. Burrhus Frederic Skinner (1904-1990).

Manajemen kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku (behavior modification) antara lain dengan penguatan (reinforcement) yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan pada perilaku yang tidak tepat.

Operant Concitioning atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku operan (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.

Perilaku operan adalah perilaku yang dipancarkan secara spontan dan bebas berbeda dengan perilaku responden dalam pengkondisian Pavlov yang muncul karena adanya stimulus tertentu. Contoh perilaku operan yang mengalami penguatan adalah: anak kecil yang tersenyum mendapat permen oleh orang dewasa yang gemas melihatnya, maka anak tersebut cenderung mengulangi perbuatannya yang semula tidak disengaja atau tanpa maksud tersebut. Tersenyum adalah perilaku operan dan permen adalah penguat positifnya.

Skinner membuat eksperimen sebagai berikut: dalam laboratorium, Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “Skinner box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan, yaitu tombol, alat memberi makanan, penampung makanan, lampu yang dapat diatur nyalanya, dan lantai yang dapat dialiri listrik.

Karena dorongan lapar (hunger drive), tikus berusaha keluar untuk mencari makanan. Selama tikus bergerak kesana-kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shaping.

Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati, Skinner menyatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan (reinforcement). Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulu-respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif. Penguatan positif sebagai stimulus, dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu sedangkan penguatan negatif dapat mengakibatkan perilaku berkurang atau menghilang. Bentuk-bentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku (senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang (menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).

Beberapa prinsip belajar Skinner antara lain:

1. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.

2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.

3. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.

4. Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.

5. Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun ini lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.

6. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya. Hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforcer.

7. Dalam pembelajaran, digunakan shaping.

Beberapa Kekeliruan dalam penerapan teori Skinner adalah penggunaan hukuman sebagai salah satu cara untuk mendisiplinkan. Menurut Skinner hukuman yang baik adalah anak merasakan sendiri konsekuensi dari perbuatannya. Misalnya anak perlu mengalami sendiri kesalahan dan merasakan akibat dari kesalahan. Penggunaan hukuman verbal maupun fisik seperti: kata-kata kasar, ejekan, cubitan, jeweran justru berakibat buruk.

Selain itu kesalahan dalam reinforcement positif juga terjadi didalam situasi pendidikan seperti penggunaan rangking Juara di kelas yang mengharuskan anak menguasai semua mata pelajaran. Sebaliknya setiap anak diberi penguatan sesuai dengan kemampuan yang diperlihatkan sehingga dalam satu kelas terdapat banyak penghargaan sesuai dengan prestasi yang ditunjukkan para siswa: misalnya penghargaan di bidang bahasa, matematika, fisika, menyanyi, menari atau olahraga.

2.3.4. Implementasi Ketiga Teori dalam Pembelajaran Keluarga.

Dalam teori Thorndike dapat dirumuskan bahwa belajar merupakan sebuah asosiasi-asosiasi peristiwa-peristiwa yang disebut (S) stimulus dengan (R) respon. Proses belajar yang dimaksudkan melalui proses “tetes” Trial-error-trial-error-success. Dalam teori tersebut juga terdapat hukum-hukum yang berkembang dari konsep awal.

Skinner menjelaskan yang dapat dirangkum bahwa belajar harus mengalami “reinforcement” penguatan dan “operant Conditioning” pengkondisian operan. Dari dual hal ini dapat dinyatakan bahwa penguatan dengan adanya “punishment” hukuman dan “reward” hadiah akan membuat sebuah kondisi yang akan menjadi sebuah pembelajaran. Maksudnya adalah seseorang akan melakukan perilaku yang akan terulang kembali atau menghilang dengan sendirinya.

Maslow dalam teori belajarnya menyatakan bahwa diperlukan pemenuhan kebutuhan dasar terlebih dahulu. Artinya seseorang dapat belajar jika kebutuhan dasar sudah dipenuhi dengan baik.

Maka, ketiga teori ini sangat berkaitan erat dalam proses pembelajaran keluarga. Thorndike dan Skinner dalam penelitiannya dapat diulas bahwa penelitian tersebut memiliki kebutuhan. Kebutuhan tersebut berupa rasa lapar, perhatian, social, penghargaan dan lain-lain. Maslow memiliki teori mengenai kebutuhan. Antara Thorndike dan Skinner merupakan teori layaknya sebuah tahapan-tahapan yang harus dilalui. Contoh, skinner mengkaji tentang penguatan dan pengkondisian operand an Thorndike mengenai rangsang dan respon. Jika dilihat, rangsang dan respon merupakan awal dari sebuah penguatan dan baru kemudian menjadi pengkondisian operan. Pengkondisian operan merupakan sebuah proses setelah terjadinya rangsang dan respon.

April 8, 2009 Ditulis oleh prari007luck | Artikel, Uncategorized | , , , , , , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

Gerakan sosial sebagai kekuatan perubahan

Banyak pakar yang menyimak peran khas gerakan sosial ini. Mereka melihat gerakan sosial sebagai salah satu cara utama untuk menata ulang masyarakat modern (Blumer, 1951: 154); sebagai pencipta perubahan sosial (Killian,1964; 426); sebagai aktor historis (Touraine 1977; 298); sebagai agen perubahan kehidupan politik atau pembawa proyek historis (Eyerman & Jamison, 1991; 26). Ada pula yang menyatakan: ”gerakan massa dan konflik yang ditimbulkannya adalah agen utama perubahan sosial ” (Adamson & Borgos, 1984; 12).

Cara gerakan sosial menyesuaikan diri dengan agen perubahan lainya adalah kriteria pertama, perubahan berasal ”dari bawah”, melalui aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat biasa dengan derajat ”kebersamaan” yang berbeda-beda. Perubahan lain mungkin berasal ”dari atas”, melalui aktifitas elite yang berkuasa (penguasa, pemerintah, manajer, administrator, dll) mampu memaksakan kehendaknya kepada anggota masyarakat yang lain. Kriteria kedua, perubahan mungkin diinginkan, diinginkan oleh agen, dilaksanakan sebagai realisasi proyek yang mereka rencanakan sebelumnya; perubahan lain mungkin muncul sebagai efek samping tak diharapkan, efek samping dari tindakan yang tujuannya sama sekali berlainan.

1. Definisi gerakan sosial

Ø Kolektivitas yang bertindak bersama.

Ø Tujuan bersama tindakannya adalah perubahan tertentu dalam masyarakat mereka yang ditetapkan partisipan menurut cara yang sama.

Ø Kolektivitasnya relatif tersebar namun lebih rendah derajatnya dari organisasi formal.

Ø Tindakannya mempunyai derajat spontanitas relatif tinggi namun tak terlembaga dan bentuknya tak konvensional.

Jadi gerakan sosial adalah tindakan kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpa cara terlembaga untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat mereka. Penekanan serupa juga ditemukan oleh definisi beberapa ahli, diantaranya adalah :

Ø Upaya kolektif untuk membangun tatanan kehidupan yang baru (Blumer, 1951; 199)

Ø Upaya kolektif untuk mengubah tatanan norma dan nilai (Smelser, 1962; 3)

Pakar kontempoter mengemukakan ciri gerakan sosial adalah

Tindakan kolektif yang kurang lebih terorganisir, bertujuan perubahan sosial atau lebih tepatnya kelompok individu yang secara bersama bertujuan mengungkapkan perasaan tak puas secara kolektif di depan umum dan mengubah basis sosial dan politik yang dirasakan tak memuaskan itu. (Eyerman & Jamison, 1991; 43-44)

Adapun hubungan keeratan antara gerakan sosial dengan perubahan sosial adalah ”Perubahan sosial adalah basis yang menentukan ciri gerakan sosial. Gerakan sosial berkaitan erat dengan perubahan sosial. (Wood & Jackson, 1982: 6)

Berikut penjelasannya:

Ø Perubahan sosial selaku tujuan gerakan sosial berarti dua hal yang berbeda. Tujuannya dapat menjadi posistif dan negatif. Dapat menjadi positif, memperkenalkan sesuatu yang belum ada. Negatif, menghentikan, mencegah atau membalikkan perubahan yang dihasilkan proses yang tak berkaitan dengan gerakan sosial (misalnya kemerosotan lingkungan alam, kenaikan angka fertilitas)

Ø Gerakan sosial mempunyai berbagai status penyebab berkenaan dengan perubahan. Disatu fihak, gerakan ini dianggap sebagai penyebab utama perubahan dalam arti sebagai kondisi yang diperlukan dan cukup untuk menimbulkan perubahan. Dilain fihak, gerakan sosial hanya dapat dilihat sebagai dampak, gejala yang menyertai proses untuk dikembangkan oleh daya dorongnya sendiri (misalnya menyertai kemajuan modernisasi, urbanisasi, dll)

Ø Berkaitan dengan bidang tempat terjadinya perubahan sosial yang disebabkan oleh gerakan sosial. Biasanya dilakukan oleh masyarakat yang lebih luas yang berada di luar gerakan itu sendiri. Kelihatannya gerakan sosial itui sendiri seakan-akan adalah tindakan terhadap masayarakat dari luarnya, tetapi jangan lupa bahwa setiap gerakan sosial merupakan segmen anggotanya dan merembesi bidang fungsi tertentu.

2. Gerakan sosial dan modernitas

Gerakan sosial besar-lah yang menyumbang terhadap kelahiran modernitas di saat revolusi borjuis besar di Inggris, Perancis, dan AS. Strategi dan taktik gerakan disemua zaman itu telah berkembang, namun kebanyakan pengamat sependapat bahwa hanya dalam masyarakat modern-lah ”era gerakan sosial benar-benar dimulai”. Gerakan sosial adalah bagian sentral modernitas. Gerakan sosial menentukan ciri-ciri politik modern dan masyarakat modern (Eyerman & Jamison, 1991: 53).

Alasan yang menyebabkan gerakan sosial dizaman modern lebih menonjol, diantaranya adalah:

Ø Alasan pertama disebut teori Durkheim. Kecenderugan kepadatan penduduk dikawasan sempit terjadi bersamaan dengan urbanisasi dan industrialisasi dan menghasilkan kepadatan moral penduduk yang besar.

Ø Gambaran modenitas lain adalah disebut ”Tema Tonnies”, yakni atomisasi dan isolasi individu dalam Gesellschaft yang bersifat impersonal.

Ø Tema Marxian. Peningkatan ketimpangan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan perbedaan kekuasaan, dan prestise yang sangat tajam ini menimbulkan pengalaman dan kesan eksploitasi, penindasan, ketidakadilan, dan perampasan hak yang menimbulkan permusuhan dan konflik kelompok.

Ø Tema Webberian, Transformasi demokratis sistem politik, membuka peluang bagi tindakan kolektif massa rakyat.

Ø Gambaran yang disebut Tema Comte dan Saint Somin. Mereka menekankan modernitas pada penaklukan, kontrol, dominasi, dan manipulasi realitas mula-mula terhadap realitas alam dan akhirnya juga terhadap realitas masyarakat manusia.

Ø Masyarakat modern mengalami peningkatan pendidikan dan mempunyai kultur umum. Partisipasi dalam gerakan sosial membutuhkan kesadaran, imajinasi, kepekaan moral, dan perhatian terhadap masalah publik dalam derajat tertentu serta kemampuan menggeneralisirnya dari pengalaman pribadi dan lokal.

Ø Kemunculan dan penyebaran media massa (Molotch, 1979) media massa merupakan instrumen yang sangat kuat untuk mengartikulasikan, membentuk, dan menyatukan keyakinan, merumuskan dan menyebarkan pesan ideologis, serta membentuk pendapat umum.

3. Tipe gerakan sosial.

Gerakan sosial memiliki tipe yang terdiri dari beberapa bagian, yaitu :

Ø Gerakan sosial yang berbeda menurut bidang perubahan yang diinginkan. Ada yang terbatas tujuannya, hanya untuk mengubah aspek tertentu kehidupan masyarakat tanpa menyentuh inti struktur institusinya, gerakan yang hanya menginginkan perubahan ”di dalam” ketimbang perubahan masyarakatnya sebagai keseluruhan disebut gerakan reformasi. Contoh: gerakan pro dan anti aborsi yang menuntut perubahan UU yang sepantasnya, gerakan perlindungan binatang, dll.

Ø Gerakan sosial yang berbeda dalam kualitas perubahan yang diinginkan. Singkatnya, gerakan ini membentuk masyarakat ke dalam suatu pola yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Orientasi gerakan ini adalah masa depan. Perubahan diarahkan ke masa depan dan menekankan pada suatu hal yang baru disebut gerakan progresif. Contoh: gerakan republik, sosialis, dan gerakan wanita. Perubahan yang mereka ajukan diarahkan kebelakang dan ditekankan pada tradisi disebut gerakan konservatif, contoh gerakan mayoritas moral di AS yang menghimbau untuk kembali ke nilai-nilai keluarga.

Ø Gerakan yang berbeda dalam target perubahan yang diinginkan. Ada yang memusatkan perhatian pada perubahan struktur sosial, ada yang pada perubahan individual. Gerakan perubahan struktural ada dua: 1)Gerakan sosial politik yang berupaya mengubah stratifikasi politik, ekonomi dan kelas serta senantiasa menentang penguasa negara yang mempunyai kekuasaan formal sangat kecil. 2)Gerakan sosio-kultural, yang mengusulkan perubahan keyakinan, nilai, norma, simbol dan pola hidup sehari-hari. Contoh: gerakan hipies punk. Gerakan yang lebih menargetkan individu ketimbang struktur juga ada dua, yaitu a)Gerakan suci, mistik, religius yang berjuang mengubah atau menyelamatkan anggotanya dan menghidupkan suasana keagamaan. Contoh: gerakan penyebar injil yang diprakarsai oleh Paus John Paul. b)Gerakan sekuler yang berupaya memperbaiki moral atau mental anggotanya.

Ø Gerakan sosial yang berbeda mengenai ”arah perubahan yang diinginkan”. Kebanyakan gerakan mempunyai arah positif, seperti mencoba memperkenalkan perubahan tertentu, membuat perbedaan. Arah positif ini juga dipertahankan ketika gerakan mobilisasi untuk mencegah perubahan, baru kemudian arahnya negatif. Contoh: gerakan mempertahankan kultur asli pribumi, memerangi globalisasi, dll.

Ø Gerakan sosial yang berbeda dalam strategi yang melandasi atau ”logika tindakan mereka (Rucht, 1988) ada yang mengikuti logika instrumental; gerakan ini berjuang untuk mendapatkan kekuasaan politik dan dengan kekuasaan itu memaksakan perubahan yang diinginkan dalam hukum, institusi, dan organisasi masyarakat. Contoh: partai hijau Jerman, dan gerakan solidaritas di Polandia. Gerakan lain mengikuti ”logika perasaan (expressive) yang berjuang menegaskan identitas, untuk mendapatkan pengakuan nilai-nilai mereka atau pandangan hidup mereka, untuk mencapai otonomi, persamaan hak, emansipasi politik, kultural bagi anggotanya atau mendapatkan anggota lebih banyak. Contoh: gerakan hak-hak sipil, etnis dan feminisme.

Ø Perbedaan tipe gerakan sosial yang ditemukan sangat memonjol dalam epos sejarah yang berlainan. Gerakan yang menonjol di fase awal modernitas yang memusatkan pada kepentingan ekonomi. Contoh: klasiknya gerakan serikat buruh dan petani. Dalam dekade belakangan ini mayarakat kapitalis paling maju memasuki fase terakhir modernitas atau yang dikenal post-modern, menyaksikan tipe lain gerakan sosial, yang disebut gerakan sosial baru (Tauraine, 1991; Offe, 1995) contohnya gerakan ekologi, perdamaian, dll.

Ø Bila orang melihat pada masyarakat konkret, pada waktu histeris konkret, disitu akan selalu tampak susunan gerakan sosial yang kompleks dan heterogen. Lebih tepatnya; tiap gerakan menciptakan kondisi untuk memobilisasi gerakan tandingan.

4. Dinamika internal gerakan sosial

Bahasan dinamika internal gerakan dibagi atas empat tahap utama, asal-usul, mobilisasi, perluasan struktur dan terminasi.

Ø Semua gerakan sosial berasal dari kondisi khusus. Gerakan sosial lahir dalam kecenderungan struktur historis. Secara umum dapat dikatakan bahwa sebelumnya ada struktur, sudah tersedia tumpukan sumber daya dan fasilitas untuk gerakan. Kondisi struktural yang kondusif dan ketegangan struktural (Smelser, 1962) adalah perlu tetapi tak cukup untuk membangkitkan suatu gerakan. Dalam fase selanjutnya, proses harus bergerak kebidang kesadaran sosial. Keberhasilan tindakan kolektif berawal dari transformasi yang signifikan dalam kesadaran kolektif aktor yang terlibat (McAdams, et.al., 1988; 713).

Ø Kejadian yang tak signifikan menutup awal karir gerakan dan memulai tahapan mobilisasi. Gelombang pertama yang di kerahkan adalah orang yang paling dipengaruhi oleh kondisi buruk yang melahirkan gerakan, orang yang mempunyai kesadaran dan kepekaan paling tajam terhadap isu sentral gerakan dan orang yang paling bertanggung jawab secara intelektual, emosional, moral, politis terhadap penyebab timbulnya gerakan. Pada gelombang kedua membawa anggota yang mencari keselarasan dan makna dalam kehidupan. Pengaruh keikutsertaan pihak yang menang tak hanya berperan tetapi juga dalam merekrut gerakan. Dalam gerakan kedua ini orang bergabung lebih karena untuk mendapatkan kesenangan hidup ketimbang keyakinan.

Ø Mobilisasi membuka tahap utama selanjutnya dalam perkembangan gerakan yaitu pengembangan struktural. Yang berjalan dari pengumpulan individu yang akan memobilisasi hingga menjadikan anggota penuh organisasi gerakan:

v Kita dapat membedakan antara empat subproses morphogenesis internal ini, kemunculan bertahap (artikulasi) ide kepercayaan, keyakinan, dan istilah bersama tentang harapan dan proses. (Rude, 1964: 75).

v Lalu kemunculan (institusionalisasi) norma dan nilai baru yang mengatur fungsi internal gerakan menyediakan kriteria untuk mengkritik kondisi eksternal yang akan dijadikan target gerakan itu sendiri.

v Subproses berikutnya adalah kemunculan (terpolanya) struktur organisasi internal yang baru; pola interaksi, hubungan, ikatan, perhatian, kesetiaan, dan komitmen baru dikalangan anggota.

v Subproses terakhir adalah kemunculan kristalisasi struktur peluang baru, hierarki ketergantungan, dominasi, kepemimpinan, pengaruh, dan kekuasaan baru didalam gerakan. Dasar keanggotaan gerakan selalu distratifikasi secara internal; terdapat berbagai tingkatan partisipasi, komitmen dan tanggung jawab.

5. Dinamika eksternal gerakan sosial

Gerakan sosial akan dilihat sebagai ’kotak hitam” melupakan perkembangan internalnya. Dampak terhadap struktur eksternal dapat dinilai dalam kaitannya dengan tujuan semula yang ingin mewujudkan gerakan atau membandingkannya dengan kecenderungan perubahan historis objektif dan konkret. Pivem dan Cloward mengatakan ”Apa yang dimenangkan harus dinilai dengan apa yang mungkin” (1979; xiii). Begitu pula dampak nyata gerakan yang didasari sepenuhnya oleh anggotanya, harus dibedakan dari kemungkinan adanya fungsi tersembunyi (efek samping yang tak disadari dan tak dinginkan) terakhir, efek jangka pendek harus dibedakan dari efek jangka panjang yang hanya akan berwujud dengan sindirinya di masa depan.

Akibat gerakan sosial selalu kompleks dan ambivalen maka apa yang dianggap sukses menurut satu ukuran relatif mungkin terbukti gagal menurut relatif lain dan sebaliknya. Contoh: gerakan oposisi yang dinilai kalah, remuk, hancur, mungkin meninggalkan efek struktural abadi, melapangkan jalan untuk kemenangan akhirnya.

6. Keadaan teori gerakan sosial

Seperti sub bidang sosiologi lain, sosiologi gerakan berkaitan erat dengan teori umum sosiologi. Keduanya saling berhubungan. Pertama, setiap riset gerakan sosial bertolak dari teori umum tentang masyarakat. Kedua, hasil riset gerakan sosial memperkuat keyakinan terhadap teori umum sosiologi tertentu dan merontokkan yang lain. Contoh: teori perkembangan sejarah (historisisme) melukiskan proses historis mempunyai logika, makna atau berbentuk khusus dan mengalami kemajuan menurut cara tertentu sesuai dengan ”hukum besi” sejarah. Karena itu teori ini memandang gerakan sosial semata sebagai simpton atau fenomena perubahan sosial yang terus menerus.

Kecenderungan kerah antitesis dan rekonsiliasi ini ternyata benar dan tepat. Kebijakan sosiologi bukan melestarikan satu teori atau aliran tertentu. Koplektivitas fenomena gerakan sosial memerlukan berbagai sumber penjelasan dan hanya dapat dijelaskan dengan bermacam-macam teori atau dengan satu teori yang bersifat multidimensional. Upaya untuk membangun hubungan antara berbagai pendekatan, akan memungkinkan kita mendapatkan ide yang lebih lengkap tentang keteraturan sosial serta kemunculan, keberadaan, dan dampak gerakan sosial. (Needhart & Rucht, 1991: 443).

Upaya itu juga menyediakan landasan penting untuk mengetes atau untuk menyediakan tempat riset strategis teori umum masyarakat (Merton, 1973: 371) yang mencoba mensitesiskan ”dua sosiologi”: sosiologi tentang tindakan individual dan sosiologi struktur. Pertama, gerakan sosial adalah wujud ciri dari dua sisi realitas sosial, dialektika dari individu dan kesatuan sosial. McAdams, McCarty, dan Zald mengamati bahwa tindakan nyata dalam gerakan sosial terjadi pada tingkat menengah antara makro dan mikro (McAdams, et,al., 1988; 729). Jadi gerakan sosial mencerminkan bentuk menengah anatomi realitas sosial. Gerakan sosial juga mencerminkan tahap menengah dari dinamika yang muncul dalam pabrik sosial. Jadi gerakan sosial memungkinkan kita memahami relaitas sosial sebagaimana adanya sejak dini. Selanjutnya gerakan sosial juga mempunyai kualitas menengah dalam arti lain. Keberadaannya secara internal terletak diantara kumpulan individu yang bertindak dan kesatuan sosial yang terkristal: ”gerakan sosial bukanlah tindakan kolektif penuh dan bukanlah pula kelompok kepentingan yang baru; jadi gerakan sosial mengandung unsur-unsur esensial keduanya (Freeman 1973; 793). Jadi meneliti gerakan sosial memungkinkan kita memahami fase menengah bangunan struktur internalnya, melihat bagaimana cara struktur internal gerakan itu muncul dan berubah. Killian menyimpulkan: ”Studi gerakan sosial bukanlah studi tentang kelompok stabil atau institusi mapan, tetapi studi kelompok dan institusi yang berada dalam proses pembentukannya (1964; 427). Jadi gerakan sosial muncul sebagai komponen penting dibidang sosiologi individual dalam proses transformasi dirinya berlangsung terus menerus. Studi gerakan sosial menyediakan bukti yang menguatkan bagi teori keselarasan.

7. Komentar terhadap teori dan keterkaitannya dengan contoh kasus.

Dengan pemaparan yang telah dijelaskan tentang gerakan sosial sebagai kekuatan perubahan, terlebih pada awal-awal pembahasan yang menjabarkan tentang definisi-definisi baik dari para pakar sosiologi ataupun kesimpulan dari buku dapatlah dikatakan bahwa singkatnya gerakan sosial adalah tindakan kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpa cara terlembaga untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat mereka, atau juga dapat dikatakan sebagai suatu gerakan yang dilakukan masyarakat yang sifatnya kelompok/kolektif sesuai dengan kesepakatan.

Begitu banyak fenomena-fenomena yang terjadi khususnya yang terkait pada gerakan sosial yang menjadi bahasan pada lembaran essey ini. Gerakan sosial lebih melihat kejadian atau sesuatu hal dari dampak yang ditimbulkan. Pada dasarnya yang dilihat tentang terjadinya gerakan sosial adalah dampak yang ditimbulkan dari gerakan tersebut. Seperti contoh kasus tentang pergerakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Non Goverment Organization (NGO) atau organisasi non-kepemerintahan yang memperjuangakan hak hak rakyat yang belum didapati. LSM itu sendiri merupakan kelompok primer, yaitu mereka yang bekerja sama karena mempunyai kesamaan aspirasi dan kegiatan bersama, dimana hubungan keduanya akrab dan mampu berkomunikasi dengan masyarakat lapisan bawah. LSM itu sendiri di bantu tenaga sukarela, yang biasanya disebut dengan relawan atau istilah-istilah yang telah disepakati oleh keputusan bersama dalam LSM itu sendiri. LSM bergerak dibidang dimana pemerintah tidak dapat menjangkau permasalahan ataupun suatu hal yang tidak dapat di atasi oleh pemerintah dalam hal ini tentunya kebijakan pemerintah. Pekerjaan mereka berdasarkan atas pangilan kebutuhan masyarakat atau kamanusiaan karena berasal, berakar, dan tumbuh dari dan oleh masyarakat. Misi utama LSM adalah mengembangkan kemampuan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya, dengan harapan setelah program atau kegiatan berakhir masyarakat kelompok sasarannya dapat menjadi mandiridan swadaya. Untuk mencapai tujuan berasama, mereka bekerja berdasarkan prinsip saling membantu berdasarkan kepentingan bersama yang biasanya adalah mengatasi persoalan kebutuhan dasar.

Cara LSM menjadi fasilitator adalah dengan membantu rakyat menorganisasi diri, mengidentifikasi kebutuhan lokal, dan memobilisasi sumber daya yang ada pada mereka. Selain itu, LSM juga membantu mendapatkan sumber daya dari luar sebagai tambahan sumber daya lokal jika yang tersedia tidak memadai guna memenuhi suatu kebutuhan tertentu.

Dari hal tersebut, telah jelas bahwa gerakan sosial yang dilakukan oleh LSM untuk masyarakat atau rakyat sangatlah konkrit. Karena langsung terasa pada aspek-aspek kehidupan masyarakat. Pergerakan dari LSM itu sendiri bersifat kooperatif terhadap pemerintah, bukan berarti kaki tangan dari pemerintah melainkan kepanjangan tangan dari pemerintah untuk melaksanakan program pembangunan nasional. Akan tetapi, LSM terkadang tidak sejalan dengan pemerintah dan tidak bersifat anarkis. Hal tersebut dikarenakan untuk merangsang gerakan pemerintah agar cepat tanggap dalam menyikapi sesuatu yang terjadi.

Kesimpulan

Dari pemaparan dari awal pembahasan, komentar tentang gerakan sosial kemudian di lanjutkan dengan contoh kasus tentang gerakan sosial yang dilakukan oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dapatlah disimpulkan bahwa kasus tentang pergerakan LSM adalah termasuk ke dalam tipe gerakan yang berbeda dalam target perubahan yang diinginkan.

Saran

Munculnya LSM sebagai agen perubahan sangat erat hubungannya dengan perubahan sosial. Gerakan sosial yang dalam fokus kajian merupakan contoh kasus nyata yang dihadapi dalam keseharian pemerintah Indonesia. Hal yang harus dilakukan yang paling mendasar oleh Pemerintah dalam hal ini seharusnya menjadikan cepat tanggap dalam menghadapi peristiwa-peristiwa ataupu kejadian-kejadian yang sedang berkembang serta peka terhadap apa yang terjadi pada rakyatnya.

April 8, 2009 Ditulis oleh prari007luck | Uncategorized | | Belum Ada Tanggapan

IDENTIFIKASI dan KEBUTUHAN

Definisi Identifikasi dan Kebutuhan Menurut Pakar

Identifikasi adalah suatu proses yang sulit karena prose situ bukan merupakan proses yang sepihak.

Identifikasi masalah adalah nupaya untuk mengelompokan, mengurutkan sekaligus memetakan masalah-masalah tersebut secara sistematis berdasarkan bidang ilmu dan profesi penelit. Sebab tujuan dari identifikasi masalah adalah apabila akan mencari dan memilih masalah atau focus penelitian. Jangan berdasarkan atas perenungan, lamunan dan coba-coba.

Kebutuhan adalah mencari adanya perasaan kekurangan dalam diri manusia yang ingin dipuaskan yang muncul secara naluriah.

Arti kebutuhan dari beberapa pakar:

  1. Abraham Maslow (pakar psikologi humanitic).

Menurut Abraham Maslow kebutuhan manusia tersusun dalam suatu kesatuan yang hierarkis, susunan yang hierarkis tersebut menunjukan bahwa pemenuhan kebutuhan pada tingkat tertentu akan menjadi dasar bagi usaha seseorang untuk memenuhi kebutuhannya.

Hierarki kebutuhan menurut Maslow :

Ø Kebutuhan Fisologis, kebutuhan pokok manusia, seperti; makan, minum, tidur.

Ø Kebutuhan rasa aman, kebutuhan ini tidak hanya secara fisik saja akan tetapi rasa aman secara psikologis, seperti; tubuh yang sehat, terlindung dari bahaya.

Ø Kebutuhan sosial, manusia sebagai makhluk sosial adakalnya memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesamanya atau yang lainnya maksudnya adalah manusia perlu berinteraksi untuk melaksanakan fungsinya sebagai makhluk sosial, seperti; berkawan, berkelompok, berkeluarga.

Ø Kebutuhan esteem, kebutuhan akan pangakuan orang lain untuk dihargai mengenai keberadaannya dan statusnya di masyarakat, seperti; pengakuan akan martabat, derajat, status sosial, kedudukan.

Ø Kebutuhan aktualisasi diri, kebutuhan untuk mengekspresikan diri, seperti; mengembangkan kegemaran, pengetahuan dan keterampilan tertentu.

Kebutuhan menurut teori Abraham Maslow ini bersifat hierarkis. Artinya, bertingkat atau bertahap. Misalkan, jika kebuthan fisiologis belum terpenuhi maka tidak akan beranjak ke kebutuhan rasa aman atau jika seseorang telah berada pada tingkatan kebutuhan sosial belum terpenuhi maka orang tersebut tidak dapat beranjak pada kebutuhan esteem.

  1. Lionel Bobbins

Menurut Lionel Bobbins, kebutuhan adalah perilaku manusia sebagai kaitan antara hasil (tujuan) dengan sarana yang langka dan memilki kepuasan dari berbagai alternative penggunaan.

  1. Richard (pakar ekonomi)

Menurut Richard, kebutuhan adalah suatu studi tentang pemanfaatan sumber daya yang langka untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tak terbatas.

  1. Adam Smith (pakar ekonomi)

Menurut Adam Smith, kebutuhan adalah suatu masalah atau sebab yang dapat menyebabkan kemakmuran dari suatu bangsa.

April 8, 2009 Ditulis oleh prari007luck | Uncategorized | , , , , , , , , | Belum Ada Tanggapan

INSTRUMEN YANG DIGUNAKAN DALAM PELAKSANAAN MONITORING

Instrumen merupakan alat bantu didalam menggunakan metode pengumpulan data. Instrumen ini sendiri mempermudah dalam mengumpulkan data-data dengan tujuan atau maksud tertentu seperti; peruntukan kebutuhan penelitian dan sebagainya. Instrumen ini juga bermanfaat dalam proses pelaksanaan pengumpulan data agar sistematis, efektif, dan efisien.

Dalam menentukan penggunaan instrumen itu sendiri baiknya mempertimbangkan aspek-aspek berikut ini :

· Topik.

· Data.

· Metode pengumpulan data.

· Keinginan data yang diharapkan.

· Kendala-kendala dalam penyusunan instrumen.

Tidak cukup hanya itu saja tetapi didalam penentuan untuk membuat sebuah instrumen baiknya mengikuti alur dibawah ini :

Data yang

diperlukan

Sumber data

Metode

Instrumen

Proses dalam penentuan sebuah instrumen

Sebuah alur yang dapat memudahkan dalam menentukan instrument apa yang akjan dipakai baiknya mengikuti proses alur di atas. Data yang diperlukan sekiranya telah tergambar sebelum menentukan instrument mana yang akan digunakan. Ini dimaksudkan untuk dapat menganalisis dalam pembuatan instrument. Setelah tergambar barulah kemudian melihat sumber data yang akan dicari tersebut dapat dipeloeh darimana. Kemudian tentukan metode untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Setelah metode telah ditentukan kemudian baru dapat ditentukan jenis instrumen apa yang akan dapat dipergunakan. Dibawah ini adalah tabel metode dan jenis instrument yang biasa dipakai dalam pengumpulan data.

NO

Jenis Metode

Jenis Instrumen

1.

Angket (Quesioner)

a. Angket (Quesioner)

b. Daftar cocok

c. Skala

d. Inventrory

2.

Wawancara (Interview)

a. Pedoman wawancara

b. Daftar cocok

3.

Pengamatan (Observasi)

a. Lembar pengamatan

b. Panduan pengamatan

c. Daftar cocok

4.

Ujian atau Tes

a. Soal tes

b. Inventrory

5.

Dokumentasi

a. Daftar cocok

b. Tabel

Sumber data dikelompokkan dalam beberapa kategori, yaitu :

  • Orang (Person) : wawancara, angket, observasi, dan tes.
  • Tempat (Place) : observasi.
  • Kertas/Dokumen (Paper) : dokumentasi.

Secara umum data SEMP dapat diklasifikasikan menurut :

1. Jenis dan sifatnya, yang selanjutnya dibagi menjadi :

a. Data Kuantitatif, yaitu data yang berbentuk angka. Misalnya : jumlah peserta didik kejar usaha “Melati” ada 40 orang; modal kerja 2 juta rupiah; rata-rata warga belajar yang hadir tiap kegiatan belajar sebanyak 505, dan seterusnya.

b. Data Kualitatif, yaitu data yang tidak berbentuk angka atau disebutjuga data yang berhubungan dengan katagorisasi dan sifat sesuatu. Misalnya : pendapat Pak Lurah Langensari mengenai pentingnya kejar paket “A”; pelaksanaan kejar baik cara mengajar tutor buruh, tidak loyal, warga belajar kejar Melati telah dapat membaca keseluruhan contoh itu mengambarkan sifat atau kategori dari sesuatu objek SEMP.

2. Menurut sumber data, yang selanjutnya dibagi dua:

a. Data internal, yaitu data dari dalam suatu kejar/organisasi yang menggambarkan keadaan kejar itu sendiri. Misalnya : suatu kejar Paket “A” yang meliputi : warga belajar, pamong belajar, dana belajar, sarana belajar dan seterusnya. Suatu kegiatan SEMP yang dilaksanakan terhadap suatu KEJAR pada hakikatnya untuk memperoleh gambaran data internal, yang biasanya sudah termuat dalam laporan/dokumentasi yang tersedia.

b. Data eksternal, yaitu data dari luar suatu KEJAR/organisasi yang dapat menggambarkan berbagai hal yang mungkin berpengaruh terhadap pelaksanaan kegiatan kejar dan hasil-hasil yang dicapainya. Misalnya kondisi lingkungan fisik dan social yang meliputi adat kebiasaan, kepemimpinan; daerah pertaniaan tadah hujan; irigasi desa pegunungan dan pesisir dan seterusnya.

3. Menurut cara memperolehnya, yaitu dibagi menjadi :

a. Data primer yaitu data yang dikumpulkan sendiri oleh pemilik, sie petugas bina program terhadapkejar-kejar yang meliputi objek SEMP, baik mengenai pelaksanaan kegiatan kejar, ataupun yang eksternal.

b. Data skunder, yaitu data yangf diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi atau dikumpulkan oleh orang lain, bisa berupa publikasi, laporan triwulan-semester dan tahunan; data statistic, monografi desa dan semacamnya.

4. Menurut pengumpulannya, dibagi menjadi :

a. Data Cross Section, yaitu data yang dikumpulkan dalam jangka waktu tertentu guna menggambarkan situasi-kondisi, kegiatan yang terjadi pada waktu yang tertentu pula.

b. Data berkala (time series data), yaitu data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu untuk memantau perkembangan suatu peristiwa/kegiatan selama periode tertentu. Misalnya : perkembangan jumlah warga belajar pertumbuhan modal/dana belajar, biasanya direkam dalam grafik yang menggambarkan suatu gerak naik turun, sehingga didapat kecenderungan tingkat arah perkembangannya.

Untuk menyusun sebuah instrument secara umum terdapat strategi sehingga instrument dapat dibuat dengan mudah, yaitu :

· Mengadakan identifikasiterhadap variabel-variabel yang ada di dalam rumusan judul atau yang tertera.

· Menejabarkan variabel menjadi sub atau bagian variabel.

· Menderetkan descriptor dari setiap indicator.

· Merumuskan setiap descriptor menjadi butir-butir instrument.

· Melengkapi instrument dengan pedoman atau instruksi dan kata pengantar.

Di dalam strategi pembuatan instrument dipaparkan bahwa instrument baiknya dilengkapi dengan pedoman instrument dan kata pengantar. Pedoman instrument itu sendiri berisikan beberapa ketentuan, yaitu :

  • Bahasa harus jelas dan mudah dipahami.
  • Rumusan harus singkat.
  • Pada setiap bagian diberikan instruksi yang terpisah, sehingga responden tidak mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan.

Sedangkan kata pengantar berisikan ketentuan, yaitu :

  • Menjelaskan dalam rangka apa instrument itu dibuat dan disebarkan.
  • Menjelaskan maksud dan tujuan instrument itu dibuat dan disebarkan.
  • Menjelaskan data apa yang diperlukan dalam instrument tersebut. (agar jawaban yang berbentuk data dapat mudah untuk diolah)
  • Menjelaskan manfaat data dalam instrument.
  • Menjelaskan kerahasian data apabila responden tidak ingin diketahui dalam partisipasinya.
  • Memberikan ucapan terima kasih kepada responden sebagai timbale balik atas waktu dan kesediaannya untuk berpartisipasi.

Untuk lebih mempermudah dalam menyusun instrument, kisi-kisi instrument baiknya telah tersedia. Kisi-kisi ini dimaksudkan untuk pedoman dalam penyusunan instrument. Sehingga instrument dapat lebih terarah dan focus.

Contoh : Kisi-kisi Instrumen

No

Variabel

Sub Variabel

Deskriptor

Banyaknya Butir

Nomor Butir

1

Kemandirian

Dalam belajar

  • Menyuaiapkan alat sekolah
  • Mengerjakan tugas

2

2

11, 12

13,14

2

…………….

…………..

…………………….

……………

………..

Angket

Angket atau daftar pertanyaan adalah memuat keseluruhan pertanyaan secara terinci, mengenai hal ikhwal yang diinginkan oleh pelaksana atau memberikan jawaban yang telah tersedia.

Isi pertanyaan biasanya meliputi hal-hal:

1. Pertanyaan tentang fakta-fakta yang dikuasai oleh responden. Fakta ini dapat berupa hal-hal yang berhubungan langsung dengan diri responden, suatu keadaan atau tentang pihak lain, seperti umur, pendidikan dan seterusnya.

2. Pertanyaan tentang pendapat artinya responden dihadapkan kepada pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan pemikiran agak sulit dibanding dengan pengungkapan fakta, kendatipun optionnya bisa amat sederhana seperti : suka, tidak suka, tahu, tidak tahu, dan seterusnya.

3. Pertanyaannya tentang persepsi diri, yaitu yang berkaitan dengan penilaian perilaku diri sendiri dihubungkan dengan orang lain atau lingkungan.

4. Dilihat dari jenis angket dapat dibagi menjadi :

a. Angket tertutup, yaitu pertanyaan yang disusun sedemikian rupa yang membatasi responden dalam memilih option berdasarkan apa yang tersaji seperti contoh:

“Apakah sumber belajar dalam setiap kegiatan belajar menggunakan buku sumber?”

a. Ya b. Tidak

b. Angket terbuka, yaitu pertanyaan yang disusun sedemikian rupa yang memberikan kebebasan kepada responden untuk menjawab pertanyaan, seperti contoh :

“Bagaimana pendapat anda selaku warga belajar, jika diberikan dana belajar?”

c. Angket kombinasi tertutup dan terbuka, yaitu pernyataan yang sudah ditentukan jawabannya tetapi disusul dengan pertanyaan yang memungkinkan timbulnya berbagai jawaban menurut visi responden, seperti contoh :

“Apakah anda selaku warga belajar pernah memperoleh dana belajar dalam pengembangan usaha?”

a. Pernah b. Tidak Pernah

(jika pernah) berapa jumlah yang diterima dan bagaimana penggunaannya?

………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………….

………………………………………………………………………………………….

Agar pertanyaan/angket layak digunakan, terutama dalam kaitan dengan kemampuan responden di dalam mengisinya, maka perlu diperhatikan :

· Hindari pertanyaan yang mempunyai lebih dari satu pengertian untuk tidak mengacaukan inti persoalan yang ditanyakan.

· Gunakan kata-kata yang sederhana mudah dimengerti oleh seluruh responden.

· Secara fisik jelas dan menarik.

· Upayakan pertanyaan jelas, tegas dan khusus.

· Pertanyaan tidak memberikan sugesti.

Angket itu sendiri memiliki prosedur penyusunan dan pengunaan angket terdiri dari tahapan perencanaan dan pemakaian. Perencanaan angket yang palin pokok ialah menentukan inti masalah yang akan diungkapkan sehingga terumus secara jelas, tegas dan detail. Setelah itu mulai mengkolaborasikan permasalahan ke dalam variabel-variabel dan indicator-indikator penting untuk ditanyakan. Secara konkret dapat disajikan salah satu model perancangan angket melalui penyusunan dan pengembangan format kisi-kisi meliputi :

Masalah

Variabel

Macam data

Bentuk angket

Item/option

Contoh: Kisi-kisi

Masalah

variabel

Macam Data

Bentuk Angket

Item

Option

1

2

3

4

5

6

Penjelasan :

  • Masalah adalah titik tekan yang mendasari pekerjaan lainnya dalam perancangan angket.
  • Variabel adalah konsep yang mempunyai nilai yang perlu diperjelas dan diubah bentuknya sehingga dapat diukur dan dipergunakan secara operasional.
  • Macam data, yaitu segala informasi; keterangan yang mempunyai arti yang menjadi objek.
  • Bentuk dan jenis angket, yaitu bisa angket terbuka dan berstruktur bergantung kepada permasalahan, variabel dan kepentingan.
  • Item, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk menyaring jawaban dari para responden. Dalam membuat item hendaknya memperhatikan hal-hal berikut ini :

a. Item harus tersusun dengan kalimat yang sederhana tapi jelas, tidak mengandung arti yang rangkap, tidak samara-samar, hindari kata-kata yang tak perlu, cantumkan semua alternative yang meungkin responden memilih pilihan yang cukup.

b. Hendaknya mampu memberikan daya pembeda dalam menanyakan/menggali fakta riil dan fakta idiil.

c. Setiap pertanyaan disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan intelektual responden.

d. Hindari pertanyaan-pertanyaan yang bersifat sugestif, sehingga tidak memojokkan atau memaksa responden.

e. Item yang baik harus singkat, jelas, sederhana, tidak banyak menuntut waktu tenaga pikiran yang berat pada responden sehingga responden tinggal memberi tanda v, x, o.

f. Hendaknya kata-kata yang dipakai cukup sopan dan tidak ekstrim, untuk tidak menyinggung responden.

g. Secara fisik memiliki daya tarik, tidak bertele-tele, huruf-huruf ditulis secara jelas.

h. Untuk menjamin kembalinya angket kepada pelaksana, usahakan saat mengirim yang tepat waktu dan kesempatan bagi responden.

i. Untuk menghindari keraguan dan prasangka negative dari responden, perlu diberikan penjelasan khusus maksud dan tujuan penyebaran angket serta dijaga kerahasiaannya.

j. Berikan petunjuk-petunjuk seperlunya mengenai cara-cara pengisian.

Setelah angket selesai dibuat hendaknya diuji cobakan terlebih dahulu. Sehingga tidak menimbulkan bias atau deviasi baik yang menyangkut validitas ataupu realibilitas data. Untuk responden yang akan dijadikan sampel seharusnya sama dengan kondisi yang sebenarnya. Maksudnya agar dapat merepresentasikan angket. Kemudian tahap selanjutnya adalah merevisi jikalau terdapat kekurangan di dalam angket. Baru setelah direvisi maka dilakukan proses penggandaan dan pengeditan sehingga angket dapat dinyatakan siap pakai.

Pada tahap pemakaian, angket yang telah siap pakai agar benar-benar sampai kepada responden yang dituju, perlu dicarikan cara-cara yang tepat di dalam pendistribusian, sehingga tepat sasaran dan tepat waktu. Dalam pendistribusian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Melalui kurir khusus atau tenaga yang secara sengaja telah direkrut untuk kepentingan ini.

2. Melalui pos atau sejenisnya, tetapi perlu pula diingat jarak jangkauannya dan keamanannya, maka untuk ini harus ditata serapih mungkin baik yang menyangkut keutuhannya maupun ketepatan sampai kepada responden yang dituju.

Wawancara

Secara sederhana wawancara dapat diartikan sebagai proses menggali keterangan, informasi sesuai tujuan pengumpulan data dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara interviewer (penanya) dengan interviewee (penjawab) yang berpedoman kepada alat (pedoman wawancara). Dalam pengertian yang telah terpapar di kalimat sebelumnya jelas bahwa wawancara tersebut terdapat unsur mencari informasi atau keterangan untuk kebutuhan tertentu, ada proses tanya jawab, interviewer, interviewee atau responden, dan juga alat bantu yang disebut dengan pedoman wawancara. Wawancara itu sendiri ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :

· Biasanya antara pewawancara dan penjawab belum saling mengenal.

· Sasaran (responden) selalu menjawab pertanyaan.

· Pewawancara biasanya bersifat netral, artinya tak pernah menjuruskan pertanyaan kepada satu jawaban.

· Pertanyaan yang diajukan berdasarkan pedoman yang telah disusun.

Dibawah ini adalah isi dari pedoman wawancara yang berisi ketentuan-ketentuan dalam wawancara yang dibuat secara tertulis, yaitu :

  • Memperoleh dan memastikan fakta,
  • Memperkuat kepercayaan.
  • Memperkuat perasaan.
  • Menggali standar kegiatan.
  • Mengetahui alasan seseorang.
  • Mengetahui perilaku sekarang dan perilaku terdahulu.

Sebagai pewawancara baiknya juga mempersiapkan alat-alat yang perlu dibawa saat wawancara adalah sebagai berikut :

· Buku catatan saku.

· Buku catatan sedang.

· Pensil lebih dari satu, usahakan pencatatan menggunakan pensil.

· Karet penghapus.

· Stop map plastik.

· Hardboard untuk menulis.

· Surat izin dan surat keterangan diri.

· Daftar responden.

· Peta.

Sikap yang harus diterapkan pewawancara, yaitu :

· Netral, tidak menentang atau bereaksi terhadap jawaban responden baik dengan kata-kata maupun gerakan.

· Adil, tidak memihak.

· Ramah.

· Hindarkan ketegangan.

Secara procedural kegiatan wawancara dapat dibagi menjadi dua; pertama, tingkat perencanaan; kedua, tingkat pelaksanaan. Secara visual menurut komarudin (1974 : 121) dapat dirumuskan seperti berikut:

PROSEDUR TEKNIK WAWANCARA

TIngkat

Rencana

Umpan

Balik

Tingkat

Pelaksanaan

Rencana

Keseluruhan

Pemilihan

Contoh

Rencana

Pertanyaan

Pengujian

Pendahuluan dan

Perbaikan

Kesimpulan

Interprestasi

dan analisis

Pengolahan dan

pengajian data

Pengolahan lapangan

Atas dasar sumber diatas dapat dirinci langkah-langkah yang perlu ditempuh jika akan menggunakan wawancara :

1. Menyusun rencana secara menyeluruh dengan memperhatikan perumusan aspek-aspek/ dimensi yang meliputi :

· Masalah pokoknya jelas.

· Tujuan konkret.

· Variabel tegas.

· Jenis/macam data yang dikehendaki.

2. Memilih contoh / sampel / responden.

3. Menyusun pertanyaan dari pedoman interview.

4. Melakukan uji coba dan revisi, uji coba hendaknya dilakukan terhadap objek yang menyerupai sasaran sesungguhnya, agar pertanyaan yang telah dipersiapkan memiliki tingkat ketepatan dan keterjangkauan yang tinggi. Selain itu juga dapat mengefisien dan mengefektifkan waktu dan tenaga sehingga kesulitan-kesulitan yang dihadapi dapat diketahui dan juga butir-butir pertanyaan yang salah atau tidak perlu dapat diketahui untuk direvisi.

5. Pelaksanaan, pada tahap ini interviewer selain menguasai materi pertanyaan, juga memiliki kepribadiaan sebagai berikut.

· Supel.

· Terampil.

· Tanggap.

· Ulet.

· Jujur.

· Cerdas.

Wawancara umumnya berupa pertanyaan-pertanyaan yang terbuka, maka jawaban yang diperoleh pun biasanya lebih terbuka dan bebas. Sehingga dalam wawancara terkadang akan menemukan berbagai kesulitan yang akan dihadapi oleh pewawancara. Kesulitan-kesulitan dalam wawancara menurut Warwick dan kawan-kawan dikatakan terdapat empat faktor dalam The sample survey; Theory and practice, Masri Singarimbun.

ISI PERTANYAAN :

 

-          Peka untuk ditanyakan

-          Sukar ditanyakan

-          Tingkat minat

-          Sumber kekhawatiran

 

RESPONDEN :

 

-          Karakteristik social

-          Kemampuan menangkap pertanyaan

-          Kemampuan untuk menjawab

 

SITUASI WAWANCARA :

-          Waktu

-          Tempat

-          Kehadiran orang lain

-          Sikap masyarakat

 

PEWAWANCARA :

 

-          Karakteristik social

-          Keterampilan mewawancarai

-          Motivasi

-          Rasa aman

 

Dalam hubungan dengan sasaran isi suatu kegiatan wawancara menurut Sellitiz dirumuskan seperti berikut :

  • Sasaran isi untuk memperoleh atau memastikan suatu fakta.
  • Isi yang mempunyai sasaran untuk memastikan kepercayaan tentang keadaan fakta.
  • Isi yang mempunyai sasaran untuk memastikan perasaan.
  • Isi yang mempunyai sasaran untuk menemukan suatu standar kegiatan.
  • Isi yang mempunyai sasaran untuk mengetahui perilaku sekarangatau perilaku terdahulu.
  • Isi yang mempunyai sasaran untuk mengetahui alasan-alasan.

Hal lain yang penting diketahui dalam hubungan dengan kegiatan wawancara adalah pemilihan wawancara atas dasar (Kartini Kartono, 1985).

  1. Fungsinya dapat dibagi menjadi :

a. Interview research yaitu digunakan untuk melengkapi data penelitian.

b. Interview diagnostic yaitu interview untuk menentukan jenis gangguan yang dialami oleh warga belajar.

c. Interview treatmen yaitu wawancara yang diajukan untuk terapi dan penyembuhan masalah/penyakit yang ada dan dialami objek.

2. Menurut jumlah responden yang diwawancarai bisa secara; individual dan kelompok.

  1. Menurut panjang lamanya kontak diadakan:

a. Dalam waktu pendek.

b. Dalam waktu kontak jangka panjang dan beruntun.

c. Wawancara terpusat, yaitu yang terkontrol, terpusat dan terstruktur, guna mendalami masalah secara mendetail dan cermat seperti reaksi emosi para warga belajar, tutor, dan seterusnya.

d. Wawancara berulang-ulang yaitu untuk melacak perkembangan suatu kasus-kasus atau gejala-gejala social.

  1. Menurut tujuan dan subjek, terdiri atas:

a. Wawancara jabatan yang berguna dalam mencocokan bakat serta kemampuan seseorang.

b. Wawancara informative yang ditujukan untuk mendapatkan dan memberikan informasi penting.

c. Wawancara disipliter yaitu ditujukan untuk menuntut adanya perubahan tingkah laku subjek wawancara, dan

d. Wawancara penyuluh yaitu ditujukan untuk memberikan bantuan pada klien agar mampu memecahkan dan menggulangi kesulitan yang dihadapi.

Dalam kegiatan wawancara, pada tahap pelaksanaan ada baiknya telah mempersiapkan persyaratan-persyaratan administratif, seperti :

· Penjadwalan.

· Perizinan.

· Memberitahu calon responden.

Observasi atau pengamatan

Secara singkat observasi diartikan sebagai studi yang disengaja dan sistemik tentang social dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Menurut Sellitz pengamatan sebagai teknik pengumpulan data harus memenuhi criteria tertentu diantaranya :

· Digunakan untuk penelitian dan telah direncanakan secara sistematik.

· Harus berkaitan dengan tujuan penelitian yang telah direncanakan.

· Adanya pencatatan secara sistematik dan dihubungkan dengan proposisi umum dan bukan dipaparkan sebagau suatu set yang menarik perhatian saja.

· Dapat dicek dan dikontrol atas validitas dan realibilitasnya.

Observasi atau pengamatan ini memiliki kelemahan dan kelebihan. Kelemahan dalam pelaksanaan obeservasi, yaitu :

· Jangka waktu yang dibutuhkan relatif lama dan panjang, kadang kala menimbulkan rasa bosan.

· Ada kegiatan/peristiwa yang tak dapat diobservasi.

· Kadang kala suatu situasi yang dibuat-buat dari pihak yang sedang berlangsung.

· Adanya factor-faktor luar yang tidak dapat dikontrol dan juga sulit dihindari.

Sedangkan untuk kelebihannya, yaitu :

· Terdapat kemudahan untuk mencatat hal-hal, perilaku dan sebagainya, sewaktu kejadian atau perilaku tersebut sedang berlangsung.

· Data langsung mengenai perilaku yang tipikal dari objek yang diamati dapat dicatat segera dan tidak menggantungkan pada ingatan seseorang.

· Dapat menjembatani peralihan data dari sumber yang tidak memiliki kesempatan dan tidak bersedia berkomunikasi secara verbal atau tulis.

Dilihat dari jenisnya, teknik pengamatan dibagi menjadi :

1. Pengamatan Partisipatif, yaitu dilakukan dengan melibatkan diri dalam suatu kegiatan yang sedang dijalani/berlangsung pada diri subjek yang diamati. Contoh, pelaksana/petugas SEMP ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan Kejar Usaha yang sedang diamati. Sehingga ia mampu mengikuti keseluruhan tahap yang dijalani oleh kejar yang bersangkutan. Agar proses berlangsung secara cermat dan kena sasaran, maka penting perhatikan :

a. Materi pokok yang hendak diobservasi.

b. Bagaimana pencatatan yang baik.

c. Memelihara hubungan baik antara observaser dengan objek yang diobservasi.

d. Mengetahui batas intensitas dan ekstensitas partisipasi meliputi cakupan bersifat partisipasi parsial penuh, partisipasi intensif dan partisipasi permukaan.

2. Pengamatan Sistematis, yaitu jenis pengamatan yang memiliki struktur atau kerangka yang jelas, memuat kategori-kategori dan tabulasi tertentu menurut sistematika tertentu yang memudahkan pencatatan dan analisis berdasarkan permasalahan yang terbatas dan tegas. Dalam pengamatan ini digunakan alat pencatat yang sederhana dan mudah dilakukan seperti checklist, rating scale dan seterusnya. Pengamatan ini jarang sekali mengunakan alat elektronik seperti kamera, tape recorder dan sebagainya sebagai alat pendukung dalam pengamatan.

Alat-alat pencatatan yang digunakan dalam observasi atau pengamatan, yaitu:

Contoh:

a. Checklist, yaitu berupa daftar cek yang berisi subjek dan identitas lain. Kegunaannya untuk mengadakan sistematisasi dan uniformitasi catatan observasi dengan member tanda centang.

Nama : Ponirin

Usia : ………..

Pendidikan : ………..

Factor-faktor psikis

Centang

1

Disiplin dalam kegiatan

V

2

Kerajinan

V

3

Ketekunan

V

4

Keterampilan

V

5

b. Skala Penilaian, memiliki 2 bentuk yaitu :

Bentuk kualitatif, yaitu subjek observasi memiliki kesesuaian dengan sifat berikut secara sempurna.

Nama warga belajar :

Sifat-sifat

1. Suka kerjasama

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

2. Kerajinan

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

3. Ketelitian

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

4. Penuh perhatian

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

5. Dst

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

6. Dst

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Betuk deskriptif, yaitu member centang dimuka pertanyaan.

Sifat

Indikator

1. Kerja sama :

(…..) Tidak dapat bekerja sama dengan orang lain.

(…..) Kadang – kadang mau bekerja sama

(…..) Mau bekerja sama

2. Inisiatif :

(…..) Selalu diberi bimbingan

(…..) Merencanakan kegiatan sendiri

(…..) Menunggu perintah

Dst

7. Pengamatan Eksperimental, yaitu bentuk pengamatan yang dibuat dan di strukturisasi dan disistimatisir sedemikian rupa, dengan maksud untuk memperoleh gambaran/perubahan kondisional setelah ditimbulkan variabel tertentu yang eksperimental guna diteliti. Dalam pengamatan eksperimetal ini terdapat ciri-ciri yang perlu diperhatikan sehingga sesuai dengan tujuan seperti halnya yang dikemukakan oleh Gronbach (Kartini Kartono, 1983).

a. Observasi dihadapkan sedemikian rupa pada situasi perangsangan yang diciptakan secara seragam untuk selama observer.

b. Situasi ditata demikian rupa sehingga bisa diubah-ubah guna memungkinkan timbulnya variasi-variasi perilaku/aktivitas beragam yang didapat diobserve oleh pengamat.

c. Situasi dibuat sedemikian rupa sehingga observer tidak mengetahui maksud yang sebenarnya dari observasi dengan kondisi yang dapat diterima oleh observer sendiri.

d. Dibantu dengan alat-alat pencatat yang cukup guna melakukan pencatat secermat dan seteliti mungkin sehingga memudahkan pengolahan dan analisis.

April 8, 2009 Ditulis oleh prari007luck | Uncategorized | | Belum Ada Tanggapan

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.

Fenomena yang ada saat ini adalah banyak masyarakat yang dulunya putus sekolah dan ingin melanjutkan sekolah. Tetapi, karena umur mereka yang tidak sesuai serta aktivitas kerja mereka tidak memungkinkan lagi jika mereka harus sekolah di tempat yang dipenuhi dengan peraturan yang mengikat.

Kesadaran terhadap pentingnya kedudukan masyarakat dalam proses pembangunan pendidikan dalam era globalisasi saat yang tepat ini bukan merupakan keterlambatan dalam pengambilan keputusan untuk peluncuran strategi yang baru dan lebih inovatif. Bentuk konkrit dari lahirnya kesadaran adalah masyarakat yang mampu membangun dirinya sendiri yang dapat dikembangkan melalui pendekatan melalui pendekatan pendidikan yang berbasis masyarakat yang diwujudkan dalam pembelajaran masyarakat partisipatif.

Pembelajaran masyarakat itu sendiri harus ditumbuhkan karena tidaklah mungkin bak pohon berbuah tanpa ada proses penanaman. Bila diartikan tidak akan mungkin mayarakat mau dengan susah payah memikirkan kegiatan yang mungkin sulit untuk diselenggarakan bagi mereka tanpa memiliki kompetensi. Maka, sebaiknya masyarakat diberikan penumbuhan partisipasi dalam kegiatan pembelajaran keaksaraan fungsional.

1.2. Identifikasi Masalah.

1. Apakah masyarakat tidak memiliki kemampuan dalam membaca, menulis, dan berhitung?

2. Apakah mayarakat memerlukan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung?

3. Apakah sudah terdapat program membaca, menulis, dan berhitung?

4. Apakah mayarakat mau turut serta dalam mengikuti program membaca, menulis, dan berhitung?

1.3. Pembatasan Masalah.

Dari hasil identifikasi masalah yang ada di masyarakat, maka perlu adanya pembatasan masalah agar dalam membuat makalah lebih focus. Jadi, penulis membatasi masalah yang berkenaan dengan “Penumbuhan Partisipasi Masyarakat dalam Program Keaksaraan Fungsional”.

1.4. Perumusan Masalah.

Berdasarkan dari latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah sebagai berikut : “Bagaimana Menumbuhkan Partisipasi Masyarakat dalam Program Keaksaraan Fungsional?”

1.5. Tujuan Penulisan.

Adapun tujuan penulisan makalah ini, antara lain :

1. Sebagai tugas pengganti ujian akhir semester (UAS) mata kuliah Tehnik Penumbuhan Partisipasi Masyarakat pada Jurusan Pendidikan Luar Sekolah.

2. Untuk menambah ilmu pengetahuan mengenai penumbuhan partisipasi masyarakat khususnya pada program keaksaraan fungsional.

3. Mendapatkan gambaran kehidupan masyarakat yang tidak dapat membaca, menulis dan berhitung.

4. Mendapatkan gambaran menumbuhkan partisipasi di masyarakat.

5. Mengetahui sejauhmana kemampuan penulis dalam membuat makalah sebagai aplikasi dari pembelajaran ilmu-ilmu yang telah dipelajari dikelas selama satu semester.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Kajian Teori.

2.1.1. Hakikat Partisipasi.

Kata partisipasi berasal dari bahasa inggris yaitu “Partisipation” yang artinya pengambilan bagian, pengikutsertaan. Sedangkan kata “Partisipation” berasal dari kata “Partisipate” yang berarti mengikutsertakan. Seiring dengan definisi tersebut partisipasi dapat diartikan sebagai turut serta berperan serta atau keikutsertaan.

Dalam kamus bahasa Indonesia defini partisipasi adalah hal yang berkenaan dengan turut serta dala suatu kegiatan atau berperan serta dalam suatu kegiatan atau berperan serta. Jadi, dapat diartikan bahwa partisipasi adalah suatu bentuk kerjasama yang diberikan apabila suatu pihak sedang melakukan suatu kegiatan.

Dengan keterlibatan dirinya, berarti keterlibatan pikiran dan perasaannya. Misalnya anda berpartisipasi/ ikut serta (dapat anda rasakan sendiri), maka anda melakukan kegiatan itu karena menurut pikiran anda perlu dan bahwa perasaan anda pun menyetujui/berkenan untuk melakukannya.

R.A Santoso Sastropoetro mengemukakan pengertian partisipasi adalah keterlibatan yang bersifat spontan yang disertai kesadaran dan tanggung jawab terhadap kepentingan kelompok untuk mencapai tujuan bersama.

Jenis-jenis partisipasi yang dikemukakan oleh sastropoetro, sebagai berikut:

1. Partisipasi dalam pikiran.

Dalam hal ini partisipasi berupa mengusulkan pendapat dan merencanakan berbagai kegiatan demi kesuksesan suatu kegiatan atau program.

2. Partisipasi dalam tenaga.

Partisipasi ini dapat berupa sumbangsih tenaga yang diberikan oleh sebagian atau seluruh masyarakat sehingga suatu kegiatan atau program dapat berjalan lancer.

3. Partisipasi dalam keahlian.

Bentuk partisipasi ini adalah berdasarkan dari tingkat keahlian, keterampilan, pendidikan, dan pekerjaan yang dimiliki oleh sebagian atau seluruh masyarakat.

4. Partisipasi dalam fasilitas.

Partisipasi yang dimaksudkan disini adalah partisipasi atau keikutsertaan yang dapat berupa kontribusi melalui uang, barang, dan jasa.

2.1.2. Hakikat Pembelajaran Partisipatif.

Pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap upaya yang sistematis dan disengaja untuk menciptakan kondisi-kondisi agar terjadi kegiatan belajar-membelajarkan. Dalam kegiatan ini terjadi interaksi edukatif antara dua pihak, yaitu antara peserta didik (warga belajar) yang melakukan kegiatan belajar dengan pendidik (sumber belajar) yang melakukan kegiatan membelajarkan.

Partisipatif itu sendiri yang telah disinggung sebelumnya adala ikut berperan serta atau ikut serta. Maka, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran partisipatif adalah upaya yang sistematis yang disengaja agar terjadi belajar membelajarkan yang warga belajarnya berperan serta atau ikut serta.

Ada beberapa faktor-faktor yang perlu diperhatikan ketika mengunakan tehnik-tehnik pembelajaran partisipatif, yaitu :

1. Faktor manusia, dalam pengunaan tehnik pembelajaran partisipatif yang perlu diperhatikan adalah warga belajar yang mempunyai karakteristik tersendiri, sumber belajar yang telah menguasai tehnik-tehnik pembelajaran partisipatif agar dalam proses pembelajaran tidak terjadi hal-hal yang tidak efektif dan efisien, tenaga lain yang terkait ini akan mempengaruhi jalannya kegiatan pembelajaran karena pihak ini akan membantu dan akan juga menghambat kegiatan pembelajaran partisipatif, dan masyarakat perlu diperhatikan karena masyarakatlah yang membentuk karakteristik warga belajar.

2. Faktor tujuan belajar, apabila berbicara mengenai proses belajar maka secara tidak langsung secara tersirat berbicara tentang tujuan belajar. Sebab hubungan sebab akibat yang saling keterkaitan satu sama lainnya. Dapat dilihat dari tujuan belajar yang berfokus kepada keterampilan maka tehnik yang digunakan pun akan berbeda pula.

3. Faktor bahan belajar, factor ini akan menjadi bahan pertimbangan sumber belajar dalam menyampaikan materi yang akan diberikan kepada warga belajar. Sebab bahan belajar akan menentukan tehnik yang akan digunakan agar efisien dan efektif.

4. Faktor waktu dan fasilitas belajar, faktor ini juga akan mempengaruhi tehnik yang akan digunakan dan tepatnya mengenai keterbatasan waktu ataupun waktu yang sangat luang dalam menyampaikan materi pembelajaran. Serta membantu memudahkan dalam menerangkan materi apabila terdapat fasilitas yang memadai.

5. Factor sarana belajar, factor ini juga tidak kalah pentingnya dengan factor yang lain. Sebab sarana belajar juga akan mendukung dalam proses pembelajaran.

Pada pembelajaran partisipatif terdapat tahapan kegiatan pembelajaran dianataranya, yaitu :

1. Tahap pembinaan keakraban, tahap ini memiliki tujuan untuk mengkondisikan para warga belajar agar siap melakukan kegiatan pembelajaran partisipatif. Dikarenakan warga belajar belajar tidak kenal yang lebih mendalam satu sama lainnya maka perlu tahap pembinaan keakraban agar tercipta suasana belajar yang aktif dan tidak kaku.

2. Tahap identifikasi kebutuhan, sumber dan kemungkinan hambatan, tujuan pada tahap ini adalah untuk mengenali, menyatakan, dan merumuskan kebutuhan belajar, sumber-sumber yang tersedia dan hambatan yang mungkin akan dihadapi dalam kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan belajar. Serta pada tahap ini juga memiliki tujuan lain untuk memotivasi warga belajar agar kegiatan belajar itu dirasakan oleh mereka menjadi miliknya sendiri.

3. Tahap perumusan tujuan belajar, perumusan tujuan belajar dilakukan untuk memotivasi warga belajar dan berfungsi sebagai pengarah kegiatan belajar dan pengukur efektivitas pencapaian hasil kegiatan belajar.

4. Tahap penyusunan program kegiatan belajar, bertujuan agar warga belajar memiliki pengalaman bersama dalam menyatakan, memilih, menyusun, dan menetapkan kegiatan belajar yang akan ditempuh oleh mereka.

5. Tahap pelaksanaan kegiatan, keikutsertaan warga belajar berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab dalam penyelenggaraan program kegiatan belajar membelajarkan. Pada tahap ini mencangkup kegiatan : menyiapkan fasilitas dan alat bantu pembelajaran, menerima informasi tentang materi/bahan ajar dan prosedur pembelajaran, membahas materi/bahan ajar, dan melakukan saling tukar pengalaman dan pendapat dalam membahas materi atau memecahkan masalah yang sedang dihadapi bersama.

6. Tahap penilaian proses, hasil, dan pengaruh kegiatan belajar, penilaian adalah upaya mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan data atau informasi mengenai kegiatan belajar-membelajarkan sebagai masukan untuk pengambilan keputusan. Aspek-aspek kegiatan yang dinilai adalah proses, hasil dan pengaruh kegiatan belajr-membelajarkan. Tahap ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian kegiatan belajar-membalajarkan dengan rencana yang disusun sebelumnya.

Pada umumnya tehnik pembelajaran partisipatif menuntut warga belajar untuk ikut serta secara aktif dalam kegiatan belajar-membelajarkan dengan berfikir dan berbuat secara kreatif, bebas, terbuka, dan bertanggung jawab untuk mempelajari hal-hal yang bermakna dalam memenuhi kebutuhan belajar dan kepentingan bersama.

2.1.3. Hakikat Masyarakat.

Masyarakat berasal dari bahasa arab “syaraka” yang berarti ikut serta, berpartisipasi, atau “musyaraka” berarti saling bergaul. Di dalam bahasa inggris dipergunakan dengan istilah “society” yang sebelumnya berasal dari kata “socius” berarti kawan yang lama-kelamaan berubah menjadi bersama-sama. Masyarakat juga diartikan sebagai sekelompok manusia yang telah cukup lama dan bekerja sama, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya sebagai salah satu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.

Dari hal ini dapat dilihat bahwa masyarakat terdiri dari sekumpulan manusia yang berinteraksi dan merupakan kesatuan sosial.

Masyarakat memiliki cirri-ciri yang menurut Soerjono Soekanto dinyatakan sebagai berikut :

1. Manusia yang hidup bersama. Di dalam ilmu sosial tak ada ukuran yang mutlak ataupun angka yang pasti untuk menentukan berapa jauh manusia yang harus ada. Akan tetapi secara teoritis, angka minimumnya ada dua orang yang hidup bersama.

2. Bercampur untuk waktu yang cukup lama. Kumpulan dari manusia tidaklah sama dengan kumpulan benda-benda mati seperti umpamanya kursi, meja dan sebagainya, karena berkumpulnya manusia, akan timbulnya manusia-manusia baru. Manusia itu juga dapat bercakap-cakap, mersa dan mengerti, mempunyai keinginan-keinginan untuk menyampaikan kesan-kesan atau persaan-perasaannya. Sebagai akibat hidup bersama itu, timbullah sistem komunikasi dan timbullah peraturan-peraturan yang mengatur hubungan manusia dalam kelompok tersebut.

3. Mereka sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan.

4. Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama. System kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan, oleh karena setiap setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat satu dengan yang lainnya.

Cirri-ciri masyarakat diatas, selaras dengan definisi masyarakat yang telah dikemukakan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan yang sama.

2.1.4. Hakikat Persuasi.

Kata “persuasi” berasal dari bahasa inggris “persuation” yang berinduk pada kata kerja “to persuade”, yang berarti membujuk, merayu, dan menghimbau. Kegiatan membujuk, merayu, menghimbau, atau sejenisnya adalah merangsang seseorang untuk melakukan sesuatu dengan spontan, dengan senang hati, dengan sukarela tanpa mersa dipaksa. Kata persuasi jika ditelusuri berasal dari abahasa latin “per sua dare” yang juga berarti mengerakkan seseorang melakukan sesuatu dengan senang hati dengan kehendak sendiri atanpa merasa dipaksa oleh orang lain.

Persuasi merupakan salah satu metode komunikasi social dan dalam penerapannya mengunkan tehnik/ cara teratur, sehingga dapat menyebabkan orang lain bersedia malakukan sesuatu tanpa dipaksa. Carl I. Hovland dalam bukunya yang berjudul communication and persuation berpendapat bahwa “ efek utama utama dari komunikasi persuasi adalah menstimulisasi si individu untuk berfikir sekaligus mengenai dua hal, yaitu pendapat asalnya dan pendapat baru yang direkomendasikan melalui komunikasiyang berkenaan”. Dari uraian ini telah jelas bahwa komunikasi persuasi pada dasarnya adalah suatu kegiatan komunikasi yang bertujuan untuk mengubah pendapat. Komunikan yang telah memiliki suatu pendapat, dihadapakan kepada suatu pendapat baru yang akan mengantikan pendapat yang telah ada.

Tehnik-tehnik metode persuasi adalah :

  1. Assosiasi

Tehnik ini menyangkut kepada sesuatu peristiwa atau seseorang sedang tenar, popular, ramai dibicarakan masyarakat secara positif.

  1. Menumbuhkan kekhawatiran yang merangsang untuk dengan kehendak sendiri melakukan sesuatu pemecahan (fear arrousing).

Tehnik ini merangsang untuk atau melakukan sesuatu tanpa dipaksadengan senang hati yang bersifat sugesti.

  1. Mengubah pendapat dengan harapan bahwa dengan perubahan itu akan mendapat manfaat (pay off idea).

Dengan memberikan saran atau usul yang akan berdampak memberikan manfaat untuk penerima.

  1. Icing device and red herring (Iming-iming).

Menumbuhkan keinginan atau kehendak untuk memiliki atau melakukan sesuatu.

  1. Partisipasi-peran serta.

Menumbuhkan kesadaran dan kesukarelaan pada diri untuk turut serta dalam kegiatan.

2.2. Analisis.

Pendidikan memang sangat penting dalam kehidupan karena dengan pendidikan diharapkan manusia dapat meningkatkan taraf hidupnya. Akan tetapi tidak semua orang bias menikmatipendidikan secara formal karena ada beberapa factor penyebab mengapa setiap orangnya tidak mendapatkannya.

Membaca, menulis, dan berhitung merupakan kemampuan yang banyak manfaatnya. Dengan dapat membaca manusia, dalam hal ini adalah mayarakat, dapat menambah pengetahuan dan ilmu yang terdapat pada buku, surat kabar dan lain sebagainya yang memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Pendidikan yang diberikan bukan hanya mengacu pada ranah kognitif dan afektif saja melainkan juga mengacu pada ranah psikomotorik. Pendidikan dibuat semenarik mungkin agar tercipta suasana belaajr yang kondusif agar memiliki perhatian, rasa ingin tahu dan minat pada pendidikan membaca, menulis, dan berhitung.

Pendidikan membaca, menulis, dan berhitung termuat dalam bentuk kegiatan atau program keaksaraan fungsional yang sebelumnya dibuat berdasarkan tahap-tahap pengunaan tehnik pembelajaran partisipatif. Kegiatan ini sebaiknya terlebih dahulu diidentifikasi sesuai dengan sasaran yang akan diberikan program keaksaraan fungsional. Serta faktor-faktor dalam pengunaan tehnik pembelajaran partisipatif juga patut diperhatikan dan dipertimbangkan oleh penyelanggara program agar berjalan dengan efektif dan efisien.

Pada dasarnya pendidikan keaksaraan fungsional merupakan salah satu program pemerintah mengenai pemberantasan buta aksara. Akan tetapi masih banyak masyarakat tidak membaca, menulis dan berhitung masih banyak. Untuk mempermudah dalam mencari atau mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam program keaksaraan fungsional dibutuhkan tehnik persuasi agar masyarakat dengan sukarela ingin menjadi warga belajar.

Dalam proses pembelajaran diharapkan tercipta suasana belajar bersifat partisipasi. Karena dengan bersifat partisipasi kegiatan belajar-membelajarkan akan semakin mudah sebab warga belajar akan maerasa bahwa kegiatan ini memang milik mereka yang harus dirasakan manfaatnya bagi mereka.

2.3. Materi Program Keaksaraan Fungsional (membaca, menulis, dan berhitung}.

A. Huruf Besar dan Huruf Kecil

Aa Bb Cc Dd Ee Ff Gg Hh Jj Kk Ll Mm Nn Oo Pp Qq Rr Ss Tt Uu Vv Ww Xx Yy Zz

B. Angka-angka dari 1 sampai 10

1 2 3 4 5 6 7 8 9 0

C. Penjumlahan ( + )


1+1=2

2+2=4

3+3=6

4+4=8

5+5=10

6+6=12

7+7=14

8+8=16

9+9=18

10+10=20


10 15 37 110 137 131

21 + 3 + 8 + 5+ 12+ 111+

31 18 45 115 149 242

D. Pengurangan ( – )


10-1=9

10-2=8

10-3=7

10-4=6

10-5=5

2-1=1

1-1=0

5-3=2

9-6=3

10-6=4


15 17 22 29 151 193 185 132

2 - 8 - 21 - 9 - 31- 71 - 5 - 120 -

13 11 1 20 120 122 180 12

E. Pembagian ( : )


5 : 5 = 1

4 : 2 = 2

8 : 2 = 4

9 : 3 = 3

12 : 3 = 4

12 : 6 = 2

15 : 3 = 5

10 : 2 = 5

20 : 2 = 10

25 : 5 = 5


F. Perkalian ( x )


2×5=10

2×4=8

3×2=6

7×4=28

8×2=16

1×1=1

4×3=12

5×3=15

6×4=24

2×2=4


23 51 12 15 103 121 125

3 x 2x 5x 3 x 2 x 11 x 112 x

69 102 60 45 206 121 250

121 + 125

1331 125 +

14000


BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan.

Tehnik penumbuhan partisipasi masyarakat dapat diaplikasikan dalam berbagai setiap kegiatan kehidupan sehari-hari manusia. Penumbuhan partisipasi mayarakat dapat dilakukan dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat dan berdampak langsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Untuk menarik masyarakat untuk turut ikut serta dalam mengikuti kegiatan yang diselenggarakan dibutukan tehnik persuasi agar program yag diselenggarakan dapat terlaksana dengan baik tanpa terdapat hambatan.

3.2. Saran.

Dalam memberantas buta aksara nasional memang haruslah sering diselenggarakan program keaksaraan fungsional yang menitik-beratkan kepada komunitas daerah terpencil. Di daerah tersebutlah masih terdapat masyarakat yang buta huruf. Dengan kembali pada prinsip bahwa pendidikan itu amatlah penting bagi setiap warga Negara maka program yang dibuat haruslah berdasarkan kebutuhan masyarakat dilapangan. Sebab kebutuhan yang mendesak dan harus segera dipenuhilah yang mengkin masyarakat akan memberikan perhatiannya untuk kegiatan atau program yang dibuat.

Satu hal terpenting untuk dijadikan tambahan, sebaiknya program keaksaraan funsional diselingi dengan program keterampilan yang bermanfaat bagi mereka agar tidak terjadi kejenuhan dalam proses belajar-membelajarkan.

DAFTAR PUSTAKA

Sastropoetro, Santoso. 1988. Partisipasi, Komunikasi, Persuasi, dan Disiplin dalam Pembangunan Nasional. Bandung: Alumni.

Anthony, Robert. 1991. Tehnik Persuasi yang Efektif. Jakarta: Rina Rupa Aksara.

Basrowi, Muhammad. 2004. Memahami Sosiologi. Surabaya:Lutfansah Mediatama.

Departemen Pendidikan Nasional ( Direktorat Jenderal pendidikan dasar dan Menengah ). Model Silabus Kurikulum Sekolah Dasar Kelas 1dan 2 tahun 2004. Direktorat Pendidikan TK dan SD.

April 8, 2009 Ditulis oleh prari007luck | Uncategorized | | Belum Ada Tanggapan

PENDAHULUAN

Pada tanggal 21-27 oktober 2006, Tim Mahasiswa Indonesia terbang ke negeri tirai bambu (China) tepatnya di Tianjin. Mereka, terdiri dari Mario Mambu dengan pasangannya Cliff Tangkuman, Suci Amita Dewi dengan Christina Wahyu, dan Arie Maramis dengan Steward Bayung yang didampingi kapten Parpar Pryatna bergabung dengan dua puluh enam tim lainnya dari dua puluh dua negara yang dipastikan bakal mengikuti turnamen tahunan ini.

Mahasiswa Indonesia mempunyai target untuk membawa pulang hasil dengan masuk sepuluh besar. Target mereka tidak terlalu tinggi karena minimnya persiapan mereka untuk menghadapi pertandingan tahun ini. Akan tetapi, semangat mereka tidaklah surut untuk melawan Kanada atau untuk bertanding dalam 27 ronde.

Mereka mempunyai target yang disampaikan oleh pelatih Indonesia FerdyWaluyan menjadi sepuluh besar. Hal itu dikarenakan persiapan mereka yang kurang matang. Akan tetapi, Ketua Umum Pengurus Besar GABSI berharap besar kepada mereka untuk selalu kompak untuk mendapatkan hasil yang maksimal, bertanding dengan kondisi prima, dan lain-lainnya.

TOPSKOR. 18 Oktober 2006.

PEMBAHASAN

1. Kohesivitas.

Kohesivitas merupakan kekuatan interaksi dari anggota suatu kelompok. Kohesivitas ditunjukkan dalam bentuk keramahtamahan antar anggota kelompok, mereka biasanya senang untuk bersama-sama. Masing-masing anggota merasa bebas untuk mengemukakan pendapat dan sarannya. Anggota kelompok biasanya juga antusias terhadap apa yang ia kerjakan dan mau mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan kelompoknya. Merasa rela menerima tanggung jawab atas aktivitas yang dilakukan untuk memenuhi kewajibannya. Semua itu menunjukan adanya kesatuan, kereratan, dan saling menarik dari anggota kelompok.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kohesivitas/kepaduan.

Ø Kesamaan nilai dan tujuan.

Kohesivitas akan terjadi bila anggota kelompok memiliki sikap, nilai dan tujuan yang sama.

Ø Keberhasilan dalam mencapai tujuan.

Keberhasilan dalam mencapai tujuan yang penting dapat meningkatkan kesatuan kelompok, kepuasan antar anggota kelompok dan membuat kelompok menjadi lebih menarik bagi anggotanya.

Ø Status kelompok.

Kelompok yang memiliki status atau kedudukan yang lebih tinggi lebih menarik bagi para anggotanya.

Ø Penyelesaian perbedaan.

Jika terjadi perbedaan tentang suatu masalah penting yang terjadi dalam kelompok, maka diperlukan penyelesaian yang dapat memuaskan semua anggota.

Ø Kecocokan terhadap norma-norma.

Norma membantu dan mempermudah dalam meramalkan dan mengendalikan perilaku yang terjadi dalam kelompok.

Ø Daya tarik pribadi.

Kohesivitas atau kepaduan akan meningkat jika terdapat adanya daya tarik dari para anggota yaitu adanya kepercayaan timbal balik dan saling memberikan dukungan. Daya tarik ini berfungsi untuk mengatasi hambatan dalam mencapai tujuan.

Ø Persaingan antar kelompok.

Persaingan antar kelompok yang terjadi dapat menyebabkan anggota kelompok lebih erat dan bersatu dalam melakukan aktivitasnya.

Ø Pengakuan dan penghargaan.

Jika suatu kelompok berprestasi dengan baik kemudian mendapat pengakuan dan penghargaan dari pimpinan, maka dapat meningkatkan kebanggaan dan kesetian dari anggota kelompok.

Ø Pengalaman yang tidak menyenangkan dengan kelompok.

Ketika anggota kelompok tidak menarik antara satu sama lainnya atau kurang kepercayaan di antara mereka atau adanya pengalaman yang tidak menyenangkan dapat menurunkan adanya tingkat kepaduan.

Ø Persaingan intern antar anggota kelompok.

Persaingan intern anggota kelompok menyebabkan adanya konflik, permusuhan dan mendorong adanya perpecahan di antara anggota kelompok.

Ø Dominasi.

Jika satu atau lebih anggota kelompok mendominasi kelompok atau karena sifat kepribadian tertentu yang cenderung tidak senang berinteraksi dengan anggota kelompok maka kepaduan atau kohesivitas tidak akan berkembang. Prilaku seperti itu akan menimbulkan terjadinya klik-klikdalam kelompok yang dapat menurunkan tingkat kepaduan.

Faktor-faktor yang dapat menurunkan tingkat kohesivitas/kepaduan.

Adanya sejumlah faktor yang dapat menurunkan adanya kohesivitas, seperti adanya ketidaksamaan tentang tujuan, besarnya kelompok, pengalaman yang tidak menyenangkan dengan kelompok dan dominasi.

Ø Ketidaksamaan tentang tujuan.

Ketidaksamaan pandangan tentang tujuan dari para anggota kelompok dapat menimbulkan adanya konflik. Bila konflik yang terjadi tuidak dapat dikendalikan dapat menyebabkan adanya penurunan tingkat kepaduan.

Ø Besarnya anggota kelompok.

Sejalan dengan bertambah besarnya kelompok, maka frekuensi interaksi di antara anggota kelompok akan menurun. Dengan demikian dapat menurunkan tingkat kepaduan.

2. Alasan-alasan terbentuknya kelompok.

Terbentuknya berbagai kelompok dalam kehidupan manusia merupakan wujud dari hakikat manusia, khususnya dari dimensi kesosialannya. Manusia adalah makhluk sosial tang tak mungkin dapat hidup berkembang secara layak apabila ia hidup sendiri dan menyendiri. Oleh akrna itulah, manusia berkelompok atau membentuk sebuah kelompok untuk hidup bersama dan berkumpul.

Kelompok pada dasarnya dimuali dari berkumpulnya sejumlah orang. Orang-orang ini menjunjung suatu atau beberapa kualitas tertentu sehingga dengan demikian kumpulan tersebut menjadi sebuah kelompok. Tetapi perlu diingat bahwa orang yang berkumpul dalam sebuah ruangan dan berjumlah besar tidak dapat dikatakan sebagai kelompok dikarenakan tidak adanya kesepakatan atau konsensus dalam mencapai sebuah tujuan atau tepatnya menjunjung suatu atau beberapa kualitas.

Adanya suatu kelompok tidak harus diawali dengan adanya kerumunan. Suatu kelompok dapat segera terjadi, yaitu apabila sebelum orang-orang yang bersangkutan berkumpul terlebih dahulu kepada mereka diberitahukan tujuan yang akan dicapai.

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kelompok, antara lain :

v Adanya interaksi antar orang-orang yang ada di dalam kumpulan atau suatu kerumunan.

v Ikatan emosional sebagai pernyataan kebersamaan.

v Tujuan atau kepentingan bersama yang ingin dicapai.

v Kepemimpinan yang dipatuhi dalam rangka mencapai tujuan atau kepentingan bersama.

v Norma yang diakui dan diikuti oleh mereka yang terlibat di dalamnya.

Akan tetapi, tidak semua kelompok harus dilatar belakangi oleh faktor-faktor diatas. Walaupun sebagian besar dipengaruhinya karena bisa saja ada beberapa faktor lainnya yang berbeda.

Selain faktor di atas ada juga beberapa alasan mengapa orang mau memasuki suatu kelompok secara sukarela, yaitu :

v Dalam kelompok dapat dicapai tujuan atau kepentingan pribadi yang penting, misalnya kedudukan dan penghargaan.

v Kelompok menyajikan kegitan yang menarik, misalnya diskusi, menjelajah alam, olahraga, dan lain-lainnya.

v Dapat memenuhi kebutuhan pribadi dalam kelompok, misalnya kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki.

Terjadinya kelompok menurut orientasi psikologi.

1. Teori perkembangan.

Bennis dan Sheppard (dipengaruhi oleh psikoanalisis), 1956, pencarian otoritas seseorang masuk kedalam suatu kelompok dengan keraguan siapa di dalam kelompok itu yang menjadi tokoh otoritas dan ingin melepaskan diri dari otoritas tersebut.

Tahap-tahap perkembangan kelompok.

a. Tahap otoritas.

· Tahap ketergantungan terhadap otoritas (tahap awal).

· Pemberontakan (tahap yang dicerminkan dengan kesesuaian para anggota).

· Pencairan (pengakuan anggota terhadap tokoh otoritas yang dianggap pantas atau sesuai).

b. Tahap pribadi.

· Tahap harmoni (sesuai dengan harapan anggota karena produktivitas tinggi).

· Tahap identitas pribadi (tekanan terhadap identitas diri anggota kelompok).

· Tahap pencairan masalah pribadi (sesama anggota saling menerima segala bentuk hal dengan anggota kelompok).

2. Teori hubungan pribadi atau FIRO-B (Fundamental Interpersonal Relation Orientation Behavior).

Schutz (dipengaruhi oleh teori psikoanalisis), 1958, kebutuhan dasar dalam hubungan antar individu dengan individu lainnya. Ada tiga macam kebutuhan dasar pada manusia mengenai kelompok, yaitu : (1) Inklusif, (2) kontrol, (3) afeksi.

Inklusif, kebutuhan untuk terlibat dan termasuk dalam kelompok. Kontrol, kebutuhan akan arahan, petunjuk, dan pedoman berperilaku dalam kelompok. Afeksi, kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian dalam kelompok.

3. Teori sintalitas kelompok.

Cattell (1948-1951), sintalitas adalah kepribadian yang khusus digunakan untuk mempelajaricara menguraikan dan mengukur sifat-sifat dan perilaku kelompok. Cattell mengemukakan bahwa eksistensi suatu kelompok dapat memenuhi kebutuhan individu jika sebuah kelompok tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan anggota-anggotanya.

3. Sikap

Diwakili oleh Chave. Bogardus, La Pierre, Mead dan Gordon W. Allport (Ahli bidang psikologi sosial dan psikologi kepribadian), sikap adalah suatu pola perilaku, tendensi atau persiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan.

Komponen Dasar Sikap :

1. Kognitif, terdiri dari seluruh kognisi yang dimiliki seseorang mengenai objek sikap tertentu, fakta, pengetahuan dan keyakinan tentang objek.

2. Afektif, terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap objek terutama penilaian.

3. Konatif (perilaku), terdiri dari persiapan seseorang untuk bereaksi atau kecenderungan untuk bertindak terhadap objek.

Fungsi Sikap :

Menurut Katz, sikap mempunyai 4 fungsi, yaitu :

1. Fungsi Instrumental atau fungsi penyesuaian atau fungsi manfaat.

2. Fungsi Pertahanan Ego.

3. Fungsi Ekspresi Nilai.

4. Fungsi Pengetahuan

Ciri Sikap :

1. Sikap tidak dibawa sejak lahir.

2. Sikap selalu berhubungan dengan objek sikap.

3. sikap dapat bertuju pada satu objek saja atau pada sekumpulan objek-objek.

4. sikap dapat berlangsung lama atau sebentar.

5. sikap mengandung faktor perasaan dan motivasi.

Determinan Sikap :

1. Faktor fisiologis.

2. Faktor pengalaman langsung terhadap objek sikap.

3. Faktor kerangka acuan.

4. Faktor komunikasi sosial.

Analisis.

Pada contoh kasus di atas yang diambil dari TOPSKOR tertanggal 18 Oktober 2006 dapat diambil beberapa kesimpulan mengenai teori kohesivitas/kepaduan, teori pembentukan kelompok, dan juga teori sikap.

Pada kohesivitas dapat dilihat pada beberapa tutur kata dari Ketua Umum Pengurus Besar GABSI, ”harus tampil prima menghadapi setiap lawan. Jangan lengah, jangan emosi dan jagalah selalu kekompakan agar meraih hasil maksimal.”(TOPSKOR, 18 Oktober 2006). Dari situ sudah nampak sedikit gejala-gejala kohesivitas/kepaduan. Tidak hanya itu saja, pada teori kohesivitas khususnya pada faktor-faktor yang meningkatkan kohesivitas dikatakan bahwa kesamaan nilai dan tujuan dan juga pada keberhasilan mencapai tujuan dapat dilihat dari pernyataan bahwa mereka akan masuk sepuluh besar walaupun tujuan itu belum ditangan mereka. Selain itu juga, ada beberapa kesimpulan lain yang dapat diambil diantaranya mengenai persaingan antar kelompok yang tersirat dalam pertandingan melawan Kanada atau dalam 27 ronde melawan tim atau kelompok lain. Setelah mereka berhasil kemungkinan mereka akan mendapatkan pengakuan dan juga penghargaan dai masyarakat indonesia GABSI khususnya.

Pada kasus di atas juga ditemukan mengenai pembentukan kelompok. Tim yang disebutkan di contoh kasus ini dinyatakan sebagai kelompok. Karena sesuai dengan mengapa orang mau memasuki suatu kelompok secara sukarela. Pada tim ini dapat dicapai pengakuan dan penghargaan pada setiap anggota tim, kegiatan kelompok ini berupa olahraga berbentuk permainan kartu, dan kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki dengan sesama anggota tim. Pada teori FIRO-B juga terdapat pada kasus ini tepatnya pada kebutuhan Inklusif (anggota tim selalu ingin terlibat dalam setiap kegiatan yang dibuat oleh tim), kebutuhan kontrol (pada setiap anggota tim memerlukan arahan dari seorang kapten, Parpar Pryatna, dan juga seorang pelatih, Ferdy Waluyan), dan Afeksi (anggota kelompok selalu saling memperhatikan satu sama lainnya).

Penutup

Saran

Sebaiknya sebelum bertanding dipersiapkan semua aspek sehingga mencapai keberhasilan agar tingkat kohesivitasnya semakin meningkat.

Rekomendasi

Diberikan penyuluhan terlebih dahulu tentang motivasi untuk meningkatkan kohesivitas/kepaduan agar semuanya membuahkan hasil yang maksimal.

April 8, 2009 Ditulis oleh prari007luck | Uncategorized | | Belum Ada Tanggapan